“Fairuz”

Marah

21 Mei, 2008 · & Komentar

Ini adalah sebuah nasihat untuk diriku sendiri…

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata: Si Fulan marah kepada si Fulanah berilah saya wasiat. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah, (kemudian) orang itu mengulangi perkataannya beberapa kali. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah).

Kemarahan seseorang merupakan bentuk respon atas sesuatu hal yang baru ia alami. Mungkin dia baru mengalami kekecewaan, frustasi atau ketidakbahagiaan. Jarang kan kita melihat ada seorang yang sedang mengalami kepuasan atau kebahagiaan atas suatu hal tahu-tahu mengeluarkan respon berupa kemarahan? :)

Setahuku, cara terbaik untuk mengobati kemarahan adalah dengan menundanya. Bagaimana cara menundanya?

Bila kita mulai merasakan kemarahan, maka hendaklah membaca ta’awudz. Perasaan marah yang tidak terkendali sebenarnya adalah dorongan setan, maka mintalah perlindungan kepada Allah terhadap godaan setan (yang terkutuk) tersebut. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antaramu marah maka katakanlah : ‘Aku berlindung kepada Allah’, maka marahnya akan menjadi reda”. (HR. Abi Dunya).

Selanjutnya, bila kita sedang marah maka berusahalah untuk diam, jangan terlalu banyak bicara, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Apabila salah seorang di antara kamu marah maka diamlah.” (HR. Ahmad).

Jika kita sedang marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika setelah duduk pun kita masih merasakan kemarahan, maka berbaringlah. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Marah itu dari setan, maka apabila salah seorang di antaramu marah dalam keadaan berdiri duduklah, dan apabila dalam keadaan duduk maka berbaringlah.” (HR Asy-Syaikhany).

Jika kita sudah melakukan berbagai hal di atas, tetapi ternyata kemarahan itu masih menguasai diri kita, maka segeralah berwudhu atau mandi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Dan api hanya bisa dipadamkan oleh air. Oleh karena itu, apabila seorang di antaramu marah maka berwudhulah atau mandilah.” (HR. Ibnu Asakir, Mauquf).

Aku marah-marah (lagi).
Akhir-akhir ini, emosiku kurang terkendali. Dua minggu yang lalu, aku melabrak orang. Dan beberapa hari yang lalu, aku memarahi orang, tidak hanya satu, tapi dua orang…
Tanpa bertabayun terlebih dahulu kepada mereka atas suatu hal yang terjadi, aku langsung marah-marah.
Tidak… astaghfirullah, ampuni aku ya Allah.

Maafkan aku ya, Teman. Semoga kalian bisa memaafkanku, benar-benar memaafkanku.
m(^_^)m

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai: ,

2 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar