Friendship…
Is a promise made in the heart…
Silent…
Unwritten…
Unbreakable by distance…
Unchangeable by time…
Once a friend…
Forever a friend…
Aku (merasa) termasuk orang yang sangat menghargai persahabatan. Jika aku merasa seseorang sudah menjadi teman baikku, sahabatku, maka aku akan berusaha menjaga sebaik-baiknya persahabatanku dengannya. Kalau bisa, sekali dia menjadi sahabatku, maka selamanya dia tetap akan menjadi sahabatku. Insya Allah.
Kepada para sahabatku, aku sering mengungkapkan bagaimana perasaanku kepada mereka.
Sewaktu SMA, kepada How, Indri, Eka (dan masih banyak lagi), aku sering sekali berkata, “I love you…”
Lalu mereka menjawab, “I love you too…”
Masih belum puas, aku akan berkata lagi, “Aku akan selalu di sini untukmu…”
“Kau selalu di hatiku…” mereka tak mau kalah.
Sewaktu kuliah, kepada para teman kosku, aku sering berkata, “Aku mencintaimu…”
Macam-macam jawabannya. Tomi akan berkata, “Aku juga mencintaimu, Reni sayang.”
Siti akan berkata, “Mba? Mba, masih ingin menikah dengan laki-laki kan?” (enak aja, ya iyalah!)
Lala akan berteriak, “Tidaaaak…”
Riris, dan Midah hanya akan melihatku sambil mengerutkan kening. Tapi, aku tahu di dalam hati, mereka berkata, “Wah, Mba Reni mencintaiku. Bahagianya aku…”
Di tempat kerja, kepada Fifi, aku pernah berkata, “Aishiteru.”
Dia hanya diam. Ternyata diamnya karena tidak mendengar apa yang baru saja aku katakan. Dia tidak ngeh. Ah, dasar Fifi. Kalau sudah konsen di depan komputer, dia tak menyadari lingkungan sekitarnya.
Jika kurayu dia, “Fi, aku akan selalu berada di dekatmu, di sisimu, di sampingmu…”, Fifi akan menjawab, “Apaan sih, Ren? Jijik, deh.”
Yah, memang di mana lagi aku kalau bukan di dekatmu, di sisimu, di sampingmu? Meja kerjaku kan di samping mejamu? Aku suruh berada di mana kalau tidak di situ?
Yah, Fifi memang tidak romantis. Tapi, tenang, Fi, aku tahu kau mencintaiku.
Lain ke Fifi, lain pula ke Nur.
“Jangan takut menyeberang jalan, Nur. Aku kan selalu berada di sisimu…” ungkapku suatu hari.
(Kenyataannya, aku jarang berada di sisinya… Maaf ya, Nur.)
“Nur, jika ada apa-apa, bilang aja ke aku, aku selalu disini untukmu.” kirimku suatu waktu lewat sms.
(Ya memang aku akan di mana lagi? Ya di sini-sini saja, lah.)
Nur malah tiba-tiba menyarankan aku untuk minum susu. Apa hubungannya, Nur? Ooo, dia pikir aku sedang melo karena PMS.
Kepada Rio, motorku, selalu kukatakan padanya betapa aku mencintainya. Dia akan menjawab dengan penuh semangat, “Mbreemm, mbreem…(sama Bos! aku akan selalu setia pada Bos, menemani Bos kemana pun Bos pergi.)”
Bahkan, kepada sahabatku yang telah pergi mendahuluiku meninggalkan dunia ini (hiks, jadi sedih), aku pun masih mengungkapkan perasaan sayangku padanya. “Fume, aku menyayangimu.”
Dulu Fume masih bisa menjawab, “Meong meong… (kula tresna marang Bos)”
Tapi, sekarang, dia sudah pergi, hiks… meninggalkan dunia ini, hiks… Aku hanya bisa terngiang-ngiang dengan suara mengeongnya, hiks…
(Yah, Reni sok sedih ni. Padahal, wajah Fume saja dia sudah lupa, suaranya apalagi.)
Wah, senangnya cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Yah, inilah enaknya mencintai sahabat. Tak bertepuk sebelah tangan.
Gara-gara kebiasaanku sering mengucap kata cinta kepada para sahabatku (yang mayoritas adalah teman perempuan tentu saja), aku pernah dipikir menderita “kelainan” oleh teman-teman SMAku. Mereka pikir aku adalah seorang lesbian. What? Aku masih normal, lho. Aku masih ingin menikah dengan laki-laki, lho. Jangan salah, ya.
