Awalnya, bertahun-tahun, hampir selalu bertiga saja di rumah. Aku, Ibu, dan Mas Ugo. Kemudian, Mas Ugo memasuki bangku SMA, meninggalkan aku dan Ibu selama beberapa hari setiap pekannya karena dia lebih suka tinggal sendiri di dekat sekolahnya daripada harus bercampur dengan adiknya yang paling manis sedunia (bukan narcis, tapi emang aku adiknya yang paling manis sedunia, suer!).
Tiga tahun kemudian, Mas Ugo semakin “menjauh” dari kami. Dia pergi ke suatu tempat bernama Jurang Mangu. Suatu tempat yang baru pertama kali kudengar saat Masku memutuskan untuk pergi ke sana. Suatu tempat yang selama bertahun-tahun kupikir letaknya di Jakarta, tapi ternyata di Tangerang.
Selama bertahun-tahun, hampir selalu berdua saja di rumah. Aku dan Ibu. Sesekali Mas Ugo datang menjenguk. Ketika lebaran tiba, kakak-kakakku yang lain ikut menjenguk. Tapi, mereka hanya menjenguk. Tak pernah berlama-lama di rumah.
Selama bertahun-tahun berdua saja dengan Ibu, tak pernah aku dimarahinya, padahal aku sering tak menuruti kata-kata Ibu, padahal aku sering tak mengerjakan apa yang Ibu minta, padahal aku sering merepotkan Ibu, padahal aku sering berbuat salah pada Ibu, padahal aku sering mengecewakan Ibu, padahal aku sering… (terlalu banyak)
Tak mengerti aku mengapa Ibu bisa sesabar itu menghadapi aku. Mengapa ada orang sesabar Ibu? Mengapa aku tak pernah dimarahinya? Mengapa ketika aku tak menuruti kata-kata Ibu, Ibu tak pernah menuntut? Mengapa ketika aku tak mengerjakan apa yang Ibu minta, Ibu malah beranjak mengerjakannya sendiri? Mengapa ketika aku sering merepotkan Ibu, meminta ini dan itu, Ibu tak pernah mengatakan tidak? Mengapa ketika aku berbuat salah, Ibu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu salah dan jangan mengulanginya? Mengapa ketika aku mengecewakan Ibu, Ibu selalu berkata tidak apa-apa? Mengapa?
Selama bertahun-tahun berdua saja dengan Ibu, aku menjadi sedikit memahaminya. Sedikit saja. Aku mulai memahami bahwa ternyata Ibu tak pandai memasak sehingga hampir setiap hari hanya menumis dan menggoreng. Aku mulai memahami bahwa ternyata Ibu sering lupa menyimpan kunci motor dan kunci lemari (yang ternyata aku turuni!). Aku mulai memahami bahwa Ibu adalah orang yang supel sehingga memiliki banyak teman (ini tidak aku turuni
).
Namun, aku masih tak mengerti banyak hal tentang Ibu. Ibu terlalu misterius. Kesabarannya seluas samudera yang tak pernah kuketahui dengan persis berapa jumlah meter perseginya. Kasihnya sepanjang jalan yang tak pernah kutemukan dimana ujungnya. Ibu sangat misterius.
Selama bertahun-tahun berdua saja dengan Ibu, membuatku tak sanggup berpisah barang beberapa hari saja dengannya. Pernah pada awal aku duduk di bangku SMA, aku mengikuti jejak Mas Ugo untuk kos di dekat sekolah. SMAku adalah SMA dimana Mas Ugo juga pernah bersekolah di sana (sekolah kami selalu sama, dari TK sampai kuliah tak pernah tak sama!). SMA ini berjarak 21 km dari rumah. Mungkin tak terlalu jauh, tapi karena berganti angkutan umum berulang kali, membuat waktu tempuh ke sekolah menjadi lama. Pertimbangan inilah yang membuatku memutuskan untuk kos.
Namun, baru sehari saja berpisah dengan Ibu, aku sudah menangis tak jelas. Dua hari berpisah, aku menangis lagi dan menjadi orang linglung. Tiga hari berpisah, aku tak sanggup lagi dan kemudian pulang.
Akhirnya, setiap tiga hari sekali aku pulang. Namun, ini hanya berlangsung sekitar dua minggu saja. Setelah dua minggu menjadi anak SMA, aku jatuh sakit. Tak masuk sekolah beberapa hari, aku kembali sehat. Aku pun kembali kos karena jika berangkat sekolah dari rumah, aku akan kelelahan di jalan. Tinggal di kos seharusnya membuat kondisi fisikku membaik karena mempunyai banyak waktu untuk beristirahat, tapi kenyataan berkata lain. Berpisah lagi dengan Ibu membuat jiwaku sakit, dan ragaku jatuh sakit lagi. Kali ini aku benar-benar sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Total aku tidak masuk sekolah karena sakitku ini adalah 22 hari.
