“Fairuz”

Patahhati-Patahhatian

5 Juni, 2008 · & Komentar

Sekitar satu minggu terakhir, Mba XXX (ofis gel di kantorku yang super bawel dan super lucu) nampak selalu bermuram durja. Ada apakah gerangan dengannya?

“Saya ditinggal nikah ma mantan pacar saya, Mba. Sedih, Mba… Sedih… Kami dulu pacaran bertahun-tahun. Dulu putus karena ada kesalahpahaman. Sekarang, dia mo nikah, Mba. Emang dia dah bukan pacar saya lagi, tapi…tapi…”

Ooowww , dia sedang patah hati rupanya. Pantas…
Aku ikut berduka cita ya, Mba…

Dan kemarin, aku mendapati beberapa orang lagi yang mengalami patah hati. Patah hati karena mantan pacar Mba XXX menikah? Bukan…

Berawal dari kiriman pesan gtalk dari seorang teman perempuan yang kukenal semasa kuliah dulu.
“Doain aku ya, Ukhti. Insya Allah, tanggal 29 Juni besok, aku akan menyempurnakan setengah dien.”

Wah, temanku akan segera menikah. :D Aku mengucapkan selamat berulang kali padanya, tapi hampir-hampir lupa menanyakan dengan siapa dia akan menikah. (justru itu yang terpenting, Ren… )
“Aku akan menikah dengan F.”
Dia berhenti di huruf F.
“U.”
Dia berhenti lagi di huruf U.
“L. A.”
“Fula? Fula siapa? Si Fulan??? Si Fulan bin Fulan itu???” aku tak sabar dan menebak-nebak, berharap tebakanku salah (lho? kok?).
“Si Fulan bin Fulan…” jawabnya.
Ooowww, tidak…, tebakanku benar! Aku setengah tak percaya, berharap itu hanya candaan. Namun, tak mungkin temanku bercanda untuk masalah yang begini ini. Ooowww, sepertinya akan ada yang patah hati setelah ini. Siapa? Aku? Hihi, sayangnya bukan. (Aku sih gembira-gembira saja mendengar kabar pernikahan temanku dengan si Fulan bin Fulan itu. Hatiku tak patah-patah, malah berbunga-bunga. Ada bunga melati, bunga mawar, bunga krisan… halah, lebay!)

Tak berapa lama setelah itu, segera kusebarkan kabar gembira itu pada beberapa temanku (dengan meminta izin dulu pada temanku itu, tentu saja). Baru kuberi tahu pada seorang teman, aku langsung mendapati orang patah hati.
“Hah? Si Fulanah akan menikah dengan si Fulan? Hah? Kamu ga becanda kan, Ren? Si Fulan itu… Hah? Mo nikah? Hah? Kapan? Ooowww, aku ditinggal nikah ma dia. Ooowww…”
Berlanjut ke orang kedua. Dia sih mengaku patah hati, tapi entah benar-benar patah hati, entah patahhati-patahhatian.
“Hah? Fulanah teman seangkatan kita itu? Ama Fulan? Hah? Oh, hatiku patah-patah nih…”
Lalu, orang ketiga. Tapi, orang ketiga ini mengalami kesalahpahaman terlebih dahulu.
“Apa? Fulan mo nikah ma Reni??”
Waduh, bukan… bukan akan menikah denganku…
“Bukan ma Reni? Tapi, Fulan mo nikah kan? Apa? Fulan mo nikah? Hah? Kok? Ga rela… Ga rela…”
Selanjutnya, yang lainnya…
“Aku ga dateng ke pernikahannya, ah. Takut ntar nangis darah…” kata si A.
“Aku shock, Ren. Aku shock. Aku emang udah bisa mengikhlaskan dia, tapi… aku masih ga percaya. Ga nyangka.” ujar si B.
Dan lain-lain…

Ada yang patah hati karena si Fulanah menikah, ada yang patah hati karena si Fulan menikah.

Huhfh, niat awalku ingin menyebarkan kebahagiaan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Lalu, harus bagaimana ini? Bagaimana cara menyambung hati orang-orang yang patah hati itu? Hemmm, bagaimana ya?
Tapi, eit, tunggu dulu. Apakah perlu aku memikirkan cara menyambung hati yang patah-patah itu? Apakah iya orang-orang itu benar-benar patah hati? Atau sebenarnya hanya patahhati-patahhatian?

“Si Fulan itu kan baik, bertanggung jawab, perhatian ma temen. Teman yang baik deh pokoknya. Aku seneng lah dia nikah. Patah hatiku cuma bo’ongan lah, Ren,” kata orang pertama.
Ah, syukurlah.
“Aku ga beneran patah hati. Ga lah. Lagian aku juga ga kenal Fulanah,” aku orang kedua.
Hemmm, baguslah.
“Aku cuma kaget. Ga nyangka secepat ini Fulan menikah, tapi ikut bahagia lah,” ucap orang ketiga.
Sama. Aku juga terkejut dan tidak menyangka sama sekali sebelumnya.
“Pacarku mo dikemanain???” yang ini kata si A.
Oh, iya. :mrgreen:
“Aku lagi belajar ilmu ikhlas…” kata si B.
Belajar ilmu ikhlas? Waduh, jangan-jangan yang ini benar-benar patah hati??? Wah, patah hati atau patahhati-patahhatian, ya?

Kurasa mereka semua cuma patahhati-patahhatian. :)
(Dan mereka serempak menjawab: “Memang patahhati-patahhatian, Ren!!!”)
Hemmm, baiklah. Kalian hanya patahhati-patahhatian. Baiklah…

Lain daripada itu, kudoakan semoga persiapan pernikahan si Fulan dan si Fulanah berjalan lancar, semoga besok aku bisa datang ke pernikahan kalian (lha, emang dah pasti diundang, Ren? yah, ngarep), semoga esok Allah memberkahi kalian dalam keluarga kalian dan harta kalian, dan semoga aku segera menyusul kalian. Amiiiiin.

Mengulang sekali lagi ah doa yang ini: semoga aku segera menyusul kalian…
Amiiiiin…

BTW, ada yang patah hatikah jika aku segera menyusul mereka? Tidak ada, ya? Sekadar patahhati-patahhatian juga tidak ada, ya?
Hemmm, baiklah. Tak mengapa. Aku juga tak ingin membuat orang patah hati. :D

Kategori: catatanku
Ditandai: , ,