“Fairuz”

Semut Bicara

6 Juni, 2008 · & Komentar

Kuperhatikan semut-semut itu. Mereka berjalan berurutan di dinding kamarku. Ada yang ke arah kanan, ada yang ke arah kiri. Semuanya berbaris rapi, baik yang ke kanan, maupun yang ke kiri. Jika berpapasan, mereka berhenti sejenak, lalu saling menempelkan kepala mereka satu sama lain. Apa sebenarnya yang mereka lakukan? Saling menyapakah? Aku penasaran. Hemmm, saatnya Detektif Reni beraksi. Kupilih seekor semut untuk kuamati gerak-geriknya. Dia berjalan, lalu berhenti sejenak dan menempelkan kepalanya pada kepala seekor semut lainnya. Kukuping pembicaraan mereka.

“Ada serpihan gula merah yang lezat di dekat keyboard komputer Mba Reni,” ucap semut objek pengamatanku.
“Hati-hati, ada kerangkang merah yang menakutkan di dekat pintu kamar Mba Reni,” kata semut yang satunya.

Serpihan gula merah di dekat keyboard? Kok aku tidak melihat? Dan, siapa pula yang baru memakan gula merah di sini? Kok aku tidak tahu? Ah, sudahlah. Kulanjutkan pengamatan dan pengupinganku. Semut itu kembali berjalan dan kembali berhenti sejenak ketika bertemu seekor semut dari arah yang berlawanan.

“Ada serpihan gula merah yang lezat di dekat keyboard komputer Mba Reni,” ulang semut objek pengamatanku.
“Ada cuilan permen manis di dekat pintu kamar Mba Reni,” balas semut lawan bicaranya.

Wah, mereka saling bertukar informasi… Subhanallah, betapa baiknya mereka. Aku senyum-senyum sendiri melihat gerak-gerik para semut di dinding kamarku. Namun, tiba-tiba semut objek pengamatanku berhenti berjalan, menengok ke arahku, dan menatapku curiga.

“Mba Reni ngapain ngeliatin saya terus? Naksir ya? Masa naksir ma semut sih, Mba?” katanya.
Aku terkejut. Waduh, ketahuan…
“Saya memang mengagumkan kok, Mba. Saya kan mahluk ciptaan Allah, ya pasti mengagumkan. Ga papa kok naksir saya. Boleh-boleh aja, kok,” lanjutnya.
Waduh, penyakit narsis ternyata tidak hanya menyerang manusia, tetapi semut juga…

“Saya kasih tahu ya Mba, saya tadi tuh abis nemuin gula merah di deket keyboard komputer Mba. Zat kimia yang dikeluarkan dari gula merah itu masih menempel pada saya. Kami para semut kan tidak egois. Kami akan memberitahu teman kami melalui antena, apa informasi yang kami punya, baik informasi tentang makanan maupun informasi tentang musuh-musuh kami yang siap menghancurkan kami. Saya pun begitu, zat kimia yang saya punya menginformasikan pada teman-teman saya bahwa di sekitar sini ada gula merah yang lezat.”
Sedikit mudeng. Ooowww, begitu rupanya? Benarkah? Wah, benar-benar mengagumkan.

“Karena penyampaian informasi dilakukan melalui antena, kami mau tidak mau harus saling mendekat, seolah-olah saling menempelkan kepala. “
Hemmm, aku sudah sedikit mengerti. Semut itu tersenyum melihat tampangku yang terlihat lebih sumringah.

“Mba, seharusnya manusia malu pada kami. Kami selalu berbagi rejeki, kami tidak pelit untuk berbagi kebahagiaan. Bagaimana dengan kalian para manusia? Banyak dari kalian yang terlalu sibuk dengan diri sendiri. Kalian terus menumpuk harta kekayaan dan enggan berbagi dengan sesama. Padahal dalam harta kekayaan itu, ada hak orang lain. Jangankan untuk bersedekah, untuk membayar zakat saja masih banyak di antara kalian yang merasa keberatan.”
Deg.

“Kami juga saling menjaga, saling mengingatkan. Kami akan berusaha menjaga teman-teman kami dari para musuh yang mengintai di mana-mana. Kami akan mengingatkan teman-teman kami. Kami menjunjung tinggi kebersamaan, tidak egois.”
Deg lagi.

Aku terbengong-bengong. Melihat tampangku, semut itu tersenyum lagi, kini lebih lebar.
“Udah ya, Mba. Saya mau pergi dulu. Jangan bengong terus ya, ntar ayam tetangga mati, lho,” dia meledek, lalu pergi.

Semut itu… semut itu “bicara”…

Fume : “Meong-meong… (Wah, Bos semakin hebat saja, dia ga cuma bisa memahami bahasa kucing dan bahasa motor, tetapi juga bahasa semut! Bosku hebat!)
Rio : “Mbremmm mbremmm… (Hebat apanya? Sok hebat iya, sok hebat mengarang indah, sok hebat membual, sok hebat ngasal, dan lain-lain. Bos tuh ga ngerti bahasa binatang, apalagi bahasa motor, Fum! Nabi Sulaiman baru ngerti bahasa binatang… Bos mah kagak sama sekali, Fum. Ngarang doang dia, jangan terlalu percaya. Ambil baik-baiknya saja dari perkataannya.)

:D

Kategori: catatanku
Ditandai: ,