“Fairuz”

Masukan dari Juni 2008

Rumah Mewah

27 Juni, 2008 · & Komentar

Aku sedang merindukannya.
Rumah kecil tapi mewah (mepet sawah).
Di halamannya ada pohon nangka yang hingga terakhir kali kulihat setahuku belum pernah berbuah.
Ataukah sekarang sudah berbuah???

Oh, rumah mewah, apa kabar dirimu?
Masihkah kau ingat aku?
Aku adalah pemilikmu. (ye, ngaku-ngaku… )
Akulah yang dulu selalu menyapu dan mengepel lantaimu sehingga kau terlihat bersih selalu. (bersih kataku, kurang bersih kata yang lain :mrgreen: )

Sudah berbulan-bulan aku tak bersua denganmu. (belum ada dua bulan, sih)
Tahukah kau bahwa aku sedang sangat merindukanmu?
Ingin tanganku mengetok-ngetok pintumu.
Sudah tak sabar kakiku ingin menginjak-injak lantaimu.

Oh, rumah mewah,
Aku tahu kau sudah tak sabar menunggu kedatanganku.
Jangan resah jangan gelisah, kita Insya Allah akan segera bertemu.
Nantikanlah aku pada hari Sabtu…
(Sabtu pekan depan… bukan Sabtu yang masih bulan Juni ini, lho… )

***

Kebumen, Insya Allah kau akan segera melihatku…

Kategori: catatanku
Ditandai: ,

Bapak Tua Berambut Perak

26 Juni, 2008 · & Komentar

Bapak tua berambut perak.
Tujuh tahun lebih yang lalu hingga hampir tujuh tahun kemudian kulewati tanpa seharipun tak melihatnya melintasi jalan di depan rumahku.

Meski hanya sedetik, atau setengah detik, atau bahkan sepersembilan detik, aku tak pernah tak sempat memergokinya.
Dia berjalan ringan, menatap lurus ke depan, tak sekalipun pernah menengok ke rumahku sehingga tak sekalipun pernah melihatku.

Kadang aku berharap, dia pernah melihatku ketika aku sedang tak melihatnya. Tapi, karena aku tahu itu hanya harapan semu, aku selalu berusaha membuangnya jauh-jauh dari pikiranku.

Kadang aku berharap, ada hari dimana aku tak melihatnya melintasi jalan di depan rumahku. Tapi, karena aku tahu dia pasti melintas, aku tak kuasa tak menyempatkan diri untuk mengarahkan mata ke jalan itu.

Dan selama tujuh tahun lebih yang lalu hingga hampir tujuh tahun kemudian, dia memang selalu melintas dan aku selalu memergokinya.

Sebenarnya, aku bosan dan lelah. Ingin rasa hati menghentikan itu semua. Tapi, otak tak mau dan mata menolak.

Hingga pada suatu Senin di selisih antara tujuh tahun lebih yang lalu dan hampir tujuh tahun kemudian, aku melihat ada seorang anak kecil bermain kelereng di pinggir jalan itu. Seharian ia disana. Dia bermain sendiri, tertawa dan mengumpat sendiri. Aku heran melihatnya. Kuintip dia dari balik tirai jendelaku. Lalu, aku sibuk memperhatikannya.

Keesokan harinya, aku baru menyadari bahwa pada Senin itu aku tak melihat bapak tua berambut perak melintasi jalan di depan rumahku.

Hari-hari setelah itu, aku sering melihat anak kecil itu bermain kelereng di sana. Kadang dia membawa teman bermain, kadang dia bermain sendiri.
Dan hari-hari setelah itu, aku jarang melihat bapak tua berambut perak…

Aku heran mengapa bisa begitu. Mengapa sering ada anak kecil dan jarang ada bapak tua berambut perak…

Apakah bapak tua berambut perak itu sudah tak pernah melintasi jalan di depan rumahku lagi? Ataukah aku yang tak sempat memergokinya?

Kemanakah dirimu wahai bapak tua berambut perak? Apakah karena kubilang aku bosan dan lelah melihatmu, kau akhirnya menjadi begini?

Dan anak kecil itu…
Dia selalu asyik bermain kelereng.
Tak pernah ia melihat rumahku, tak pernah ia melihat diriku. Sama seperti bapak tua berambut perak itu…

Bapak tua berambut perak, kemanakah dirimu? Apakah kelereng-kelereng itu membuatmu takut sehingga tak mau muncul lagi di hadapanku? Ataukah kelereng-kelereng itu membuatku lupa padamu?

