“Fairuz”

Deja vu?

24 Juni, 2008 · & Komentar

Hari Kamis lalu.

Seorang perempuan berumur tiga puluhan tahun dan seorang anaknya yang masih TK.

Aku berdiri di depan rumah mereka, berdiri di antara keramaian orang yang sedang bertamu ke rumah mereka. Ah, aku dan orang-orang itu bukan sedang bertamu… kami sedang bertakziyah… Suami perempuan itu, ayah anak itu, baru saja meninggal dunia.

Aku memperhatikan mereka: perempuan itu dan anaknya.
Perempuan itu berwajah murung, matanya sembab karena habis menangis. Namun, dia masih sempat tersenyum ketika ada beberapa orang tamu berpamitan pulang dan menyalaminya.
Si anak tak terlihat murung. Dia malah sering tersenyum. Ketika ada tamu yang tiba-tiba mengajaknya ngobrol atau sekedar mengelus kepalanya, senyumnya menjadi lebih lebar.

Sebuah perasaan aneh merayapi hatiku. Aku merasa pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Deja vu?

Aku berusaha mengingat dimana dan kapan kejadian itu berlangsung. Tak ada kejadian yang seperti ini. Aku pernah bertakziyah beberapa kali, tapi tak ada perempuan muda berumur tiga puluhan tahun dan anak yang masih TK.

Lalu, aku teringat akan Ibu dan diriku sendiri.

Mungkinkah aku merasakan deja vu pada hal yang hanya pernah aku bayangkan? Bukan pada hal yang pernah aku alami?

Ketika aku masih berumur empat tahun, ayahku meninggal dunia. Saat itu, Ibu masih berumur 33 tahun. Kata Ibu dan orang-orang terdekatku, ketika ayahku meninggal, aku tak menangis sama sekali. Aku digendong kesana kemari oleh banyak orang karena Ibu sibuk menemui para pelayat. Aku diam, tidak rewel, tidak menangis, padahal saat itu banyak orang di sekitarku bersedih… tapi aku tak ikut tertular mereka…

Aku kadang membayangkan kejadian itu, kejadian di hari kematian ayahku. Mungkinkah aku mengalami deja vu pada hal yang hanya pernah aku bayangkan? Mungkin, iya.

Eh, tapi bukankah aku memang mengalaminya ya? Aku tidak bisa mengingatnya, tapi bukankah aku mengalami kejadian itu? Apakah kejadian yang hanya bisa aku bayangkan itu membuatku mengalami deja vu? Ah, entahlah.

(Muncul pertanyaan lain, apa benar aku mengalami deja vu?

:D )

Aku juga sering membayangkan berbagai kejadian lain yang berhubungan dengan ayahku, yang sering orang-orang ceritakan padaku.

Aku tak punya ingatan sedikitpun tentang beliau, jadi aku hanya bisa membayangkan. Aku tak tahu seperti apa wajahnya selain dari foto dan cerita orang-orang, tak pernah tahu suaranya, sifatnya, makanan dan minuman kesukaannya, kebiasaannya, dan lain-lain tentangnya selain dari cerita orang-orang. Padahal selama empat tahun lebih aku hidup bersamanya, tapi kenapa aku tak bisa mengingat apapun tentangnya ya? :roll:
(kan kamu masih kecil, Ren… masih empat tahun… terus kan kamu orangnya pelupa, jadi ya gak bisa inget apa-apa… )

Banyak orang mengira aku sedih dan merana karena tak punya ayah dan tak punya kenangan tentang ayah. Mereka salah. Aku malah bingung jika dianggap begitu. Biasa saja rasanya, tak ada kesedihan. Biasa saja.

Aku tak ingat bagaimana rasanya memiliki ayah, jadi ya aku tidak ingat bagaimana rasanya kehilangan ayah, jadi ya aku tidak merasa sedih jika teringat aku tak punya ayah dan kenangan tentangnya. Pada hari kematian ayahku, aku belum tahu bagaimana rasanya sedih kehilangan ayah (kan masih kecil, masih lom tahu apa-apa). Pada hari-hari selanjutnya, hingga sekarang, aku masih terus belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah, jadi ya tidak sedih. (muter-muter ngomongnya… jadi bingung sendiri… )

Hari Kamis lalu, aku melihat perempuan itu begitu kehilangan suaminya, sedih. Tapi, ketika melihat senyumnya, aku merasa yakin, kesedihannya hanya sementara. Ibuku dulu mungkin juga sepertinya, tapi toh Ibu mampu bangkit. Dan sepanjang ingatanku, selama aku hidup bersama Ibu, tak pernah sekalipun kulihat Ibu bersedih karena hidup tanpa suami.

Hari Kamis lalu, aku melihat anak TK itu tak menampakkan kesedihan meski ayahnya baru saja meninggal. Dulu, aku sepertinya. Dan esok, mungkin dia juga akan sepertiku.
Saat ini, mungkin dia belum merasa kehilangan ayahnya, karena dia belum memahami apa yang sedang terjadi padanya: kehilangan ayah. Mungkin, hingga seterusnya, dia tetap belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah, sepertiku (entah juga, dia kan sudah TK, lebih tua dari Reni kecil yang masih empat tahun).

Delapan belas tahun lagi (jika aku masih ada umur panjang), jika aku bertemu anak TK itu, mungkin aku akan mengalami deja vu lagi. Mungkin aku akan merasa melihat diriku di masa kini, yang tetap belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah.

Mungkin lho… Hanya mungkin…
Masa deja vu direncanakan?

:D

*******

Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, milik Allah apa yang Dia berikan, segalanya sudah ditentukan di sisi Allah bersifat sementara, maka hendaklah bersabar dan mengharapkan sepenuhnya kepada Allah.

Kategori: catatanku
Ditandai: ,