“Fairuz”

Telur, Wortel, dan Biji Kopi Tumbuk

10 Juni, 2008 · & Komentar

Pernahkah Anda mendengar/membaca kisah “telur, wortel, dan biji kopi tumbuk”? Pasti pernah, kan? (kalau ada yang belum pernah, coba nanya ke mbah google aja ya… :) )

Kisah itu menceritakan bagaimana perubahan yang dialami oleh ketiga benda yang kusebut tadi setelah mereka dicemplungkan (atau kecemplung ya?) ke dalam air mendidih. Si telur yang semula cair dan lembek (isi telurnya lho, ya, bukan cangkangnya) berubah menjadi keras. Si wortel yang semula keras berubah menjadi lunak. Dan si biji kopi tumbuk yang tadinya tidak bisa dinikmati berubah menjadi minuman yang harum dan nikmat.

Kalau aku tidak salah tangkap, mungkin maksud dari kisah itu adalah sebagai berikut. Air mendidih itu diibaratkan sebagai penderitaan hidup yang dialami oleh manusia. Sebelum mengalami penderitaan hidup, si telur adalah sesosok manusia yang lembut hati dan dinamis. Setelah kecemplung ke dalam air mendidih selama beberapa waktu, si telur berubah menjadi manusia yang keras hati.
Lain dengan si wortel. Sebelum kecemplung, si wortel adalah manusia yang keras dan tidak mudah hancur. Setelah kecemplung, dia berubah menjadi manusia yang lunak, lembek, dan mudah menyerah.
Lain wortel, lain pula biji kopi tumbuk. Sebelum kecemplung, dia adalah manusia yang tak terlalu memiliki kelebihan. Pahit pula. Namun, setelah kecemplung, dia justru menyatu dengan air mendidih itu dan menjadi minuman yang harum dan nikmat. Dia berubah menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Lebih bermanfaat. Dia membuat perubahan yang berbeda dengan telur dan wortel.

Yah, begitulah kira-kira, kalau aku tidak salah tangkap. Kalau salah tangkap, ya harap dibetulkan. :)

Tapi, tapi, tapi… bukan kisah itu yang menjadi menu utama postinganku ini. Aku punya kisah lain di balik kisah itu. Kisah lain itu yang menjadi menu utama. Apakah itu? Apakah kisah lain itu? Apa hayo…

Ketika mendengar kisah “telur, wortel, dan biji kopi tumbuk” itu, aku bukannya cepat menangkap pesan yang ingin disampaikan, tapi malah teringat dengan empat orang manusia yang kukenal dengan baik. Apakah empat orang manusia itu mewakili telur, wortel, dan biji kopi tumbuk? Hemmm, kurasa tidak.

Pertama, aku teringat dengan kedua kakak lelakiku (baca: Mas Iin dan Mas Ugo). Mereka suka memakan telur rebus. Mas Iin hanya doyan memakan putih telurnya, sedangkan Mas Ugo hanya doyan memakan kuning telurnya. Dulu (ketika kami masih kecil dan tinggal serumah), jika Ibu menyediakan lauk telur rebus, maka dengan ikhlas mereka berdua bekerja sama memakan telur rebus itu. Mas Iin mengambil putihnya, Mas Ugo mengambil kuningnya, dan kemudian, dengan penuh keikhlasan pula, ditambah dengan penuh rasa sayang, mereka menyerahkan cangkang telurnya kepadaku.

Kedua, aku teringat dengan seorang temanku yang suka sekali minum kopi. Kurasa baginya tiada hari tanpa kopi. Kurasa kopi sangat berarti dalam hidupnya. Yah, kurasa begitu.

Sudah tiga orang kusebut. Sekarang giliran orang terakhir. Siapakah orang itu? Orang itu ternyata adalah… adalah… adalah diriku sendiri (horeee… :tepuktangan: :) ). Setiap kali memilih menu sayur bening bayam pada saat makan siang di kantin Itjen gedung A lantai dua, dengan penuh semangat aku akan mengambil potongan-potongan wortel sebanyak-banyaknya yang ada di mangkuk besar sayur itu… (dasar maruk… ) :mrgreen:
Yah, bukankah wortel itu baik untuk kesehatan mata? Jadi, apa salahnya mengambil wortel banyak-banyak? Toh, wortel yang aku makan sudah aku bayar…

Kedua kakakku suka telur rebus, aku suka wortel yang lunak, dan temanku suka minum kopi. Jika Anda menawarkan telur rebus kepada kedua kakakku, kurasa dengan senang hati mereka akan menerimanya dan memakannya dengan lahap. Jika Anda menawarkan wortel yang lunak kepadaku, kurasa aku akan menerimanya dengan senang hati pula (wortel lunak dalam sayur bening bayam apalagi… ). Dan jika Anda menawarkan kopi kepada temanku, kurasa dia akan segera meminumnya pula.

Jadi, apa yang salah dengan telur, wortel, dan biji kopi tumbuk itu ya?
Memang tidak ada yang salah…

Eit, kisahku ini lain maknanya dengan kisah yang pertama kuceritakan tadi lho ya… Jangan kaitkan kisah pertama tadi dengan kisahku ini.

Jadi, sebenarnya apa yang ingin aku sampaikan dari kisahku ini sih??? Apa ya? Apa sih? Apa coba? Apa hayo…

Sederhana saja.

Khoirunnas anfa’uhum linnas.
Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Telur rebus penuh gizi pasti disuka banyak orang, terutama kedua kakakku. Jika sudah terlanjur menjadi telur rebus, berusaha menjadi telur rebus yang bermanfaat tidak ada salahnya kan? :)
Wortel lunak juga enak dan disuka banyak orang. Ya, kan? Bergizi pula. Jika sudah terlanjur lunak, malah lebih mudah dimakan oleh nenek-nenek dan kakek-kakek yang giginya tinggal dua itu kan? Aku juga doyan. Tak mengapa menjadi wortel lunak, asal menjadi wortel lunak yang bermanfaat. Betul tidak?
Kopi juga banyak penggemarnya. Pasti banyak yang mau minum kopi… Ya, kan?

Yah, begitulah kira-kira kisah “telur, wortel, dan biji kopi tumbuk” versi Reni. :) (aneh ya? hihi… )

Khoirunnas anfa’uhum linnas.
Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

:)

Kategori: catatanku
Ditandai: , , , ,