(Ini adalah kisah fiktif belaka. Jika ada yang tidak wajar atau tidak bisa dipahami, harap dimaklumi ya… :roll: )

Kategori: catatanku
Ditandai: ,

Deja vu?

24 Juni, 2008 · & Komentar

Hari Kamis lalu.

Seorang perempuan berumur tiga puluhan tahun dan seorang anaknya yang masih TK.

Aku berdiri di depan rumah mereka, berdiri di antara keramaian orang yang sedang bertamu ke rumah mereka. Ah, aku dan orang-orang itu bukan sedang bertamu… kami sedang bertakziyah… Suami perempuan itu, ayah anak itu, baru saja meninggal dunia.

Aku memperhatikan mereka: perempuan itu dan anaknya.
Perempuan itu berwajah murung, matanya sembab karena habis menangis. Namun, dia masih sempat tersenyum ketika ada beberapa orang tamu berpamitan pulang dan menyalaminya.
Si anak tak terlihat murung. Dia malah sering tersenyum. Ketika ada tamu yang tiba-tiba mengajaknya ngobrol atau sekedar mengelus kepalanya, senyumnya menjadi lebih lebar.

Sebuah perasaan aneh merayapi hatiku. Aku merasa pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Deja vu?

Aku berusaha mengingat dimana dan kapan kejadian itu berlangsung. Tak ada kejadian yang seperti ini. Aku pernah bertakziyah beberapa kali, tapi tak ada perempuan muda berumur tiga puluhan tahun dan anak yang masih TK.

Lalu, aku teringat akan Ibu dan diriku sendiri.

Mungkinkah aku merasakan deja vu pada hal yang hanya pernah aku bayangkan? Bukan pada hal yang pernah aku alami?

Ketika aku masih berumur empat tahun, ayahku meninggal dunia. Saat itu, Ibu masih berumur 33 tahun. Kata Ibu dan orang-orang terdekatku, ketika ayahku meninggal, aku tak menangis sama sekali. Aku digendong kesana kemari oleh banyak orang karena Ibu sibuk menemui para pelayat. Aku diam, tidak rewel, tidak menangis, padahal saat itu banyak orang di sekitarku bersedih… tapi aku tak ikut tertular mereka…

Aku kadang membayangkan kejadian itu, kejadian di hari kematian ayahku. Mungkinkah aku mengalami deja vu pada hal yang hanya pernah aku bayangkan? Mungkin, iya.

Eh, tapi bukankah aku memang mengalaminya ya? Aku tidak bisa mengingatnya, tapi bukankah aku mengalami kejadian itu? Apakah kejadian yang hanya bisa aku bayangkan itu membuatku mengalami deja vu? Ah, entahlah.

(Muncul pertanyaan lain, apa benar aku mengalami deja vu?

:D )

Aku juga sering membayangkan berbagai kejadian lain yang berhubungan dengan ayahku, yang sering orang-orang ceritakan padaku.

Aku tak punya ingatan sedikitpun tentang beliau, jadi aku hanya bisa membayangkan. Aku tak tahu seperti apa wajahnya selain dari foto dan cerita orang-orang, tak pernah tahu suaranya, sifatnya, makanan dan minuman kesukaannya, kebiasaannya, dan lain-lain tentangnya selain dari cerita orang-orang. Padahal selama empat tahun lebih aku hidup bersamanya, tapi kenapa aku tak bisa mengingat apapun tentangnya ya? :roll:
(kan kamu masih kecil, Ren… masih empat tahun… terus kan kamu orangnya pelupa, jadi ya gak bisa inget apa-apa… )

Banyak orang mengira aku sedih dan merana karena tak punya ayah dan tak punya kenangan tentang ayah. Mereka salah. Aku malah bingung jika dianggap begitu. Biasa saja rasanya, tak ada kesedihan. Biasa saja.

