“Fairuz”

Renissin

23 April, 2008 · & Komentar

Jika Andrea Hirata mempunyai teman-teman masa kecil yang tergabung dalam Laskar Pelangi, maka aku pun mempunyai teman-teman masa kecil yang tergabung dalam Renissin.

Tentu saja Renissin sangat berbeda dengan Laskar Pelangi. Tak ada yang terlalu istimewa dari Renissin. Ia hanyalah sekumpulan tiga gadis cilik yang masih duduk di kelas 3 SD. Tiga gadis cilik itu adalah Reni (aku), Nissa, dan Iin.

Jika Laskar Pelangi biasa duduk-duduk di dahan filicium/pohon kerai payung, maka Renissin biasa duduk-duduk di bawah pohon beringin yang tumbuh di halaman SDN Kemujan.

Filicium milik Laskar Pelangi biasa dihinggapi Papilio blumei, Colias crocea, dan Colias myrmidone, sedangkan pohon beringin milik Renissin biasa dihinggapi ulat-ulat kecil yang (bagiku) mengerikan.

Awalnya, kami bertiga sama sekali tidak mengetahui ada ulat-ulat yang (bagiku) mengerikan itu. Ketika guru piket membunyikan lonceng tanda istirahat, kami segera keluar kelas, membeli jajan, dan mengunjungi markas kecil kami di bawah pohon beringin.

Berada di bawah pohon itu terasa sejuk dan nyaman. Kami betah berlama-lama di sana untuk sekadar mengobrol sambil menghabiskan jajan yang kami beli. Baru setelah ada seseorang di antara kami mengalami insiden mengerikan gara-gara ulat kecil yang bersemayam di pohon itu, kami menyadari bahwa kami telah salah memilih markas.

Sayangnya, Renissin hanya berumur beberapa bulan saja. Masing-masing dari kami menemukan teman dekat lain yang lebih cocok. Namun, bukan berarti kami bertiga tidak berteman lagi. Kami masih tetap berteman, hanya saja tidak mengeksklusifkan diri dalam kelompok Renissin.

Walaupun hanya seumur jagung, Renissin meninggalkan kenangan yang sangat indah di benakku. Bibirku selalu tersenyum jika aku teringat berbagai kejadian lucu yang kulewati bersama kedua temanku itu.

Tiga belas tahun lebih telah berlalu. Sekarang, aku berada di kota Jakarta. Kedua temanku, Nissa dan Iin, masih berada di sana, di sebuah desa kecil yang pernah tumbuh di atasnya sebuah pohon beringin penuh ulat. Pohon itu telah ditebang. Mantan markas Renissin telah tiada.

Semenjak lulus SD, kami memang jarang bertemu. Kami bertiga bersekolah di tiga sekolah yang berbeda. Bahkan, ketika menduduki bangku SMA, Nissa bersekolah di kota lain.

Selulus SMA, Nissa kembali. Bersama Iin, dia kuliah di sebuah sekolah tinggi ilmu kesehatan di kota kami. Mereka kembali bersama, sedangkan aku sendiri kuliah di Jakarta.

Sekarang, kudengar dari ibuku, mereka sedang mengerjakan skripsi. Masih kudengar dari ibuku, ada salah seorang di antara mereka yang sedang mengalami masalah berat dalam proses pengerjaan skripsinya. Ah, aku tak bisa membantunya selain mendoakan dia semoga bisa menghadapi masalah-masalahnya dengan kuat dan tabah.

Mungkin dia tidak akan membaca tulisan ini, tapi aku ingin menyemangati dia. Aku ingin menyemangati dia seperti dulu aku menyemangatinya untuk terus berusaha memahami isi RPAL dan rumus-rumus matematika sewaktu ujian nasional SD sudah di depan mata. (padahal waktu itu aku juga ga bisa paham-paham…)

Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah, Teman. Kudoakan engkau bisa melewati semua masalah yang engkau hadapi saat ini. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.

Teruslah berdoa dan berikhtiar untuk mendapatkan jalan keluar dari semua masalahmu. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Semangat mengerjakan skripsimu ya…! :)

Kategori: catatanku
Ditandai: , , ,