Memang sih, dulu aku dan teman SMAku How sangat dekat. Kemana-mana kami sering berdua, di kelas sering berdua, ke kantin berdua, ke toilet berdua (masuk ke toiletnya tapi sendiri lah), bergandengan tangan pula, sering saling memandang penuh rasa sayang pula, dan lidah kami mudah sekali meluncurkan kata “I love you…”
Apakah kami seperti sepasang kekasih? Silakan Anda menilai sendiri. ![]()
Tapi, kami berdua masih normal. Kutegaskan sekali lagi, kami normal.
Meski aku dan para sahabatku sudah memiliki dunia sendiri-sendiri, kami berusaha untuk masih saling mengingat. Hingga sekarang pun, para sahabatku di masa yang lampau (yang di masa sekarang pun mereka tentu saja masih berstatus sebagai sahabatku, yang ratusan kilometer jaraknya terpisah dari aku, yang sudah jarang sekali bisa kutemui) masih menjalin komunikasi denganku, meski tak terlalu intens.
Terkadang mereka mengirim sms, terkadang menelepon sebentar, terkadang hanya “miskol”. (memang kami fakir miskol… )
Kebetulan (tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Ren), para sahabatku itu juga orang-orang yang menghargai persahabatan. Apa buktinya? Buktinya sih ada di hati mereka, tak bisa dilihat. Tetapi, mungkin bisa dilihat sedikit, diintip dari sms yang kadang mereka kirim kepadaku. Misal:
Tman, q mw km tau..
kLo..
Kmewahan tu ibarat c0s 90=0
(tak b’niLai)
khidupn tu barat siN 90=1
(cm 1x)
n
p’sahbtn tu ibrart tan90=~
(tak t’hngga)
Ada juga sms lain:
IF y0u aSk mE “For h0w Lon9 I’LL youR Fr!enD?”
mY aNswEr w!LL Say “I d0n’T Kn0w cuz I rEaLLy d0n’T Kn0w wH!cH 0nE !s
LoN9er,,FOREVER,,o ALWAYS,,”
Atau yang lain lagi:
BJuR sn9kR dA 4, ti2k
sEgi3 da 3 ti2k
gRs LrUs da 2 ti2k
tPi,,
aQ pNgEn,,
pRsHBTn qT sPt LiNgkArAn,,
kM tW kNp??
KrN tAk pRnH ad ti2k aKhRnY
Dan masih banyak sms lainnya yang intinya sama: kami akan selalu berusaha menjaga persahabatan ini.
Wah, senangnya hatiku. Tak sia-sia dulu aku mengucap ratusan kata cinta dan mengeluarkan rayuan gombal berulang kali. Mereka ternyata mempercayainya. Aku memang sering mengeluarkan rayuan gombal. Aku punya senjata maut.
“Aku akan berusaha memahamimu. Aku akan berusaha mengerti dirimu sepenuhnya. Aku akan selalu di sini untukmu, meski kau tak membutuhkanku lagi. Aku mencintaimu.”
(Senjata maut ini aku dapat dari ajaran Ibu dan lagu I’m Gonna Be Around milik MLTR. Ibu adalah sahabat terbaikku. Ibu selalu berusaha memahamiku, mengerti diriku sepenuhnya, selalu ada untukku, dan mencintaiku. Lalu, lagu itu, I’m Gonna Be Around,adalah lagu yang sering dijejelkan Mas Ugo kepadaku sewaktu aku kecil, eh remaja.)
Gombal, gombal, super gombal. Tapi, mereka menjadi “klepek-klepek” tuh mendengar rayuanku.
Parahnya, rayuan itu sering sekali kulontarkan kepada para sahabatku, padahal aku juga tidak yakin akan bisa memenuhi janjiku atau tidak. Yah, dasar Reni. Sekarang, ketika aku masih sendiri, masih bebas, masih tak terikat, dan masih belum ada yang terlalu membutuhkanku 24 jam (baca: anak dan suami), aku mungkin masih bisa berusaha memenuhi janjiku. Bagaimana nanti kalau aku sudah menikah dan punya anak? Akankah aku bisa memenuhi janjiku? Jangan-jangan mereka menagih janjiku untuk selalu ada untuk mereka kapanpun. Suamiku keberatan tidak ya?