Aku tak ingat bagaimana rasanya memiliki ayah, jadi ya aku tidak ingat bagaimana rasanya kehilangan ayah, jadi ya aku tidak merasa sedih jika teringat aku tak punya ayah dan kenangan tentangnya. Pada hari kematian ayahku, aku belum tahu bagaimana rasanya sedih kehilangan ayah (kan masih kecil, masih lom tahu apa-apa). Pada hari-hari selanjutnya, hingga sekarang, aku masih terus belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah, jadi ya tidak sedih. (muter-muter ngomongnya… jadi bingung sendiri… )

Hari Kamis lalu, aku melihat perempuan itu begitu kehilangan suaminya, sedih. Tapi, ketika melihat senyumnya, aku merasa yakin, kesedihannya hanya sementara. Ibuku dulu mungkin juga sepertinya, tapi toh Ibu mampu bangkit. Dan sepanjang ingatanku, selama aku hidup bersama Ibu, tak pernah sekalipun kulihat Ibu bersedih karena hidup tanpa suami.

Hari Kamis lalu, aku melihat anak TK itu tak menampakkan kesedihan meski ayahnya baru saja meninggal. Dulu, aku sepertinya. Dan esok, mungkin dia juga akan sepertiku.
Saat ini, mungkin dia belum merasa kehilangan ayahnya, karena dia belum memahami apa yang sedang terjadi padanya: kehilangan ayah. Mungkin, hingga seterusnya, dia tetap belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah, sepertiku (entah juga, dia kan sudah TK, lebih tua dari Reni kecil yang masih empat tahun).

Delapan belas tahun lagi (jika aku masih ada umur panjang), jika aku bertemu anak TK itu, mungkin aku akan mengalami deja vu lagi. Mungkin aku akan merasa melihat diriku di masa kini, yang tetap belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah.

Mungkin lho… Hanya mungkin…
Masa deja vu direncanakan?

:D

*******

Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, milik Allah apa yang Dia berikan, segalanya sudah ditentukan di sisi Allah bersifat sementara, maka hendaklah bersabar dan mengharapkan sepenuhnya kepada Allah.

Kategori: catatanku
Ditandai: ,

Yang Bagai Hujan

20 Juni, 2008 · & Komentar

Beberapa hari ini aku sering menemukan puisi-puisi indah di beberapa blog favoritku.

Aku membaca ini, ini, ini, dan ini-ini lainnya. Tiba-tiba, aku menjadi iri. Mengapa aku iri? Jawabannya mudah ditebak: aku tidak bisa membuat puisi seindah yang mereka buat. Eh, bukan tidak bisa, tapi belum bisa… :D

Puisi dan puitis adalah dua kata yang tak begitu akrab dengan sosok seorang Reni (ni lagi mencoba puitis, sudah berhasilkah?). Sejak kecil, daku tak terlalu suka berpuisi dan berpuitis ria. Tak pandai daku merangkai kata indah penuh makna. Perbendaharaan kataku yang minim membuatku hanya bisa menggunakan kata-kata yang itu-itu saja. Bacalah postingan-postinganku sebelum ini, dikau akan menemukan bukti dan menyetujui pernyataanku.

Ingin rasa hati bisa berpuisi dan berpuitis, tapi apa daya, tangan belum sampai. Selain tangan belum sampai, ternyata daku memang tak terlalu berminat pada puisi. Buktinya, sejak dari bangku SD (dari TK, ding) hingga SMA, daku tak pernah membuat puisi selain jika disuruh bapak/ibu guru di sekolah. (jaman kuliah seingatku sih ga pernah disuruh bikin puisi ma dosen… pernah ga ya? wahai teman-teman kuliahku, ijinkan daku bertanya, pernahkah kita dulu disuruh bikin puisi ma dosen?)

Dari sekian sedikit puisi yang Reni buat, hanya satu puisi yang bisa daku ingat (itu pun cuma ingat sama judul dan satu baitnya doang… ). Sebegitu berkesannyakah puisi itu hingga daku bisa mengingatnya? Yah, mungkin bisa dibilang begitu. Ah, entah juga. Daku tak tahu dimana sisi berkesannya.

Daku membuat puisi itu sewaktu SMA kelas dua.
Suatu hari, Ibu Guru Bahasa Indonesia menyuruh murid-muridnya untuk membuat puisi. Dengan agak kurang bersemangat, akhirnya daku membuatnya. (BTW, kok dari tadi pake daku-dakuan ya? Emang kalo ingin puitis, harus pake “daku” ya, Ren?).

