Beberapa hari ini aku sering menemukan puisi-puisi indah di beberapa blog favoritku.
Aku membaca ini, ini, ini, dan ini-ini lainnya. Tiba-tiba, aku menjadi iri. Mengapa aku iri? Jawabannya mudah ditebak: aku tidak bisa membuat puisi seindah yang mereka buat. Eh, bukan tidak bisa, tapi belum bisa…
Puisi dan puitis adalah dua kata yang tak begitu akrab dengan sosok seorang Reni (ni lagi mencoba puitis, sudah berhasilkah?). Sejak kecil, daku tak terlalu suka berpuisi dan berpuitis ria. Tak pandai daku merangkai kata indah penuh makna. Perbendaharaan kataku yang minim membuatku hanya bisa menggunakan kata-kata yang itu-itu saja. Bacalah postingan-postinganku sebelum ini, dikau akan menemukan bukti dan menyetujui pernyataanku.
Ingin rasa hati bisa berpuisi dan berpuitis, tapi apa daya, tangan belum sampai. Selain tangan belum sampai, ternyata daku memang tak terlalu berminat pada puisi. Buktinya, sejak dari bangku SD (dari TK, ding) hingga SMA, daku tak pernah membuat puisi selain jika disuruh bapak/ibu guru di sekolah. (jaman kuliah seingatku sih ga pernah disuruh bikin puisi ma dosen… pernah ga ya? wahai teman-teman kuliahku, ijinkan daku bertanya, pernahkah kita dulu disuruh bikin puisi ma dosen?)
Dari sekian sedikit puisi yang Reni buat, hanya satu puisi yang bisa daku ingat (itu pun cuma ingat sama judul dan satu baitnya doang… ). Sebegitu berkesannyakah puisi itu hingga daku bisa mengingatnya? Yah, mungkin bisa dibilang begitu. Ah, entah juga. Daku tak tahu dimana sisi berkesannya.
Daku membuat puisi itu sewaktu SMA kelas dua.
Suatu hari, Ibu Guru Bahasa Indonesia menyuruh murid-muridnya untuk membuat puisi. Dengan agak kurang bersemangat, akhirnya daku membuatnya. (BTW, kok dari tadi pake daku-dakuan ya? Emang kalo ingin puitis, harus pake “daku” ya, Ren?).
Kubuat puisi itu dengan cepat. Karena agak bosan menunggu teman-teman lain yang belum menyelesaikan puisinya, aku pun melakukan perbuatan yang agak tercela. Kuganggu teman-temanku itu. Tak dinyana, sang Ibu Guru melihat itu dan tiba-tiba memanggil namaku. Lalu, tiba-tiba Ibu Guru menanyakan puisiku itu. Kemudian, tiba-tiba lagi Ibu Guru memintaku untuk membacakannya di depan teman-teman. Dan tiba-tiba lagi, tahu-tahu aku sudah membacakannya. Aku hanya ingat judul dan salah satu baitnya (kalo ga salah sih dulu aku berhasil membuat tiga-empat bait… ).
Yang Bagai Hujan
(abis baca judul, terus ngomong kayak gini: buah karya Reni Saptati Dwi Iswari…
)
Kau
Yang bagai hujan
Yang ditemani guntur
Yang ditemani kilat
Sudah. Itu saja yang kuingat.
Baguskah puisiku? (serentak para pembaca blogku menjawab: ga bagussssss)
Kata Ibu Guru, puisiku bagus. Dimana letak bagusnya, ya? ![]()
Ibu Guru mengira puisi itu ditujukan untuk seseorang, pujaan hatiku. Seseorang yang telah membawa banyak kebahagiaan sekaligus kesedihan dan ketakutan (ketakutan? ngapain takut ma pujaan hati ya?). Waduh, mengapa Ibu Guru berpikir sejauh itu? Wah, siapa ya pujaan hatiku? Diriku sendirikah? Puisi itu kutujukan untuk diriku sendiri? Betapa narsisnya diriku…
“Yang Bagai Hujan”.
Hujan memberi inspirasi.
Aku pernah melihat seorang teman sekelasku begitu gembira ketika hujan yang sudah berbulan-bulan tidak mengguyur Kebumen, tidak mengguyur sekolahku, tiba-tiba datang. Brress!!! Air hujan membasahi genteng sekolah, lapangan basket, dan tanah… Temanku tiba-tiba berteriak dengan girang, “Bau tanah, bau tanah…”
Aku terpukau melihat reaksi kebahagiaanya itu… Dia begitu gembira… begitu senang… dia tertawa dengan riang… matanya bersinar-sinar… Sehebat itunyakah hujan?
Aku ingin ada seseorang “yang bagai hujan”. Yang ketika dia datang, ada seseorang yang menyambutnya dengan gembira, seperti gembiranya temanku saat hujan itu datang. Jika memang puisi itu kutujukan untuk diriku sendiri, ya tidak apa-apa kan? Aku kan juga ingin ada seseorang yang menyambut “kedatangan”ku dengan bahagia.
Jika puisi itu memang kutujukan untuk seseorang, ya tidak apa-apa juga sih… Kalau ada seseorang yang datang kepadaku dan aku menjadi bahagia karenanya, ya mengapa tidak? (pertanyaannya: kapan dia akan datang ya?
)
Lalu, “yang ditemani guntur” dan “yang ditemani kilat” itu maksudnya apa ya?
Kalau hujan datang, biasanya dia ditemani oleh guntur dan kilat. Guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar… Ooowww, seram… Tapi, memang begitu adanya. Hujan datang biasanya ditemani guntur dan kilat.
Kadang kita harus menerima seseorang yang datang ke dalam hidup kita dalam satu paket. Kekurangan dan kelebihannya tergabung dalam satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Satu paket yang harus berusaha kita terima apa adanya dengan penuh keikhlasan.
Sekarang, aku tak pernah melihat ada seseorang yang seperti teman sekelasku itu, yang menyambut kedatangan hujan dengan begitu gembira. Sekarang, kebanyakan yang aku lihat, orang-orang sedih ketika hujan datang… Kata mereka (kataku juga sebenarnya…
), jadi tidak bisa bepergian lah, jadi banjir lah, jadi becek lah… (udah ujyan, becyek, ga adya ojyek, uh…capye deh… )
Jika sekarang puisiku kubaca lagi, mungkin aku bisa ditertawakan. Mungkin akan ada banyak orang terheran-heran. Masak aku ingin menjadi “yang bagai hujan”? Masak aku menanti kedatangan seseorang “yang bagai hujan”? Menanti banjir dong…
Ingin aku menulis puisi yang indah seperti dia, dia, dia, dan dia-dia lainnya. Iri aku dengan mereka. Maaf ya jika aku iri… Maaf… Lebih iri lagi ketika aku berkunjung ke sini dan sini. Sekali lagi maaf jika aku iri…
Suatu saat nanti, semoga aku bisa membuat puisi atau menulis dengan indah, seperti kalian… ![]()
Hingga sekarang, “Yang Bagai Hujan” masih menjadi anak bontot. Setelahnya, aku belum melahirkan karya baru. Kira-kira kapan ya adik “Yang Bagai Hujan” lahir?
Hemmm, tunggu saja ya.


