Kuperhatikan semut-semut itu. Mereka berjalan berurutan di dinding kamarku. Ada yang ke arah kanan, ada yang ke arah kiri. Semuanya berbaris rapi, baik yang ke kanan, maupun yang ke kiri. Jika berpapasan, mereka berhenti sejenak, lalu saling menempelkan kepala mereka satu sama lain. Apa sebenarnya yang mereka lakukan? Saling menyapakah? Aku penasaran. Hemmm, saatnya Detektif Reni beraksi. Kupilih seekor semut untuk kuamati gerak-geriknya. Dia berjalan, lalu berhenti sejenak dan menempelkan kepalanya pada kepala seekor semut lainnya. Kukuping pembicaraan mereka.
“Ada serpihan gula merah yang lezat di dekat keyboard komputer Mba Reni,” ucap semut objek pengamatanku.
“Hati-hati, ada kerangkang merah yang menakutkan di dekat pintu kamar Mba Reni,” kata semut yang satunya.
Serpihan gula merah di dekat keyboard? Kok aku tidak melihat? Dan, siapa pula yang baru memakan gula merah di sini? Kok aku tidak tahu? Ah, sudahlah. Kulanjutkan pengamatan dan pengupinganku. Semut itu kembali berjalan dan kembali berhenti sejenak ketika bertemu seekor semut dari arah yang berlawanan.
“Ada serpihan gula merah yang lezat di dekat keyboard komputer Mba Reni,” ulang semut objek pengamatanku.
“Ada cuilan permen manis di dekat pintu kamar Mba Reni,” balas semut lawan bicaranya.
Wah, mereka saling bertukar informasi… Subhanallah, betapa baiknya mereka. Aku senyum-senyum sendiri melihat gerak-gerik para semut di dinding kamarku. Namun, tiba-tiba semut objek pengamatanku berhenti berjalan, menengok ke arahku, dan menatapku curiga.
“Mba Reni ngapain ngeliatin saya terus? Naksir ya? Masa naksir ma semut sih, Mba?” katanya.
Aku terkejut. Waduh, ketahuan…
“Saya memang mengagumkan kok, Mba. Saya kan mahluk ciptaan Allah, ya pasti mengagumkan. Ga papa kok naksir saya. Boleh-boleh aja, kok,” lanjutnya.
Waduh, penyakit narsis ternyata tidak hanya menyerang manusia, tetapi semut juga…
“Saya kasih tahu ya Mba, saya tadi tuh abis nemuin gula merah di deket keyboard komputer Mba. Zat kimia yang dikeluarkan dari gula merah itu masih menempel pada saya. Kami para semut kan tidak egois. Kami akan memberitahu teman kami melalui antena, apa informasi yang kami punya, baik informasi tentang makanan maupun informasi tentang musuh-musuh kami yang siap menghancurkan kami. Saya pun begitu, zat kimia yang saya punya menginformasikan pada teman-teman saya bahwa di sekitar sini ada gula merah yang lezat.”
Sedikit mudeng. Ooowww, begitu rupanya? Benarkah? Wah, benar-benar mengagumkan.
“Karena penyampaian informasi dilakukan melalui antena, kami mau tidak mau harus saling mendekat, seolah-olah saling menempelkan kepala. “
Hemmm, aku sudah sedikit mengerti. Semut itu tersenyum melihat tampangku yang terlihat lebih sumringah.
“Mba, seharusnya manusia malu pada kami. Kami selalu berbagi rejeki, kami tidak pelit untuk berbagi kebahagiaan. Bagaimana dengan kalian para manusia? Banyak dari kalian yang terlalu sibuk dengan diri sendiri. Kalian terus menumpuk harta kekayaan dan enggan berbagi dengan sesama. Padahal dalam harta kekayaan itu, ada hak orang lain. Jangankan untuk bersedekah, untuk membayar zakat saja masih banyak di antara kalian yang merasa keberatan.”