Kubuat puisi itu dengan cepat. Karena agak bosan menunggu teman-teman lain yang belum menyelesaikan puisinya, aku pun melakukan perbuatan yang agak tercela. Kuganggu teman-temanku itu. Tak dinyana, sang Ibu Guru melihat itu dan tiba-tiba memanggil namaku. Lalu, tiba-tiba Ibu Guru menanyakan puisiku itu. Kemudian, tiba-tiba lagi Ibu Guru memintaku untuk membacakannya di depan teman-teman. Dan tiba-tiba lagi, tahu-tahu aku sudah membacakannya. Aku hanya ingat judul dan salah satu baitnya (kalo ga salah sih dulu aku berhasil membuat tiga-empat bait… ).

Yang Bagai Hujan
(abis baca judul, terus ngomong kayak gini: buah karya Reni Saptati Dwi Iswari… :mrgreen: )

Kau
Yang bagai hujan
Yang ditemani guntur
Yang ditemani kilat

Sudah. Itu saja yang kuingat.
Baguskah puisiku? (serentak para pembaca blogku menjawab: ga bagussssss)
Kata Ibu Guru, puisiku bagus. Dimana letak bagusnya, ya? :roll:
Ibu Guru mengira puisi itu ditujukan untuk seseorang, pujaan hatiku. Seseorang yang telah membawa banyak kebahagiaan sekaligus kesedihan dan ketakutan (ketakutan? ngapain takut ma pujaan hati ya?). Waduh, mengapa Ibu Guru berpikir sejauh itu? Wah, siapa ya pujaan hatiku? Diriku sendirikah? Puisi itu kutujukan untuk diriku sendiri? Betapa narsisnya diriku…

“Yang Bagai Hujan”.
Hujan memberi inspirasi.
Aku pernah melihat seorang teman sekelasku begitu gembira ketika hujan yang sudah berbulan-bulan tidak mengguyur Kebumen, tidak mengguyur sekolahku, tiba-tiba datang. Brress!!! Air hujan membasahi genteng sekolah, lapangan basket, dan tanah… Temanku tiba-tiba berteriak dengan girang, “Bau tanah, bau tanah…”
Aku terpukau melihat reaksi kebahagiaanya itu… Dia begitu gembira… begitu senang… dia tertawa dengan riang… matanya bersinar-sinar… Sehebat itunyakah hujan?

Aku ingin ada seseorang “yang bagai hujan”. Yang ketika dia datang, ada seseorang yang menyambutnya dengan gembira, seperti gembiranya temanku saat hujan itu datang. Jika memang puisi itu kutujukan untuk diriku sendiri, ya tidak apa-apa kan? Aku kan juga ingin ada seseorang yang menyambut “kedatangan”ku dengan bahagia. :D

Jika puisi itu memang kutujukan untuk seseorang, ya tidak apa-apa juga sih… Kalau ada seseorang yang datang kepadaku dan aku menjadi bahagia karenanya, ya mengapa tidak? (pertanyaannya: kapan dia akan datang ya? :) )

Lalu, “yang ditemani guntur” dan “yang ditemani kilat” itu maksudnya apa ya?

Kalau hujan datang, biasanya dia ditemani oleh guntur dan kilat. Guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar… Ooowww, seram… Tapi, memang begitu adanya. Hujan datang biasanya ditemani guntur dan kilat.
Kadang kita harus menerima seseorang yang datang ke dalam hidup kita dalam satu paket. Kekurangan dan kelebihannya tergabung dalam satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Satu paket yang harus berusaha kita terima apa adanya dengan penuh keikhlasan.

Sekarang, aku tak pernah melihat ada seseorang yang seperti teman sekelasku itu, yang menyambut kedatangan hujan dengan begitu gembira. Sekarang, kebanyakan yang aku lihat, orang-orang sedih ketika hujan datang… Kata mereka (kataku juga sebenarnya… :D ), jadi tidak bisa bepergian lah, jadi banjir lah, jadi becek lah… (udah ujyan, becyek, ga adya ojyek, uh…capye deh… )

Jika sekarang puisiku kubaca lagi, mungkin aku bisa ditertawakan. Mungkin akan ada banyak orang terheran-heran. Masak aku ingin menjadi “yang bagai hujan”? Masak aku menanti kedatangan seseorang “yang bagai hujan”? Menanti banjir dong…

Ingin aku menulis puisi yang indah seperti dia, dia, dia, dan dia-dia lainnya. Iri aku dengan mereka. Maaf ya jika aku iri… Maaf… Lebih iri lagi ketika aku berkunjung ke sini dan sini. Sekali lagi maaf jika aku iri…
Suatu saat nanti, semoga aku bisa membuat puisi atau menulis dengan indah, seperti kalian… :)
Hingga sekarang, “Yang Bagai Hujan” masih menjadi anak bontot. Setelahnya, aku belum melahirkan karya baru. Kira-kira kapan ya adik “Yang Bagai Hujan” lahir?

