Reni melabrak orang???
Iya, aku melabrak orang, di kantor, seniorku pula.
Eit, Anda jangan membayangkan ada seorang gadis sedang berkacak pinggang, matanya merah menyala, memarahi seorang yang lebih tua darinya, sambil sesekali menunjuk-nunjuk mukanya, memasang nada suara tinggi, dan mengeraskan volumenya pula. Bukan, bukan seperti itu. Tak bisa aku melakukan itu. Bahkan terhadap Mas Ugo pun, orang yang paling menyebalkan sedunia (versiku, lho
, tapi dia juga kakak paling baik sedunia kok), aku tak bisa aku melakukan itu, meskipun dia sudah melakukan hal yang sangat menyebalkan, yang amat sangat menyebalkan sekali pun. Aku melabrak orang itu dengan gayaku. (emang seperti apa sih gayaku?)
Tak pernah ada kata “melabrak orang” dalam kamus hidupku (mungkin ada, tapi aku ga nyadar
). Namun, kali ini aku dengan amat sangat terpaksa menulis kata “melabrak orang” dalam kamus Reni. “Melabrak orang” dengan gayaku. Orang ini sudah sangat keterlaluan. Dia telah mencemarkan nama baik teman-temanku. Ini sudah untuk ke sekian kalinya dia melakukan pencemaran nama baik itu. Aku tidak terima! Aku tidak terima! Aku akan menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan di muka bumi ini!!! (halah halah!)
Apa sih yang orang itu lakukan? Ah, sudahlah, tak perlu dibahas. (padahal buat Anda mungkin ini poin yang paling penting)
Dengan tatapan dingin, tanpa senyum, kuangkat sedikit suaraku, “Anda jangan melakukan pencemaran nama baik ini lagi. Anda sudah sangat keterlaluan. Anda tidak berhak melakukan ini semua kepada teman saya. Jika Anda tetap ingin melakukan itu, Anda jangan duduk di situ lagi. Perbuatan yang Anda lakukan adalah suatu hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Itu bukan bercanda, itu adalah mencemarkan nama baik. Anda sudah membuat beberapa teman saya ketakutan. Anda sudah sangat keterlaluan. Jangan lakukan itu lagi. Anda tidak berhak melakukan itu. Maaf jika saya agak kasar.”
Bagiku itu adalah “melabrak”. Tak tahu bagi kalian.
Astaghfirullah, aku melabrak orang…