Deg.
“Kami juga saling menjaga, saling mengingatkan. Kami akan berusaha menjaga teman-teman kami dari para musuh yang mengintai di mana-mana. Kami akan mengingatkan teman-teman kami. Kami menjunjung tinggi kebersamaan, tidak egois.”
Deg lagi.
Aku terbengong-bengong. Melihat tampangku, semut itu tersenyum lagi, kini lebih lebar.
“Udah ya, Mba. Saya mau pergi dulu. Jangan bengong terus ya, ntar ayam tetangga mati, lho,” dia meledek, lalu pergi.
Semut itu… semut itu “bicara”…
Fume : “Meong-meong… (Wah, Bos semakin hebat saja, dia ga cuma bisa memahami bahasa kucing dan bahasa motor, tetapi juga bahasa semut! Bosku hebat!)
Rio : “Mbremmm mbremmm… (Hebat apanya? Sok hebat iya, sok hebat mengarang indah, sok hebat membual, sok hebat ngasal, dan lain-lain. Bos tuh ga ngerti bahasa binatang, apalagi bahasa motor, Fum! Nabi Sulaiman baru ngerti bahasa binatang… Bos mah kagak sama sekali, Fum. Ngarang doang dia, jangan terlalu percaya. Ambil baik-baiknya saja dari perkataannya.)


20 tanggapan so far ↓
Farijs van Java // 6 Juni, 2008 pada 11:22 am |
welehwelehâ„¢… makin bagus aja nulisnya. teruskan! lanjutkan! dan tetap semangat ngeblog!
(^_^)v
fairuzdarin : makasih…, insya Allah tetep semangat…
indra1082 // 6 Juni, 2008 pada 12:36 pm |
Kayak Nabi Sulaiman AS, bisa bahasa binatang, hahahaha
fairuzdarin : hihi, sok bisa aja, mas…
kucingpemalu // 6 Juni, 2008 pada 2:08 pm |
hehe…
ceritanya nyeleneh maknanya dalem..
tapi jadi heran, darimana semutnya tau ada banyak orang ngga bayar zakat?
kan, dia sehari-harinya cari makanan di kamar mbak Reni?
hehehe
fairuzdarin : yah, itulah hebatnya semut…
fauziah85 // 6 Juni, 2008 pada 4:06 pm |
Bisa ngartiin bahasa ayam ga Ren?
Hehehe, kan aku pingin “kenal lebih dekat” ^_^
fairuzdarin : waduh, aku padahal mau belajar bahasa ayam dari Nur, je…
Kok Nur malah nanya ke aku…
Yoyo // 6 Juni, 2008 pada 4:10 pm |
malu aku malu, pada semut merah….
yang berbaris di dinding, menatapku curiga….
berdusta pada guru….!
jadi inget ituh…..
fairuzdarin: wah, ada yang nyanyi, merdu nian suaranya…
theloebizz // 6 Juni, 2008 pada 7:24 pm |
huuuaaaa…..semutnyah bisa bicaraaaa…!!hebring euy
fairuzdarin : emang hebring…
hanggadamai // 6 Juni, 2008 pada 7:31 pm |
wew semut langka tuj..