Hemmm, tunggu saja ya.

Kategori: catatanku
Ditandai: ,

Cerita Kemarin Malam

16 Juni, 2008 · & Komentar

Kemarin malam, aku mengalami pengalaman yang agak menakutkan (menakutkan bagiku, tak tahu bagimu). Seekor hewan tak dikenal tiba-tiba masuk ke dalam telingaku. Aku lupa bagaimana awal mula kronologis ceritanya, yang aku tahu, tiba-tiba si hewan sudah berada di dalam telingaku. Aku takut, bingung, panik.

Saat itu sudah agak larut malam, sekitar jam sepuluh. Semua orang rumah sudah tidur. Aku semakin panik, tak tahu apa yang harus aku lakukan kepada hewan kecil di telingaku. Dia bergerak-gerak, seperti ingin segera keluar. Sepertinya tak hanya aku yang takut, bingung dan panik, tapi hewan itu juga. Aku ingin menolongnya. Tapi, bagaimana cara mengeluarkannya? Aku tak tahu.

Sepuluh menit awal, aku mencoba menenangkan diri. Aku mencoba mencari tahu siapa sebenarnya hewan yang tiba-tiba masuk ke telingaku itu. Dari ukurannya, aku menebak dia adalah seekor semut. Lalu, aku teringat dengan postinganku tentang semut. Aku khawatir, jangan-jangan yang masuk ke dalam telingaku adalah semut yang bisa bicara itu, yang kemarin menjadi objek pengamatanku. Aku berdoa semoga bukan dia, tapi entahlah…mungkin memang benar dia.

Sudah sepuluh menit lewat, si hewan tak kunjung berhasil mengeluarkan dirinya. Aku merasakan dia semakin panik. Dan aku pun ikut semakin panik. Panikku sekarang lebih kepada memikirkan diriku sendiri, memikirkan kelangsungan fungsi telingaku. Aku takut, jangan-jangan si hewan tak bisa keluar, dia malah akan semakin masuk, dan masuk, dan masuk… Oh, tidak. Aku takut, takut sekali.

Karena aku ketakutan, aku memutuskan untuk menelepon Ibu. Aku berharap Ibu akan memberi solusi atas masalahku ini. Ibu yang sedang terlelap di Kebumen sana terpaksa bangun dari tidurnya untuk melayani keluhanku. Ibu bilang, segera pergi ke dokter. Aku tercenung, malam-malam begini pergi ke dokter? Apa tidak lebih baik besok saja? Lagipula, si hewan baru bersemayam selama sepuluh menit di telingaku. Siapa tahu, dia sebentar lagi keluar. Kuputuskan untuk menunggu selama setengah jam. Jika selama setengah jam si hewan tak kunjung keluar, aku putuskan untuk segera pergi ke dokter (tapi, kalo ada yang mau nemenin… ).

Mencoba setengah jam itu. Menunggu. Perasaan takut, bingung, dan panik masih terus menyelimutiku. Aku mencoba merasakan setiap gerak yang si hewan lakukan. Dia kadang diam, kadang bergerak. Ketika dia diam, aku takut, takut dia sudah tak hidup lagi. Tapi, ketika dia bergerak, aku juga takut, takut dia akan bergerak lebih ke dalam… Aku ingin dia tetap hidup, tapi jangan bergerak ke dalam. Bergeraklah keluar wahai hewan, jangan menyerah, kau pasti bisa, begitu aku menyemangatinya. Tapi, sepertinya dia tak mendengarku. :(

Selama masa menungguku yang setengah jamku, aku mengirim sms kepada tiga orang temanku, mencoba mendapatkan solusi selain pergi ke dokter. Hanya dua orang yang membalas smsku, dan keduanya memberi solusi yang sama: masukkan air ke dalam telingaku sampai penuh, lalu segera keluarkan air itu, dan berharaplah si hewan ikut keluar terbawa arus.

