“Fairuz”

Yang Bagai Hujan

20 Juni, 2008 · & Komentar

Beberapa hari ini aku sering menemukan puisi-puisi indah di beberapa blog favoritku.

Aku membaca ini, ini, ini, dan ini-ini lainnya. Tiba-tiba, aku menjadi iri. Mengapa aku iri? Jawabannya mudah ditebak: aku tidak bisa membuat puisi seindah yang mereka buat. Eh, bukan tidak bisa, tapi belum bisa… :D

Puisi dan puitis adalah dua kata yang tak begitu akrab dengan sosok seorang Reni (ni lagi mencoba puitis, sudah berhasilkah?). Sejak kecil, daku tak terlalu suka berpuisi dan berpuitis ria. Tak pandai daku merangkai kata indah penuh makna. Perbendaharaan kataku yang minim membuatku hanya bisa menggunakan kata-kata yang itu-itu saja. Bacalah postingan-postinganku sebelum ini, dikau akan menemukan bukti dan menyetujui pernyataanku.

Ingin rasa hati bisa berpuisi dan berpuitis, tapi apa daya, tangan belum sampai. Selain tangan belum sampai, ternyata daku memang tak terlalu berminat pada puisi. Buktinya, sejak dari bangku SD (dari TK, ding) hingga SMA, daku tak pernah membuat puisi selain jika disuruh bapak/ibu guru di sekolah. (jaman kuliah seingatku sih ga pernah disuruh bikin puisi ma dosen… pernah ga ya? wahai teman-teman kuliahku, ijinkan daku bertanya, pernahkah kita dulu disuruh bikin puisi ma dosen?)

Dari sekian sedikit puisi yang Reni buat, hanya satu puisi yang bisa daku ingat (itu pun cuma ingat sama judul dan satu baitnya doang… ). Sebegitu berkesannyakah puisi itu hingga daku bisa mengingatnya? Yah, mungkin bisa dibilang begitu. Ah, entah juga. Daku tak tahu dimana sisi berkesannya.

Daku membuat puisi itu sewaktu SMA kelas dua.
Suatu hari, Ibu Guru Bahasa Indonesia menyuruh murid-muridnya untuk membuat puisi. Dengan agak kurang bersemangat, akhirnya daku membuatnya. (BTW, kok dari tadi pake daku-dakuan ya? Emang kalo ingin puitis, harus pake “daku” ya, Ren?).

Kubuat puisi itu dengan cepat. Karena agak bosan menunggu teman-teman lain yang belum menyelesaikan puisinya, aku pun melakukan perbuatan yang agak tercela. Kuganggu teman-temanku itu. Tak dinyana, sang Ibu Guru melihat itu dan tiba-tiba memanggil namaku. Lalu, tiba-tiba Ibu Guru menanyakan puisiku itu. Kemudian, tiba-tiba lagi Ibu Guru memintaku untuk membacakannya di depan teman-teman. Dan tiba-tiba lagi, tahu-tahu aku sudah membacakannya. Aku hanya ingat judul dan salah satu baitnya (kalo ga salah sih dulu aku berhasil membuat tiga-empat bait… ).

Yang Bagai Hujan
(abis baca judul, terus ngomong kayak gini: buah karya Reni Saptati Dwi Iswari… :mrgreen: )

Kau
Yang bagai hujan
Yang ditemani guntur
Yang ditemani kilat

Sudah. Itu saja yang kuingat.
Baguskah puisiku? (serentak para pembaca blogku menjawab: ga bagussssss)
Kata Ibu Guru, puisiku bagus. Dimana letak bagusnya, ya? :roll:
Ibu Guru mengira puisi itu ditujukan untuk seseorang, pujaan hatiku. Seseorang yang telah membawa banyak kebahagiaan sekaligus kesedihan dan ketakutan (ketakutan? ngapain takut ma pujaan hati ya?). Waduh, mengapa Ibu Guru berpikir sejauh itu? Wah, siapa ya pujaan hatiku? Diriku sendirikah? Puisi itu kutujukan untuk diriku sendiri? Betapa narsisnya diriku…

“Yang Bagai Hujan”.
Hujan memberi inspirasi.
Aku pernah melihat seorang teman sekelasku begitu gembira ketika hujan yang sudah berbulan-bulan tidak mengguyur Kebumen, tidak mengguyur sekolahku, tiba-tiba datang. Brress!!! Air hujan membasahi genteng sekolah, lapangan basket, dan tanah… Temanku tiba-tiba berteriak dengan girang, “Bau tanah, bau tanah…”
Aku terpukau melihat reaksi kebahagiaanya itu… Dia begitu gembira… begitu senang… dia tertawa dengan riang… matanya bersinar-sinar… Sehebat itunyakah hujan?

Aku ingin ada seseorang “yang bagai hujan”. Yang ketika dia datang, ada seseorang yang menyambutnya dengan gembira, seperti gembiranya temanku saat hujan itu datang. Jika memang puisi itu kutujukan untuk diriku sendiri, ya tidak apa-apa kan? Aku kan juga ingin ada seseorang yang menyambut “kedatangan”ku dengan bahagia. :D

Jika puisi itu memang kutujukan untuk seseorang, ya tidak apa-apa juga sih… Kalau ada seseorang yang datang kepadaku dan aku menjadi bahagia karenanya, ya mengapa tidak? (pertanyaannya: kapan dia akan datang ya? :) )

Lalu, “yang ditemani guntur” dan “yang ditemani kilat” itu maksudnya apa ya?

Kalau hujan datang, biasanya dia ditemani oleh guntur dan kilat. Guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar… Ooowww, seram… Tapi, memang begitu adanya. Hujan datang biasanya ditemani guntur dan kilat.
Kadang kita harus menerima seseorang yang datang ke dalam hidup kita dalam satu paket. Kekurangan dan kelebihannya tergabung dalam satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Satu paket yang harus berusaha kita terima apa adanya dengan penuh keikhlasan.

Sekarang, aku tak pernah melihat ada seseorang yang seperti teman sekelasku itu, yang menyambut kedatangan hujan dengan begitu gembira. Sekarang, kebanyakan yang aku lihat, orang-orang sedih ketika hujan datang… Kata mereka (kataku juga sebenarnya… :D ), jadi tidak bisa bepergian lah, jadi banjir lah, jadi becek lah… (udah ujyan, becyek, ga adya ojyek, uh…capye deh… )

Jika sekarang puisiku kubaca lagi, mungkin aku bisa ditertawakan. Mungkin akan ada banyak orang terheran-heran. Masak aku ingin menjadi “yang bagai hujan”? Masak aku menanti kedatangan seseorang “yang bagai hujan”? Menanti banjir dong…

Ingin aku menulis puisi yang indah seperti dia, dia, dia, dan dia-dia lainnya. Iri aku dengan mereka. Maaf ya jika aku iri… Maaf… Lebih iri lagi ketika aku berkunjung ke sini dan sini. Sekali lagi maaf jika aku iri…
Suatu saat nanti, semoga aku bisa membuat puisi atau menulis dengan indah, seperti kalian… :)
Hingga sekarang, “Yang Bagai Hujan” masih menjadi anak bontot. Setelahnya, aku belum melahirkan karya baru. Kira-kira kapan ya adik “Yang Bagai Hujan” lahir?

Hemmm, tunggu saja ya.

Kategori: catatanku
Ditandai: ,