Kemarin malam, aku mengalami pengalaman yang agak menakutkan (menakutkan bagiku, tak tahu bagimu). Seekor hewan tak dikenal tiba-tiba masuk ke dalam telingaku. Aku lupa bagaimana awal mula kronologis ceritanya, yang aku tahu, tiba-tiba si hewan sudah berada di dalam telingaku. Aku takut, bingung, panik.
Saat itu sudah agak larut malam, sekitar jam sepuluh. Semua orang rumah sudah tidur. Aku semakin panik, tak tahu apa yang harus aku lakukan kepada hewan kecil di telingaku. Dia bergerak-gerak, seperti ingin segera keluar. Sepertinya tak hanya aku yang takut, bingung dan panik, tapi hewan itu juga. Aku ingin menolongnya. Tapi, bagaimana cara mengeluarkannya? Aku tak tahu.
Sepuluh menit awal, aku mencoba menenangkan diri. Aku mencoba mencari tahu siapa sebenarnya hewan yang tiba-tiba masuk ke telingaku itu. Dari ukurannya, aku menebak dia adalah seekor semut. Lalu, aku teringat dengan postinganku tentang semut. Aku khawatir, jangan-jangan yang masuk ke dalam telingaku adalah semut yang bisa bicara itu, yang kemarin menjadi objek pengamatanku. Aku berdoa semoga bukan dia, tapi entahlah…mungkin memang benar dia.
Sudah sepuluh menit lewat, si hewan tak kunjung berhasil mengeluarkan dirinya. Aku merasakan dia semakin panik. Dan aku pun ikut semakin panik. Panikku sekarang lebih kepada memikirkan diriku sendiri, memikirkan kelangsungan fungsi telingaku. Aku takut, jangan-jangan si hewan tak bisa keluar, dia malah akan semakin masuk, dan masuk, dan masuk… Oh, tidak. Aku takut, takut sekali.
Karena aku ketakutan, aku memutuskan untuk menelepon Ibu. Aku berharap Ibu akan memberi solusi atas masalahku ini. Ibu yang sedang terlelap di Kebumen sana terpaksa bangun dari tidurnya untuk melayani keluhanku. Ibu bilang, segera pergi ke dokter. Aku tercenung, malam-malam begini pergi ke dokter? Apa tidak lebih baik besok saja? Lagipula, si hewan baru bersemayam selama sepuluh menit di telingaku. Siapa tahu, dia sebentar lagi keluar. Kuputuskan untuk menunggu selama setengah jam. Jika selama setengah jam si hewan tak kunjung keluar, aku putuskan untuk segera pergi ke dokter (tapi, kalo ada yang mau nemenin… ).
Mencoba setengah jam itu. Menunggu. Perasaan takut, bingung, dan panik masih terus menyelimutiku. Aku mencoba merasakan setiap gerak yang si hewan lakukan. Dia kadang diam, kadang bergerak. Ketika dia diam, aku takut, takut dia sudah tak hidup lagi. Tapi, ketika dia bergerak, aku juga takut, takut dia akan bergerak lebih ke dalam… Aku ingin dia tetap hidup, tapi jangan bergerak ke dalam. Bergeraklah keluar wahai hewan, jangan menyerah, kau pasti bisa, begitu aku menyemangatinya. Tapi, sepertinya dia tak mendengarku.
Selama masa menungguku yang setengah jamku, aku mengirim sms kepada tiga orang temanku, mencoba mendapatkan solusi selain pergi ke dokter. Hanya dua orang yang membalas smsku, dan keduanya memberi solusi yang sama: masukkan air ke dalam telingaku sampai penuh, lalu segera keluarkan air itu, dan berharaplah si hewan ikut keluar terbawa arus.
Aku melongo sesaat. Apakah tidak berbahaya? Memasukkan air ke dalam telinga? Bukankah itu berbahaya? Tapi, mengapa kedua temanku sama-sama memberi solusi seperti itu, ya?
Dengan mengucap doa terlebih dahulu, aku beranjak pergi ke kamar mandi. Lalu, aku pun melakukannya. Aku memasukkan air ke dalam telingaku, dan setelah kurasa penuh, segera kukeluarkan (don’t try this at home!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!).
Sudah kulakukan. Kutunggu beberapa saat untuk mengetahui hasilnya.
Tak ada yang bergerak-gerak lagi di telingaku. Sepertinya si hewan sudah keluar. Saran dari kedua temanku ternyata manjur sekali. Aku tak merasakan ada sesuatu lagi di telingaku. Beberapa menit aku mencoba merasakan hasilnya dengan seksama. Memang tak ada lagi dia.
Aku sedikit lega.
Aku mencoba mencari hewan itu. Tak kulihat seekor semut di lantai kamar mandi. Tak kutemukan seekor hewan pun di lantai kamar mandi. Siapakah dia sebenarnya? Apakah dia semut yang kemarin bisa bicara itu? Apakah dia masih hidup? Atau sudah mati? Jika sudah mati, dimana jasadnya? Dimana dia??? Aku ingin sekali melihatnya.
Tapi, tak kunjung kutemukan dia. Entah dia semut yang bisa bicara itu, entah bukan. Entah dia masih hidup, entah dia sudah mati. Dia tak kunjung kutemukan. Mungkin memang benar dia sudah mati. Dan sepertinya dia sudah mati…
Aku sedih. Semut itu dan kawan-kawannya sudah pernah membuatku terkesan dengan kebersamaan mereka, dengan ketidakegoisan mereka. Dan kini, salah satu dari mereka meninggalkanku. Dia terjebak di dalam telingaku, dan aku terpaksa mengeluarkannya dengan cara yang menyakitkan… Oh, maafkan aku…
Tapi…
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Sesungguhnya kita ini adalah milik Allah, dan kita semua akan kembali lagi kepadaNya.
Bukankah begitu, Ren? Kurasa aku harus mengikhlaskannya.
Kematian. Tiba-tiba aku teringat akannya.
Malam kemarin, kematian hewan itu. Malam nanti, entah siapa. Mungkin aku. Mungkin kamu. Mungkin kita.
Kematian. Tiba-tiba aku ingin membicarakannya.
Ehmmm, apa yang akan kubawa nanti ketika aku menghadapNya ya?
Ehmmm…
Kematian. Agak menyeramkan untuk dibicarakan, jadi kuputuskan untuk berbicara sedikit tentangnya. Padahal itu sesuatu yang sudah pasti akan terjadi padaku, padamu, pada kita, tapi kenapa aku seram membicarakannya ya?
Mungkin lebih nyaman berbicara tentang kehidupan, bukan kematian. Ya sudah lah, berbicara tentang kehidupan saja… ![]()
Ah, tak ada salahnya kembali menengok tujuan manusia hidup di dunia ini, tujuan hidupku…tujuan hidup kita…
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS Adz Dzariyat: 56)
(sekedar postingan untuk mengingatkan diri sendiri akan adanya kematian setelah kehidupan, dan akan adanya kehidupan setelah kematian)