Aku melongo sesaat. Apakah tidak berbahaya? Memasukkan air ke dalam telinga? Bukankah itu berbahaya? Tapi, mengapa kedua temanku sama-sama memberi solusi seperti itu, ya?

Dengan mengucap doa terlebih dahulu, aku beranjak pergi ke kamar mandi. Lalu, aku pun melakukannya. Aku memasukkan air ke dalam telingaku, dan setelah kurasa penuh, segera kukeluarkan (don’t try this at home!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!).

Sudah kulakukan. Kutunggu beberapa saat untuk mengetahui hasilnya.

Tak ada yang bergerak-gerak lagi di telingaku. Sepertinya si hewan sudah keluar. Saran dari kedua temanku ternyata manjur sekali. Aku tak merasakan ada sesuatu lagi di telingaku. Beberapa menit aku mencoba merasakan hasilnya dengan seksama. Memang tak ada lagi dia.

Aku sedikit lega.

Aku mencoba mencari hewan itu. Tak kulihat seekor semut di lantai kamar mandi. Tak kutemukan seekor hewan pun di lantai kamar mandi. Siapakah dia sebenarnya? Apakah dia semut yang kemarin bisa bicara itu? Apakah dia masih hidup? Atau sudah mati? Jika sudah mati, dimana jasadnya? Dimana dia??? Aku ingin sekali melihatnya.

Tapi, tak kunjung kutemukan dia. Entah dia semut yang bisa bicara itu, entah bukan. Entah dia masih hidup, entah dia sudah mati. Dia tak kunjung kutemukan. Mungkin memang benar dia sudah mati. Dan sepertinya dia sudah mati…

Aku sedih. Semut itu dan kawan-kawannya sudah pernah membuatku terkesan dengan kebersamaan mereka, dengan ketidakegoisan mereka. Dan kini, salah satu dari mereka meninggalkanku. Dia terjebak di dalam telingaku, dan aku terpaksa mengeluarkannya dengan cara yang menyakitkan… Oh, maafkan aku…

Tapi…
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan kita semua akan kembali lagi kepadaNya.
Bukankah begitu, Ren? Kurasa aku harus mengikhlaskannya.

Kematian. Tiba-tiba aku teringat akannya.
Malam kemarin, kematian hewan itu. Malam nanti, entah siapa. Mungkin aku. Mungkin kamu. Mungkin kita.

Kematian. Tiba-tiba aku ingin membicarakannya.
Ehmmm, apa yang akan kubawa nanti ketika aku menghadapNya ya?
Ehmmm…

Kematian. Agak menyeramkan untuk dibicarakan, jadi kuputuskan untuk berbicara sedikit tentangnya. Padahal itu sesuatu yang sudah pasti akan terjadi padaku, padamu, pada kita, tapi kenapa aku seram membicarakannya ya?

Mungkin lebih nyaman berbicara tentang kehidupan, bukan kematian. Ya sudah lah, berbicara tentang kehidupan saja… :)
Ah, tak ada salahnya kembali menengok tujuan manusia hidup di dunia ini, tujuan hidupku…tujuan hidup kita…

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS Adz Dzariyat: 56)

(sekedar postingan untuk mengingatkan diri sendiri akan adanya kematian setelah kehidupan, dan akan adanya kehidupan setelah kematian)

Kategori: catatanku
Ditandai: , ,

Menduakannya

13 Juni, 2008 · & Komentar

Pada suatu waktu, di suatu tempat…

Aku : “Fum, kamu tahu kan kalo aku menyayangimu? Selalu. Cuma kamu satu-satunya kucing di hatiku.”
Fume : “Meong meong… (Aku tahu. Aku juga menyayangi Bos. Selalu. Cuma Bos satu-satunya manusia yang ada di hatiku.)”

Aku : “Tapi, aku ga bisa gini terus, Fum. Kamu udah ninggalin aku. Kamu udah meninggal empat tahun lebih. Aku ga bisa gini terus, nganggep kamu masih hidup dan masih bisa ngobrol denganku pula. Lama-lama orang bisa nganggep aku gila. Masak aku ngobrol ma kucing? Yang udah mati pula.”
Fume : “Meong meong… (Lha Bos kagak nyadar ya kalo udah dianggep gila ma orang-orang? Masak nganggep kucing bisa ngomong? Kucing yang udah mati pula.)”