Semoga, para sahabatku mengerti bahwa setelah hari pernikahanku, aku tak bisa selalu ada untuk mereka. Mereka tidak akan kunomorsatukan, tapi akan kunomorsekiankan. Aku akan lebih fokus kepada suami dan anak-anakku. Aku sudah tidak akan bisa mengatakan dengan ringan: “Aku akan berusaha memahamimu. Aku akan berusaha mengerti dirimu sepenuhnya. Aku akan selalu di sini untukmu, meski kau tak membutuhkanku lagi. Aku mencintaimu.”
Itu adalah perkataan yang sangat berat. Aku harus berhati-hati ketika mengucapkannya, kurasa.
Persahabatan.
Indah.
Ah, jadi kangen dengan para sahabatku yang sekarang berada nun jauh di sana…
(Jadi pengen ikut-ikutan Fifi, nih, yang bikin postingan I’m Gonna Be Around. Maaf ya Fi, rada nyontek postinganmu ni, hihi… )
It’s been so long since we took the time (so long… )
To share us, from deep inside us (biasanya kalian sih curhat cowo, aku sih bukan)
We’re in our own world spinning our wheels (asal bukan “dunia lain”)
But you know how I feel (kalian tahu kan? aku sayaaaaaang ma kalian)
Since the first time I took your hand (sampe dibilang kembar siam, dempet di tangan)
My love for you has just been growing (tumbuh, tambah cinta dan semakin tambah cinta… )
You always seem to understand (ga “seem” doang kan? emang ngerti sepenuhnya kan?)
You know how I am (dulu, Reni itu = ceroboh, pelupa, tidak konsisten, “lamban”, dll; sekarang, Reni itu= idem)
I’m gonna love you til the end (“til the end”? waduh, berat!)
I’m gonna be your very true friend (very true friend!)
I wanna share your ups and downs (aku pengen gitu)
I’m gonna be around (pokoknya di sekitar kalian lah, di sini-sini aja)
When you’re alone cause I’m away (aku juga alone sebenarnya, lho)
Don’t be sad, don’t be afraid (emang ngapain takut ma sedih? cuma ditinggal Reni)
I’m gonna turn my thoughts to you (insya Allah; tapi, mpe aku nikah aja ding, ga mo janji muluk, ah)
Like I always do (emang biasanya aku gitu ya?)
I’m gonna love you til the end (udah aku bilang berat ya berat!)
I’m gonna be your very true friend (insya Allah)
I wanna share your ups and downs (insya Allah)
I’m gonna be arround (insya Allah)
Catch you when you fall (berapa berat badan kalian???)
Hold you when you’re down (wah, jangan-jangan aku ikut down)
Sharing every moment (“every moment”? beneran nih “every”?)
I wanna show you all I do (ga “all” lah, masa “all”?)
I believe I’ve found a miracle in you (I believe!)
I’m gonna love you til the end
I’m gonna be your very true friend
Buat para sahabatku, terimalah seranganku, ini dia senjata mautku:
“Aku akan berusaha memahamimu. Aku akan berusaha mengerti dirimu sepenuhnya. Aku akan selalu di sini untukmu, meski kau tak membutuhkanku lagi. Aku mencintaimu.”
Ada sebuah pertanyaan, mengapa harus menggunakan kata “mencintai” bukan “menyayangi”. Banyak orang berkata bahwa cinta itu berbeda dengan sayang. Namun, aku yang “lamban” ini tidak bisa membedakannya, bagiku, cinta=sayang=dari hati. ![]()
Yah, dasar Reni.
Itu tulus dari hati, insya Allah. Memang agak gombal dan lebay sih. Maklumi saja lah, namanya juga Reni.
(BTW, sudah berapa orang ya yang pernah aku kasih rayuan gombal itu? Wah, banyak ternyata. Wah, jangan-jangan aku ada bakat jadi playgirl ni.
)


10 tanggapan so far ↓
Farijs van Java // 24 Mei, 2008 pada 2:05 pm |
bukannya “fakir miskol”, tapi malah “kaya miskol”# fakir pulsa baru…
(^_^)v
kl sms ttg persahabatan, aku jg dapet:
“Persahabatan itu seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata menangis. Saat mata menangis, tangan menghapusnya.”
(^_^)v
yaelah, mbak. jangan ngikut2 aku yg berbakat playboy, dong. hwehehe….
(^_^)v
fairuzdarin // 25 Mei, 2008 pada 12:14 pm |
-> Farijs:
Siapa yang ngikut Feris jadi playboy, eh playgirl??? Aku ini setia# Kayaknya sih…
yuyud // 25 Mei, 2008 pada 8:17 pm |
asyik bget tulisannya.gw bnr2 terkesan.pcar bagai pelangi yg dtg membawa ssuatu yg indh & kan prgi seiring wktu.tp shbt bgai bln walau tak seindh pelangi.tp ia sllu mngelilingimu & takan prgi dari sisimu.