18 tanggapan so far ↓
ahsinmuslim // 20 Juni, 2008 pada 2:44 pm |
Alhamdulillah, saya yang pertama…
Oo, saya tahu sekarang mengapa si empunya blog manis ini timbul rasa iri dalam dada.
segera bersihkan noda tersebut ya…
caranya: selalu belajar dan belajar. tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika kita mau sedikit berusaha.
saya yakin kamu akan bisa berkarya lebih baik.
tunjukkan pada dunia bahwa seorang fairuzdarin juga bisa berkarya dengan bagus
tetap semangat!!
fairuzdarin : Mas Ahsin sering menjadi yang pertama ya?

Baiklah, daku akan belajar dan belajar. Kalau nanti puisiku lebih bagus daripada punya Mas, jangan iri ya…
Iri? Emang Reni?
zoel chaniago // 20 Juni, 2008 pada 3:07 pm |
hehehehhehe masa’ g’ bisa…
fairuzdarin : Insya Allah bisa, hanya belum bisa…
!nov // 20 Juni, 2008 pada 3:30 pm |
aku juga pengen ada seseorang “yang bagai hujan”,, *hehe* yang bisa membawa kegembiraan =) walau pastinya dia juga “ditemani guntur dan kilat”, asal kita ikhlas menerimanya, juga si “yang bagai hujan” mau menerima “daku” *hehehe* yang penuh dengan “guntur dan kilat” =)
tapi kapan ya??
“daku” masih jauuh menantinya… =)
fairuzdarin : Adek Inov kan masih kecil, masih SMA, ya masih jauuuh menantinya…
langitjiwa // 20 Juni, 2008 pada 5:38 pm |
aku sangat yakin kamu pasti bisa,mas.
salamku
fairuzdarin : wah, sang penyair datang…
Insya Allah Mba Reni bisa…semoga…
Yoyo // 20 Juni, 2008 pada 6:19 pm |
merendah banget gitu loch…..:)
fairuzdarin : bukan merendah kok, beneran lom bisa…
achoey sang khilaf // 20 Juni, 2008 pada 7:31 pm |
aku tahu kau hanyalah sedang merendah
begitu kuat potensimu tuk membuat bait-bait yang dahsyat
dan kau hanya sedangt menyembunyikannya sejenak
segeralah tunjukkan pada dunia hai sahabat!
fairuzdarin : bukan merendah…
kalo mas achoey bilang gitu, daku jadi semangat…
tjahboement // 20 Juni, 2008 pada 8:53 pm |
“Setiap tetes air yang turun dari langit senantiasa dirindukan olehku, juga orang tuaku dan orang2 sekampungku. Karena hujan adalah berkah, buat semua umat yang ada di dunia ini. Jika hujan datang, aku bahagia karena bisa nyuci mandiin motor gratis sepuasnya. Bapak ibuku dan teman2 seprofesinya bahagia karena tanah sawah kembali menghisap air. Hewan2 juga senang karena tidak dehidrasi lagi. Apalagi yang tinggal di daerah susah air bersih. Kaya yang lagi mbaca ini, he he he…….”
fairuzdarin : sama kayak yang bikin postingan…
!nov // 20 Juni, 2008 pada 11:17 pm |
Kalo cuman “kagum” gapapa kan mas?
hehehe
fairuzdarin : boleh ga ya?