Aku : ” Kamu tahu kan aku selalu setia padamu selama empat tahun ini? Aku tak pernah berpaling pada kucing manapun. Padahal kamu tahu sendiri, sewaktu kuliah, begitu banyak kucing berkeliaran di kampusku dan di daerah kosku. Tapi, aku selalu setia padamu, tak pernah berpaling.”
Fume : “Meong meong… (Lha wong kucing-kucing itu kagak ada yang ganteng kayak aku, semuanya pada dekil, mana bisa Bos berpaling pada mereka? Tapi, eit, tunggu dulu. Bos pernah selingkuh ma Patrick, kucing tetangga Bos, pas kuliah tingkat dua. Bos pernah naksir berat ma dia kan?!)”

Aku : “Ooowww, Patrick itu. Ya abis gimana? Dia lucu gitu, mana ganteng, gendut, nggemesin… Terus sering main ke kosan pula. Aku kan jadi naksir, pengen nggodain dia mulu.”
Fume : “Meong meong… (Weeekkk… Mual aku, Bos. Emang ada ya kucing yang lebih ganteng dari aku?)”

Aku : “Weeekkk… Mual aku, Fum. Jangan narsis gitu dong. Perasaan aku ga ndidik kamu jadi kucing narsis, deh. Banyak yang lebih ganteng, lebih cakep, lebih cantik… Banyak… Banyak banget. Bahkan salah satu dari mereka sudah memikat hatiku.”
Fume : “Meong meong… (Apa? Bos mau selingkuh lagi? Lagi?)”

Aku : “Kamu masih selalu yang nomor satu di hatiku. Dia hanya nomor dua, Fum. Dia cantik banget, lucu, nggemesin…”
Fume : “Meong meong… (Bos, jangan tertipu dengan penampilan luar. Siapa tahu dia kucing nakal yang suka naik meja dan buang kotoran sembarangan?)”

Aku : “Nggak, Fum. Dia baik. Dia kucing tetanggaku. Dia pintar pula. Aku kasih ikan cuwe, dia nggak mau makan, kata dia ikannya dipakein formalin. Pinter kan tuh kucing?”
Fume : “Meong meong… (Bosku oh Bosku. Sudahlah Bos, jangan main kucing-kucingan lagi. Kami ini membawa banyak penyakit. Bos tahu itu kan? Jangan bermain dengan kami, apalagi menyentuh kami. Jangan. Berbahaya.)”

Aku : “Aku tahu, Fum. Aku juga nggak menyentuh kucing. Aku cuma nggodain. Cuma manggil-manggil doang, ngasih makan, ngeliat dari kejauhan. Nggak nyentuh. Nggak, Fum.”
Fume : “Meong meong… (Ah, sudahlah. Bos pasti sedang naksir berat sama itu kucing. Ya udah kalo gitu. Aku seneng kalo Bos seneng. Aku kan sayang, Bos. Cuma dua pintaku, jangan pernah lupakan aku dan tetap masukin aku dalam postingan-postingan Bos di blog.)”

Aku : “Yaelah, ternyata kamu cuma pengen numpang tenar di blogku ya? Dasar…”
Fume : “Meong meong… (Bukan gitu, Bos. Aku cuma pengen Bos tetep sayang ma aku, tetep inget ma aku. Nggak apa-apa Bos sayang kucing lain. Aku seneng kalo ngeliat Bos seneng. Aku susah kalo ngeliat Bos susah. Aku kan sayang sama Bos. Tapi, kalo memang Bos pengen ngelupain aku, ya udah silakan. Ga papa. Tapi, aku akan tetap di sini, selalu ada untuk Bos. Kalo Bos pengen curhat, aku akan selalu ndengerin. Aku akan selalu menemani Bos, meski Bos nggak menyadari itu.)”

Aku : “Nggak sia-sia aku mendidikmu, Fum, Kamu jadi setia banget gitu ma aku. Kayaknya aku harus belajar menjadi setia dari kamu…”
Fume : “Meong meong… (Manusia memang harus banyak belajar dari mahluk lain ciptaan Allah.)”

Aku : “Hufh, baiklah, Fum. Maafkan aku. Kamu kan udah meninggal. Ga papa lah kalo aku naksir kucing lain. Maafkan aku, ya. Maaf, aku mungkin akan menduakanmu.”
Fume : “Meong meong… (Ga papa, Bos. Dimaafkan, kok.)”

Kategori: Tak Berkategori
Ditandai: , ,