Tempat tinggalku di Cililitan terletak persis di samping sebuah TK Islam bernama Bustanul Ilmi. TK ini “beroperasi” dari hari senin sampai dengan sabtu. Beruntunglah aku yang tidak perlu masuk kerja pada hari sabtu sehingga masih berkesempatan untuk mengintip para TKwan dan TKwati belajar atau sekedar bermain di TK itu.
Siapa sih yang tidak suka melihat anak-anak kecil itu? Wajah-wajah polos itu, wajah-wajah tanpa dosa itu, wajah-wajah penuh tawa itu (juga wajah-wajah penuh tangis itu… udah TK tapi masih pada cengeng… ) sungguh menyenangkan untuk dilihat. Menyejukkan hati.
Melihat mereka tertawa, aku ikut tertawa. Melihat mereka menangis, aku pun tertawa lagi (lho kok?). Melihat mereka tak pusing memikirkan harga pertamax naik berulang kali (emang mereka tahu gitu kalo pertamax naik mulu?), aku pun ikut tak pusing.
Mereka menular. Mereka menyebarkan aura kebaikan. Itu yang kurasakan.
Aku suka melihat anak-anak kecil itu, kadang suka menggoda mereka (padahal sebenarnya aku ndak pinter nggodain anak kecil, lho… aku garing… ). Anda juga suka kan melihat mereka? Akui sajalah…
Sabtu kemarin, aku kembali melihat para TKwan dan TKwati itu. Namun, ada yang lain di sabtu kemarin. Ada yang berbeda. Apakah itu? Apa ya? Apa hayo…
Biasanya, pada sabtu-sabtu sebelumnya, mereka mengenakan baju olahraga. Namun, pada sabtu kemarin, baju olahraga mereka berubah menjadi toga. Ooowww, ternyata mereka akan diwisuda! Aku baru ingat bahwa sekarang sudah bulan Juni dan mereka sudah menyelesaikan pendidikannya di TK itu.
Ada lagi yang tidak biasa pada sabtu kemarin. Para TKwati berubah. Wajah polos mereka berganti rupa menjadi wajah merahkuninghijau (sebutanku untuk wajah bermake up). Bibir mereka berubah menjadi merah. Kelopak mata mereka berubah menjadi kuning keemasan, bahkan ada yang menjadi hijau!
Seorang TKwan memperhatikan seorang TKwati dengan pandangan berbeda, pandangan penuh kekaguman. Dia mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya. Mungkin dia berkata, “Wah, kamu cantik,” sebab setelah itu kulihat si TKwati tersipu malu.
Melihat kejadian itu, aku tiba-tiba teringat dengan kejadian pada hari wisudaku, sembilan bulan yang lalu. Saat itu, beberapa orang temanku memperhatikanku dengan pandangan berbeda. Apakah pandangan penuh kekaguman? Kurasa bukan.
“Ren, kok polosan? Nggak sempet ke salon, ya? Nggak sempet dandan, ya?” tanya seorang temanku. Dia memperhatikanku dengan pandangan penuh keheranan, bukan penuh kekaguman. ![]()
Di saat hampir semua teman perempuanku bermerahkuninghijau, aku dengan penuh percaya diri memasang wajah polos tanpa dosa (tanpa dosa? istighfar Ren… kamu tu banyak dosa… istighfar…). Wajahku polos, tanpa merah barang setitik, tanpa kuning barang sepercik, tanpa hijau barang sedikit…
Aku bukannya tak sempat bermerahkuninghijau, tapi memang tak menyempatkan diri. Aku tak suka bermerahkuninghijau. Kalau untuk menjaga kesehatan kulit dan merawatnya supaya tetap sehat, aku masih oke-oke saja. Kalau untuk pembelab, eh, pelembam, eh, pelebmab, eh pelembab maksudku, juga benda yang mirip tepung itu (waduh, Ren, itu bukan tepung…), dan benda-benda lain yang tidak mengubah kepolosan wajahku, aku juga masih oke-oke saja. Tapi, tidak untuk merahkuninghijau itu… Tidak yang itu…
Beberapa hari sebelum hari wisuda itu, aku sudah sempat sedikit bersitegang dengan kakakku hanya karena masalah merahkuninghijau ini. Aku tidak mau bermerahkuninghijau pada hari wisudaku, sedangkan kakakku sangat mau. Aku keukeuh, dia juga keukeuh.
“Nanti malu-maluin, Ren. Malu-maluin. Nanti kamu sendiri yang beda. Jangan mbedani gitu to. Kenapa sih nggak mau? Nggak tebel kok, tipis aja. Nggak apa-apa…” begitu katanya.
“Nggak mau, Mba… Tenang aja, nggak malu-maluin. Nanti banyak kok temenku yang gitu. Nggak mbedani, kok. Lagian, di wisuda itu yang penting kan tali yang tadinya nglawer-nglawer di sebelah kiri jadi pindah ke sebelah kanan. Iya kan?” begitu jawabku.
Dan akhirnya pun kakakku mengalah. Dia tidak memaksaku untuk bermerahkuninghijau. Yah, aku bilang tak mau ya tak mau, tak suka ya tak suka. Mungkin, belum suka. Mungkin, jika suamiku kelak memintaku untuk bermerahkuninghijau, baru aku suka. Toh, bermerahkuninghijau untuk suami merupakan suatu kebaikan, kan? Berpahala malah. Tapi, hingga saat ini, aku masih tak suka bermerahkuninghijau. Tak tahu nanti. Titik.
Ketika acara wisuda berlangsung, karena aku duduk di barisan terdepan, wajah polosku berulangkali tertangkap kamera. Sering kumelihat wajahku menongolkan diri di layar besar yang bisa dilihat oleh semua wisudawan dan para pendampingnya.
Di layar besar itu, dengan jelasnya, wajah polosku bersanding dengan wajah merahkuninghijau teman-temanku yang duduk di samping kanan kiriku. Begitu kontras. Ingin rasanya kucubit si kameraman wisudaku itu. Begitu tega dia mengekspose kekontrasan itu… Teganya, teganya, teganya, teganya, teganya, teganya… :nyanyi:
Di layar besar itu, dengan jelasnya, bisa terlihat bahwa aku memang “mbedani”. Dan kakakku pasti melihat bahwa aku memang “mbedani”. Dan aku membayangkan, setelah acara wisuda selesai, dia akan menyerangku dengan serbuan kata “malu-maluin”, karena mungkin baginya aku benar-benar “malu-maluin”.
Tapi ternyata aku salah, tidak ada serangan sama sekali tuh… sehabis wisuda, kami malah sibuk foto sana foto sini, jepret sana jepret sini… Syukurlah…
Yah, begitulah kisah hari wisudaku.
Ah, sudahlah, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Betul kan? Biarlah berlalu…
Kita kembali ke masa kini.
Kita kembali ke para TKwan dan TKwati yang sudah bukan TKwan dan TKwati lagi. Sebentar lagi, mereka akan menjadi para SDwan dan SDwati, lalu menjadi SMPwan dan SMPwati, lalu menjadi SMAwan dan SMAwati, dan seterusnya…
Semoga mereka belajar dengan giat dan kelak menjadi para pemimpin bangsa yang akan membawa bangsa ini ke dalam kejayaan, kesejahteraan, dan keadilan yang selama ini diimpi-impikan oleh kita semua.
Aamiiin.