Hemmm… « “Fairuz” // 26 Mei, 2008 pada 4:32 pm |
[...] http://fairuzdarin.wordpress.com/2008/05/23/sahabat/ [...]
Tuxedo // 29 Mei, 2008 pada 11:47 am |
Reni, Indahnya punya sahabat. Diantara mereka mungkin ada yang sangat berkesan bagi Reni. Tentu masing-masing memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Mungkin diantara mereka ada yang telah berhasil merubah pola pikir Reni ketika beranjak dewasa. Mereka telah menjadi milestone atau ibarat batu petunjuk jalan agar kita tidak tersesat. Ketika kita mulai merasa kehilangan langkah, mungkin ada baiknya
menghubungi mereka lagi meski sekadar untuk meminta nasihat.
Cinta itu universal, ga hanya melulu dengan lawan jenis. Cinta bukan virus karena cinta sendiri adalah sahabat. Tidak ada yang salah pada cinta, yang salah adalah kepentingan akan cinta:)
-> fairuzdarin : oke, tidak ada yang salah dengan cinta, yang salah adalah kepentingan akan cinta…
Samsul Arifin // 11 Januari, 2009 pada 4:49 am |
Reni, tolong jangan katakan kalimat mautmu di atas padaku. Aku mohon. Btw persahabatan memang indah.
fairuzdarin: kenapa jangan, Pin? katakan alasannya dengan jelas, Pin. katakan padaku. katakan, kenapa jangan? kenapa, Pin? kumohon katakan, kenapa?
halah halah, lagi ngopo to aku iki?
lho, jangan takut gitu, Pin. just kidding, kok..
hanif // 11 Januari, 2009 pada 8:54 pm |
MLTR…kenangan itu kembali muncul. Ah sayang VCD Playerku sudah rusak. Kaset CD-nya juga ngilang kemana.
Untung kamu g tahu no Hp-ku ya Ren, aman-aman. Dia ga tahu he he he. Emang siapa dia ya??? (g ada kali Bud)
fairuzdarin: kenangan sama siapa hayo, Bud… nah lho, ngaku hayo…
kenapa sih pada takut aku kirimin kalimat itu?
lagian, siapa yang mau ngirimin kalian berdua, ha?
kalian berdua (kamu dan Ipin) udah ke-GR-an, tuh…
dia itu siapa, Bud? udah melempar isu dilarang ga dibahas…
ayo katakan siapa diaaa!!!
*galak mode: on*
Samsul Arifin // 13 Januari, 2009 pada 4:21 am |
Ada apa-ada apa ini?! Kok namaku dibawa-bawa? Kayaknya aku tahu yang dimaksud budi dengan ‘dia’ deh. Kalau ga salah sih penjual nasi kuning dekat kos. Ya kan, bud?
fairuzdarin: ada apa ni, Bud? tuh si Ipin nanyain…
ga ada apa-apa kok, Pin. ini hanya obrolan dua orang sahabatmu…
waduh, denger kata sahabat kok jadi blingsatan gitu, Pin? tenang, Pin… kami ga akan mengirimimu kalimat maut… tenang-tenang…
penjual nasi kuning? hemmm…
o ow… Budi ketahuan… *pake nada lagu “ketahuan”*
hanif // 13 Januari, 2009 pada 11:37 pm |
Ihh bukan. Penjual nasi kuning kan bekasnya Ipin. Aku mah ga mau bekas dia mah…eh penjual nasi kuning yang mana? Ah Ipin aneh. Sudah mulai suka menghayal dan membuat tokoh imajinasi.
fairuzdarin: bukan dia.. bukanlah dia.. *pake nada lagu ‘bukan dia’nya helena*
haaa? bekasnya Ipin? ga nyangka.. ak kira selama ini Ipin ga bisa berpaling sedikit pun dari **s..
tapi, ternyata..
Samsul Arifin // 14 Januari, 2009 pada 9:06 am |
Haduh, kok kayaknya semua orang sudah tau **** yah? Apa semua ini karena internet? Hebat sekali pengaruh internet ini, sampai-sampai kehidupan pribadiku pun terkuak dengan mudah dan cepat.

fairuzdarin: ga semuanya kok, Pin.
dan semua itu bukan karena internet.
tentu itu karena dirimu…
kan Ipin yang mulai memperkenalkan dia, jadi kenapa harus cemas?