ini mba, bukan mas…
FaNZ // 21 Juni, 2008 pada 7:30 pm |
Jadi postingan diatas bukan puisi?
Koq kata2nya puitis yak?
fairuzdarin : benarkah kata2ku puitis? benarkah???
nenyok // 22 Juni, 2008 pada 9:53 am |
salam

plis *menjura 3 kali*
Reni, nama yang sangat perempuan
Engkau pastinya cantik dan periang
Namun hanya bisa kusentuh bayangmu
Indah dalam angan
*wealah, iki ko sok puitis ya Ren*
Eh bener ga sie bahasa jawa ku
Swear aku ngiri baca tulisan Ren, mengalir.. sederhana, enak dicerna tapi mengena *ini pujian tulus lho* ajarin dong Cantik
fairuzdarin : wah, aku dibikinin puisi…


wah, aku dipuji ma mba nenyok…
tulisan jawanya bener kayaknya deh…
jadi salting ni…
Rindu // 22 Juni, 2008 pada 10:33 pm |
Menulislah dengan bahasa jiwa … hasilnya adalah jiwa, terasa hidup tulisan itu sendiri. Ah saya sok tahu
fairuzdarin : ooo, jadi itu rahasianya ya, mba? makasih ya atas bagi-bagi rahasianya…
tukangobatbersahaja // 23 Juni, 2008 pada 9:05 am |
Saya juga tidak pandai membuat puisi…
tapi bisa itu karena biasa.
biasa menjadi rutin
rutin menjadi ahli
*ayo buat puisi dari hati*
fairuzdarin : aku selama ini emang nggak biasa bikin puisi sih, mba…
yuk, buat puisi dari hati…
fauziah // 23 Juni, 2008 pada 4:57 pm |
Aku setuju ma Ibu Gurumu kok Ren..
BTW, kalo menggambarkan dengan hujan, aku pernah bikin baris kaya gini:
Dirimu, satu hujan dalam hariku
Menyejukkan, tapi membuatku flu
Hampir semua yang pernah baca bilang kalo puisiku aneh.
kqkqkqk
fairuzdarin : wah, ada yang setuju ma Ibu Guru…
Puisi Nur bagus juga, lho…
Farijs van Java // 23 Juni, 2008 pada 5:32 pm |
welehwelehâ„¢… dah ganti kelamin rupanya, kau dek.
(^_^)v
jangan sampe ada orang “yang bagai hujan di malam hari ditambah petir-guntur bergemuruh tanpa bulan dan bintang yang ada hanyalah gelap-gulita menyelimuti hati”.
halah, paan sih?
fairuzdarin : iya nih, orang-orang banyak yang manggil aku mas…
padahal, avatarku dah manis gitu…
wah, abang takut ma orang “yang bagai hujan di malam …. menyelimuti hati” itu ya? mau aku usir orang itu dari hidup abang?
Fikar // 23 Juni, 2008 pada 6:26 pm |
hhe…..
ajari buat puisi mas
fairuzdarin : saya aja lagi minta diajari nih, mas…
mrs.children // 26 Juni, 2008 pada 2:58 pm |
biar kata merasa gak puitis tapi dikau pandai menulis lohk! >u<
(loh? jd pake dikau? gak apa deh, ‘dikau’ temennya ‘daku’ kan
hehehe)
fairuzdarin : daku pandai menulis??? aamiiin…
akupetta // 2 Juli, 2008 pada 12:53 pm |
he’eh setuju,
tak perlu sulit-sulit berpuisi,
yang penting semua suka semua bahagia,
mbak, blognya baguuus kok
salam kenal!
fairuzdarin : salam kenal…
wah, makasih dibilang bagus…
habib // 27 Juni, 2009 pada 12:06 am |
puisinya bagus mbak..
sangat penuh makna..
mantap..