fairuzdarin : semut biasa kok…
ina // 7 Juni, 2008 pada 12:10 am |
Subhanallah, kalau saja kita ini bisa belajar dari makhluk lain ciptaan Allah.. tentu ngga ada lagi yg namanya manusia sombong.. -bagaimana kalau kita tafakur alam? mungkin nanti bukan semut lagi yg terdengar bertasbih, tapi seluruh alam bertasbih!, Subhanallah..-
fairuzdarin : seharusnya manusia memang harus banyak belajar dari mahluk lain ciptaan Allah…
mrs.children // 9 Juni, 2008 pada 3:40 pm |
waaaw..keren, jadi merasa berdosa klo mengingat sering nyemprot bayigon..setau saya emg semut itu menggunakan antena di kepala nya untuk sekedar ’salam’ pada sesamanya (dari komik), tp baru tau untuk bertukar informasi juga…
*nganggep serius cerita di atas bener2 kejadian nyata*
fairuzdarin : anggep aja nyata… ga papa kok… ^_^
shaffiyah // 9 Juni, 2008 pada 6:32 pm |
semut…semut…semut…yang banyak
hehehe….lagu plesetan
fairuzdarin : lagunya yang kayak gimana ya? saya nggak tahu…
yellashakti // 9 Juni, 2008 pada 7:28 pm |
subkhanallah,,cerita ini bisa mengajak anak2 dan orang dewasa untuk berbagi,,maaf mba Reni (maaf lagi) postingannya mirip sama saya,,saya posting dulu baru mampir ke sini,,maaf mba Reni silakan mampir ke blog saya,,maaf ya (mengamalkan postingannya mba REni tentang maaf)
fairuzdarin : maaf Mba Yella, postingan kita ternyata ada bedanya kok, saya kan ngomongin semut, Mba Yella ngomongin bintang kan? ^_^
ada sama-samanya sih, sama-sama ngomongin zakat. wah, kok bisa rada mirip gitu ya? mungkin kita sehati… hihi…
achoey sang khilaf // 9 Juni, 2008 pada 7:53 pm |
postingan yang bagus
selalu berusaha tuk mengambil hikmah
fairuzdarin : makasih…postingan yang biasa saja, kok. ^_^
coretanpinggir // 9 Juni, 2008 pada 8:46 pm |
Jadi nyesal deh kemaren ini baru pakai kapur ajaib untuk ngusirin semut2 di dinding rumah..
fairuzdarin : yang sudah terjadi, biarlah terjadi…
nenyok // 10 Juni, 2008 pada 7:18 am |
Salam
Wah keren banget nie tulisannya, cerita yang sangat menarik Non
fairuzdarin : salam juga. tulisan yang biasa aja kok…
yakhanu // 10 Juni, 2008 pada 7:48 am |
kalo kita perhatiin semut selain bisa ngomong dia juga bisa berbicara,…
eh sama ya…wakakak…
salam kenal….
fairuzdarin : sama aja tuh… ^_^
salam kenal juga…
Singal // 11 Juni, 2008 pada 10:05 am |
semoga penguasa negeri ini belajar dari semut….
fairuzdarin : semoga…
Cerita Kemarin Malam « “Fairuz” // 16 Juni, 2008 pada 2:13 pm |
[...] ke telingaku itu. Dari ukurannya, aku menebak dia adalah seekor semut. Lalu, aku teringat dengan postinganku tentang semut. Aku khawatir, jangan-jangan yang masuk ke dalam telingaku adalah semut yang bisa bicara itu, yang [...]
arifinsamsul // 20 November, 2008 pada 4:18 am |
Wah, keren banget. Imajinasi yang bagus. Calon penulis muda berbakat lagi-lagi muncul nih. Jayalah INDONESIA-ku !!
fairuzdarin: glubrak!!
duh, pin, makasih atas apresiasi dan doamu… amiiin… jayalah IPIN!!
demoffy // 31 Januari, 2009 pada 6:10 pm |
semut…
suka yang manis…
tinggaLkan yang pahit….
Mau yang enak2 ja…
tapi gotongroyong seaLu dijaga…
fairuzdarin: Wah, bener juga ya, Mas. Mereka sukanya sama yang manis-manis. Yang pahit ga doyan kayaknya. Hihi. Nakal juga mereka.
Cerita Kemarin Malam at fairuzdarin // 4 November, 2009 pada 4:45 pm |
[...] ke telingaku itu. Dari ukurannya, aku menebak dia adalah seekor semut. Lalu, aku teringat dengan postinganku tentang semut. Aku khawatir, jangan-jangan yang masuk ke dalam telingaku adalah semut yang bisa bicara itu, yang [...]