Keluarga besarku menyalahkan Ibu atas sakitku. Aku menjadi sedih karenanya. Ibu bukan penyebab sakitku. Akulah yang tidak bisa menjaga kesehatan (selain juga karena sudah menjadi takdirku untuk sakit
). Namun, ada keuntungan yang luar biasa karena sakitku ini. Keluarga besarku melarang Ibu untuk membolehkan aku kos. Dengan kata lain, aku tidak boleh kos. (tapi abis itu, aku jadi ngrepotin Ibu banget :’( )
Lalu, Ibu tak sekedar menjadi ibu lagi, Ibu merangkap menjadi tukang ojek. Saat itu, kami hanya mempunyai satu motor di rumah yang setiap hari dipakai Ibu untuk bekerja. Setiap pagi, sebelum berangkat bekerja, Ibu mengantarku sejauh 7 km dari rumahku menuju ke pertigaan Karanganyar sehingga aku tidak perlu berulang kali berganti angkutan umum. Aku tinggal naik bis sekali saja dan sudah bisa sampai di sekolah. Setiap siang, Ibu menjemputku di tempat yang sama. Terkadang, aku terlambat pulang sekolah sehingga Ibu menunggu lama sekali di pertigaan Karanganyar. Ibu tak pernah marah meskipun aku sering terlambat pulang. Tapi, aku selalu cemberut jika Ibu terlambat menjemputku.
Selama hampir tiga tahun Ibu menjadi tukang ojek langgananku. Tak pernah dibayar dengan uang, tapi sering dibayar dengan muka cemberutku. Tak pernah mengharap ucapan terima kasih, tapi sering menerima keluhan-keluhanku karena Ibu tak mau mengebut di jalan.
Lalu, tibalah saat itu. Saat dimana aku harus berpisah lagi dengan Ibu. Aku lulus SMA dan diterima di sebuah sekolah tinggi kedinasan. Sebenarnya, saat itu aku bisa memilih untuk kuliah di tempat lain yang lokasinya lebih dekat daripada sekolah tinggi tersebut. Namun, banyak hal menjadi pertimbanganku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk memilih sekolah tinggi tersebut.
Dan, aku pun harus berpisah dengan Ibu. Kususul Mas Ugo ke Jurang Mangu (tapi, dasar Masku itu tak mau dekat-dekat dengan aku, aku menyusulnya ke Jurang Mangu, eh, dia malah pulang ke Kebumen, lalu pergi ke Palembang). Berpisah dengan Ibu, rasa sakitnya tak terkira. Aku bahkan tak pernah membayangkan akan merasakan rasa sakit yang sesakit itu. Awalnya, aku hanya bisa menangis dan menangis. Tapi, aku bukan Reni di masa SMA yang sangat cengeng dan langsung jatuh sakit setelah beberapa hari berpisah dengan ibunya. Aku adalah Reni yang lebih kuat dan lebih dewasa. Kuturuti pesan Ibu yang beliau sampaikan hampir setiap hari melalui sms dan telepon, aku harus berubah menjadi anak yang tegar.
Ibu sendirian di rumah. Terkadang aku sangat khawatir padanya. Aku takut tiba-tiba Ibu sakit dan tak ada orang yang mengetahuinya. Aku takut terjadi hal-hal yang buruk di rumah dan tak ada yang membantu Ibu. Tapi, ternyata Ibu adalah manusia yang sangat kuat fisiknya. Jarang sekali beliau sakit. Jarang sekali beliau tidak bisa mengerjakan sesuatu sendiri di rumah. Jarang sekali terjadi hal-hal buruk yang tidak dapat beliau atasi. Ibu sangat kuat.
Bertahun-tahun berpisah dengan Ibu, membuatku sadar bahwa ternyata aku adalah anak yang sangat merepotkan. Aku sangat menyusahkan. Aku terlalu banyak menuntut. Aku bandel. Aku nakal.
Hingga lulus kuliah pun, aku masih merepotkan. Aku masih sangat menyusahkan. Aku masih terlalu banyak menuntut. Aku masih bandel. Aku masih nakal.
Sudah bekerja dan berpenghasilan pun, aku masih merepotkan. Aku masih sangat menyusahkan. Aku masih terlalu banyak menuntut. Aku masih bandel. Aku masih nakal.
Tapi, mengapa? Mengapa Ibu tak pernah menganggapku seperti itu? Mengapa Ibu selalu berkata aku tidak pernah merepotkan, tidak pernah menyusahkan, tidak suka menuntut, tidak bandel, dan tidak nakal? Mengapa?
Terkadang Ibu mengirim sms dan tak langsung kubalas. Maka, beberapa puluh menit kemudian, aku mendapat sms dari operator yang memberitahukan bahwa pulsaku telah bertambah sekian rupiah. Tak ada tersangka lain selain Ibu. Sudah berulang kali kukatakan pada Ibu, tak perlu melakukan itu, tapi Ibu tak pernah berhenti melakukannya.
Terkadang aku kehabisan uang tunai dan harus mengambilnya di ATM. Lalu, ketika aku hendak mengambil uang, kulihat dulu saldo tabunganku, angka tabunganku sudah berubah, bukan berkurang, justru bertambah sekian rupiah. Tak ada tersangka lain (ada sih, kadang-kadang Mas Ugo) selain Ibu. Sudah berulang kali juga kukatakan pada Ibu, tak perlu melakukan itu, tapi Ibu juga tak pernah berhenti melakukannya.
Mengapa Ibu masih misterius? Mengapa aku masih belum memahami Ibu sepenuhnya? Mengapa?
Ada banyak hal yang beberapa hari ini terjadi dan membuatku semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya Ibuku. Apakah dia seorang manusia biasa, atau sebuah keajaiban yang Allah perlihatkan padaku?
Selasa siang, 6 Mei 2008, aku membuat tulisan “Sepi Sunyi Sendiri” di blog ini. Kutulis itu karena aku merasa sedih ditinggal Ibu, Mas Ugo dan Mas Iin. Mereka tak lagi menggunakan provider kartu seluler yang sama denganku, Surya. Mereka mengikuti jejak kakak-kakakku yang lain memakai Empati. Tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan keinginan untuk menemaniku lagi, bahkan Ibu juga tidak. Aku merasa sangat sedih, dan kulampiaskan kesedihanku lewat tulisan.
Malam harinya, Ibu tiba-tiba meneleponku. Meneleponku menggunakan nomor lamanya, nomor Suryanya. “Ibu membeli ponsel lagi, Ren. Ibu sekarang memakai dua ponsel, mempunyai dua nomor. Sekarang Ibu sudah bisa sering menelepon Reni lagi, hehe…”
Subhanallah…
Apa Ibu membaca blogku? Tidak mungkin.
Allah mengabulkan permohonanku begitu cepat…
Rabu siang, 7 Mei 2008, aku begitu merindukan Ibu. Aku tiba-tiba merasa sangat khawatir pada beliau. Kupasang tag message di gtalkku: “Mother, how are you today?”. Lalu, aku mulai menulis sesuatu tentang Ibu yang kuniatkan akan kuposting di blog ini (ya tulisan ini, paragraf-paragraf atas). Namun, ada tugas yang harus kukerjakan sehingga aku menghentikan kegiatan menulisku. Hingga menjelang pulang, tugas itu baru selesai.
Aku sudah hendak beranjak pulang, tapi tiba-tiba aku ingin meneruskan tulisanku tentang Ibu. Aku sangat merindukan Ibu saat itu. Amat sangat merindukannya. Aku ingin menyelesaikan tulisanku dan mempostingnya hari itu juga. Aku tak jadi pulang dan kembali menulis. Namun, hingga adzan mahrib berkumandang, tulisan itu belum selesai juga. Bahkan masih jauh dari yang aku harapkan. Kuputuskan berhenti menulis dan pulang. Sekitar pukul 18.30 waktu Gedung E, aku pulang.
Saat aku berada di jalan, aku masih memikirkan Ibu. Aku ingin pulang ke Kebumen dan melihatnya. Tapi, aku tahu tak bisa melakukan itu dalam jangka waktu dekat. Aku sedih dan menangis. Sambil terisak, kusebut Ibu berulang kali. Langit Jakarta pun ikut sedih. Dia sangat gelap. Dia menumpahkan air hujannya. Air hujannya menggenangi jalanan Jakarta dan mengakibatkan kemacetan yang parah. Aku semakin sedih… Semakin menangis…
Kusempatkan mampir ke SPBU di Cililitan karena Rio hampir kehabisan bahan bakar. Sembari menunggu petugas SPBU menuangkan bahan bakar ke dalam tubuh Rio, aku melihat ponselku. Ada dua panggilan tak terjawab dan dua sms. Panggilan tak terjawab itu berasal dari Ibu Surya. Aku tak langsung menelepon balik Ibu. Rio kembali kunaiki dan aku kuteruskan perjalananku. Tak berapa lama kemudian, aku sampai di rumah.
Belum sempat kulepas helmku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ibu Surya…
(percakapan asli menggunakan bahasa Jawa)
“Assalamu’alaykum,” ucapku.
