“Fairuz”

90 Km/Jam

28 Mei, 2008 · & Komentar

Beberapa minggu terakhir, aku sering “datang kesiangan” ke kantor. Sebelumnya, aku sering sudah berada di kantor sebelum pukul 06.20 waktu gedung E (sekarang namanya berubah menjadi gedung Djuanda I) kompleks Departemen Keuangan Wahidin, paling siang pukul 06.30 lah. Namun, beberapa minggu terakhir ini, justru pukul 06.30 itu berubah status menjadi “paling pagi”.

Mengapa bisa begitu? Yah, ini karena aku “berangkat kesiangan” (“berangkat kesiangan”ku ini kayaknya sih masih berstatus “berangkat kepagian” bagi orang lain). Mengapa bisa “berangkat kesiangan”? Yah, banyak jawaban, mulai dari “bangun kesiangan” (lagi-lagi ini mungkin masih berstatus “bangun kepagian” bagi orang lain), belum menyetrika baju, kelamaan “nongkrong” (akhir-akhir ini siklus pencernaanku kurang baik :( ), berubahnya Rio, dan masih banyak lainnya.

Tidak hanya mengecewakan Fifi, Siko, dan Pak Tobing atas “kesiangan”ku ini (mereka kecewa ga sih ma aku? biasanya sih mereka lebih siang dari aku… ), aku juga sudah mengecewakan Rio. Selama beberapa minggu ini, dia tidak bisa menikmati “90 km/jam”.

Karena aku “berangkat kesiangan”, aku tidak bisa mengendarai Rio pada kecepatan 90 km/jam atau lebih. Kecepatan itu memang tidak terlalu istimewa, tidak tergolong “ngebut”, tapi untuk menikmati kecepatan mengendarai motor pada kisaran angka itu di jalan raya Jakarta yang mempunyai persimpangan dimana-mana, yang mempunyai lampu merah dimana-mana, yang selalu padat dengan kendaraan bermotor dimana-mana, bagiku adalah hal yang cukup sulit.

Di jalan raya Kebumen, aku bisa memasang angka itu pada speedometer motorku kapanpun, bisa pagi, bisa siang, bisa sore, bisa pukul 06.00 WIB, bisa pukul 07.00 WIB, bisa pukul 17.00 WIB, tapi di jalan raya Jakarta, aku tidak bisa memasangnya setiap waktu. Jalan raya Jakarta hampir selalu ramai, padat, padat merayap, bahkan macet, macet, dan macet. Aku yang tidak punya bakat pembalap ini mana berani memasang angka 90 km/jam pada saat jalanan sedang padat bahkan macet.

Sebelum aku mengalami “berangkat kesiangan”, aku masih bisa membawa Rio menikmati 90 km/jamnya dengan bebas. Tapi, beberapa minggu ini, Rio terus cemberut padaku, aku selalu “berangkat kesiangan”, dia tidak bisa menikmati 90 km/jamnya. Paling, aku hanya membawanya pada 80 km/jam. Dia menjadi cemberut, sedih, mungkin agak marah padaku. (berlebihan banget, Ren… emang motor bisa gitu, ya??)
“Mbreem mbreem… (berangkat rada pagian dong, Bos, kayak dulu)” begitu usulnya padaku.

Dan, tadi pagi, aku berusaha memenuhi keinginannya. Aku berangkat “pagi”, seperti dulu, tidak “kesiangan” lagi. Pukul 05.40 waktu Cililitan, aku sudah siap berangkat. Sebelum berangkat, aku bersihkan Rio dan helmku. Kusempatkan mampir sebentar ke warung makanan di dekat rumah untuk membeli kue buatku dan teman-teman kantor sarapan pagi.

“Kau sudah siap menikmati 90 km/jammu, Ri?” tanyaku pada Rio sembari bersiap-siap mengendarainya. Dia diam saja. (ya iyalah diam, emang motor bisa ngomong?)

Lalu, aku pun berangkat ke kantor. Jalanan sudah agak ramai, tapi tak seramai yang kurasakan beberapa minggu terakhir ini. Kulewati Dewi Sartika dan Otista dengan kecepatan di bawah 70 km/jam. Lalu, mulailah kumelaju di Matraman Raya, Salemba Raya dan Kramat Raya, serta beberapa kali menyentuh angka 90 km/jam.

Tak ada setengah jam perjalanan, aku sudah sampai di basement gedung E, eh gedung Djuanda I. Aku dan Rio tersenyum senang. Kami baru saja kembali menikmati 90 km/jam. Ah, senangnya… Sudah lama sekali tidak menikmatinya.

90 km/jam… :)

Kategori: catatanku
Ditandai: , ,

4 tanggapan so far ↓

  • Farijs van Java // 29 Mei, 2008 pada 8:52 am | Balas

    ngebut banget….

    (^_^)v

  • fauziah85 // 30 Mei, 2008 pada 7:27 am | Balas

    Serem Ren… Kalo dibonceng sih biasa, tapi kalo nyetir sendiri jadi terasa beda. Aku yang baru belajar ini masih menganggap kecepatan 40 km/jam aja udah ngebut banget :D

  • fairuzdarin // 30 Mei, 2008 pada 11:11 am | Balas

    -> Farijs:
    Ngebut? Segitu ngebut, ya? Yah, beginilah kalo jadi penggemar MotoGP, 90 km/jam mah masih dianggap merangkak…

    -> fauziah85:
    Ga serem sama sekali kok, Nur. Kalo dibonceng malah ga biasa. Kalo nyetir sendiri malah biasa. Cobain aja. :mrgreen:

  • makhfud // 3 Juni, 2008 pada 7:48 pm | Balas

    Ah… baru 90 km/jam. Itu mah biasa. Apalagi semenjak BBM naik, itung2 buat ngirit bensin aku sih biasa tarik cepek. Trus kalo tambah siang mah tambah ditarik, ditambah tuh mot bru serpis. Wah, ngibrit dech….
    Tapi ini hanya kalo sendiri, gak kl lg nggonceng orang.

    fairuzdarin : wah, cepek? di jakarta yang jalannya selalu rame? wah, belum pernah tuh. belom berani juga deh kayaknya… :)

Tinggalkan sebuah Komentar