Pada suatu sore yang redup, seorang anak perempuan berumur 9 tahun berlari-lari kecil menuju rumahnya. Dia baru saja selesai bermain di rumah temannya. Sesampainya di rumah, dia langsung mencari ibunya. Sang ibu ternyata sedang sibuk memasak di dapur.
“Masak apa, Bu?” tanya si anak, napasnya masih sedikit terengah-engah.
Sang ibu tersenyum, lalu berkata, “Masak sayur kesukaanmu. Kok udahan mainnya?”
Si anak hanya terdiam. Dia memperhatikan sang ibu dengan saksama.
“Cape ya, Bu? Mau dibantuin ga?”
Sang ibu kembali tersenyum. “Ga usah. Mandi aja sana. Dah sore. Ntar selesai mandi, bisa langsung makan.”
Si anak masih terdiam. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
“Bu…”
Suara si anak pelan dan serak. Sang ibu tak mendengar suaranya dan terus sibuk memasak.
“Bu… Bu… Aku ga mau jadi orang gede. Aku ga mau jadi orang gede.”
Kali ini suaranya lebih keras. Sang ibu sedikit terkejut karenanya. Dilihatnya si anak yang matanya semakin berkaca-kaca.
“Lho…? Kenapa? Ada apa? Tadi abis dinakalin ma temen ya?”
Si anak menggeleng. Kali ini dia sudah menangis.
“Aku ga mau jadi orang gede… Pokoknya ga mau jadi orang gede!”
Sang ibu mendekati si anak dan mengelus kepalanya. “Kenapa? Tadi ada yang nakal? Kok ngomong kayak gitu? Kok ga mau jadi orang gede?”
Si anak tak menjawab. Dia memeluk sang ibu dan menangis lebih keras.
“Kenapa ga mau jadi orang gede? Emang pengen jadi anak kecil terus? Emang ga pengen lulus SD, sekolah yang tinggi, kuliah, terus kerja biar dapet duit banyak. Emang ga mau gitu?”
“Ga mau jadi orang gede. Ga mau pisah sama Ibu. Ga mau susah. Pokoknya ga mau jadi orang gede…”
“Jadi orang gede itu enak. Sama enaknya kayak jadi anak-anak. Kamu jangan ngomong kayak gitu. Ntar Allah marah. Dah, jangan nangis lagi. Paling tadi baru dinakalin ma temen ya?” sang ibu mencoba menenangkan si anak.
Si anak mereda tangisnya. Dia melihat mata sang ibu dan mencoba mencari kebenaran kata-katanya.
“Jadi orang gede itu enak, Bu?” tanyanya setengah tak percaya.
Sang ibu mengangguk mantap. “Dah sana mandi, ntar abis mandi makan sama sayur anget.”
Si anak terdiam lagi, masih mencoba mencerna perkataan ibunya. Beberapa saat kemudian, dia mengambil handuknya dan beranjak ke kamar mandi.
Tiga belas tahun kemudian….
Pada suatu pagi yang dingin dan gelap, si anak bangun dari tidur lelapnya. Dia segera beranjak ke kamar mandi dan mencuci muka. Tiba-tiba dia teringat perkataan sang ibu.
“Jadi orang gede itu enak. Sama enaknya kayak jadi anak-anak…”
Si anak terdiam sesaat. Dia memperhatikan tangan, kaki, dan sekujur tubuhnya. Bukan seperti tiga belas tahun lalu…
“Aku belum pengen jadi orang gede… Aku belum pengen jadi orang gede…” bisiknya pelan.
Lalu, teringatlah ia akan lanjutan perkataan sang ibu. “…kamu jangan ngomong kayak gitu. Ntar Allah marah. Dah, jangan nangis lagi. Paling tadi baru dinakalin ma temen ya?”


3 tanggapan so far ↓
Farijs van Java // 3 Juni, 2008 pada 3:18 pm |
masih lom pengen jadi dewasa?
(^_^)v
fairuzdarin : anak perempuan itu lom pengen gede, bukan lom pengen dewasa…
achoey sang khilaf // 19 Juni, 2008 pada 6:06 pm |
padahal waktu membawa perubahan ya
fairuzdarin : iya…
l5155st // 20 Juni, 2008 pada 3:03 am |
Salam untuk antum ya akhi…
http://fitrahfitri.wordpress.com
itu rumah pena saya. ditunggu ya…
Assalamu’alaikum
Didit Fitriawan, ITS Surabaya
fairuzdarin : wa’alaykumsalam warrahmatullah wabarakatuh.
harusnya manggil ukhti…