“Wa’alaykumsalam. Ren, baru pulang ya? Tadi Ibu menelepon kok ga diangkat? Masih di jalan, ya?”
“Halo, Bu. Ga jelas suaranya…” (ga jelas kok aku tahu apa yang Ibu katakan??? hanya mengira-ngira saja…
)
“Ren, besok tanggal 19, Reni libur ya? Berarti Reni liburnya panjang. Reni pulang bisa ga?”
“Wah, ga libur, Bu. Ga pulang. Lagian, sekarang lagi mau ngirit uang, kan Reni mau buka rekening di dua bank. Pengen pulang sih, tapi ga bisa pulang, Bu.”
“Reni pulang aja. Hari Jumatnya, tanggal 16-nya. Ga papa, ntar Ibu yang beli tiketnya.”
“Ga mau, Bu. Reni kan udah bilang, ga mau minta uang ke Ibu. Pulangnya ntar aja kalo udah ada uang lebih.”
“Reni pulang aja, jangan mikirin masalah tiket. Pulang pergi pokoknya Ibu yang beli.”
“Ga mau…”
“Ga papa…”
“Ga mau, Bu. Ga mau minta uang…”
“Ga papa. Ibu kangen sama Reni. Pengen ketemu, pengen lihat Reni…”
“Apa?” aku tertegun. Jarang sekali Ibu mengatakan rindu padaku dan ingin bertemu. Jarang sekali. Ibu terlampau kuat… Dan sekarang, ketika Ibu ingin bertemu denganku, bagaimana mungkin aku menolaknya?
“Ibu yang pengen lihat Reni, tolong Reni pulang ya… Ibu udah bilang ke Mba Yayut, tadi udah diijinin.”
“Iya, Bu.”
“Iya lho, ya? Pokoknya Ibu yang beli tiketnya. Ya udah, assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumsalam.”
Aku terpana.
Subhanallah…
Ibu adalah sebuah keajaiban yang Allah perlihatkan padaku. Postinganku tentang Ibu ini bahkan belum ada di blog ini. Bagaimana Ibu bisa tahu bahwa aku sangat ingin pulang dan melihat wajahnya?
Aku sedih, bahagia, khawatir, rindu, tak sabar, terkejut, tak percaya, dan lain-lain…
Setelah mandi dan makan, sembari menemani keponakanku belajar, aku iseng mengirim sms kepada Ibu. Isinya adalah pesan yang tak pernah bosan-bosannya kusampaikan kepada Ibu.
Bu, aja kesupen ngunjuk air putih 8 glas shri, sikat gigi sdurunge sare, akeh dhahar buah, karo ngunjuk susu.
Delivered to:
Ibu Surya
0858xxxxxxxx
Date and tme:
7-May-2008
20:51:14
Biasanya pada pukul 21.00 waktu Cililitan, aku sudah sangat mengantuk. Tapi, hari Rabu ini, 7 Mei 2008 ini, aku tak mau mengantuk. Kunyalakan komputer dan kuteruskan tulisanku tentang Ibu. Aku sangat merindukannya dan ingin menulis tentangnya. (jadilah tulisan ini)
(Dan ternyata, sekarang sudah bukan hari Rabu lagi…
)
Sebuah lagu dari Maywood berjudul “Mother, how are you today?”, buat Ibu tercinta…
Mother, how are you today? (baek-baek aja, kan?)
Here is a note from your daughter (Renol Saptatol Dwi Iswarol, kata Ibu)
With me everything is ok (alhamdulillah, semuanya oke…
)
Mother, how are you today?
Mother, don’t worry, I’m fine (jangan khawatir, Bu! Reni udah jadi anak tegar! kayaknya sih… B-) )
Promise to see you this summer (tanggal 17 Juni itu summer bukan, sih???)
This time there will be no delay (Insya Allah)
Mother, how are you today?
I found the man of my dreams (yah, yang ini mah minta doanya aja semoga cepet nemu)
Next time you will get to know him (kapan ya???)
Many things happened while I was away (buanyaaaaaaaak banget, Bu)
Mother, how are you today? (
)
Selama bertahun-tahun, keajaiban itu berlangsung di depan mataku…
Maafkan Reni yang tak menyadarinya…
Maafkan Reni yang sudah banyak merepotkan, menyusahkan, menuntut, bandel, dan nakal… Semoga Allah mengampuni seluruh dosa dan kesalahan Reni…
I love you, Mom…
NB:
Buat Pandu: Sekarang tahu kan kenapa aku mempunyai impian terbesar menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak?
Buat Adek Arif: Makasih buanget atas “mother how r u 2day”nya… Sungguh! Makasih banget ya, Dek! ![]()

