Hari Kamis lalu.
Seorang perempuan berumur tiga puluhan tahun dan seorang anaknya yang masih TK.
Aku berdiri di depan rumah mereka, berdiri di antara keramaian orang yang sedang bertamu ke rumah mereka. Ah, aku dan orang-orang itu bukan sedang bertamu… kami sedang bertakziyah… Suami perempuan itu, ayah anak itu, baru saja meninggal dunia.
Aku memperhatikan mereka: perempuan itu dan anaknya.
Perempuan itu berwajah murung, matanya sembab karena habis menangis. Namun, dia masih sempat tersenyum ketika ada beberapa orang tamu berpamitan pulang dan menyalaminya.
Si anak tak terlihat murung. Dia malah sering tersenyum. Ketika ada tamu yang tiba-tiba mengajaknya ngobrol atau sekedar mengelus kepalanya, senyumnya menjadi lebih lebar.
Sebuah perasaan aneh merayapi hatiku. Aku merasa pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Deja vu?
Aku berusaha mengingat dimana dan kapan kejadian itu berlangsung. Tak ada kejadian yang seperti ini. Aku pernah bertakziyah beberapa kali, tapi tak ada perempuan muda berumur tiga puluhan tahun dan anak yang masih TK.
Lalu, aku teringat akan Ibu dan diriku sendiri.
Mungkinkah aku merasakan deja vu pada hal yang hanya pernah aku bayangkan? Bukan pada hal yang pernah aku alami?
Ketika aku masih berumur empat tahun, ayahku meninggal dunia. Saat itu, Ibu masih berumur 33 tahun. Kata Ibu dan orang-orang terdekatku, ketika ayahku meninggal, aku tak menangis sama sekali. Aku digendong kesana kemari oleh banyak orang karena Ibu sibuk menemui para pelayat. Aku diam, tidak rewel, tidak menangis, padahal saat itu banyak orang di sekitarku bersedih… tapi aku tak ikut tertular mereka…
Aku kadang membayangkan kejadian itu, kejadian di hari kematian ayahku. Mungkinkah aku mengalami deja vu pada hal yang hanya pernah aku bayangkan? Mungkin, iya.
Eh, tapi bukankah aku memang mengalaminya ya? Aku tidak bisa mengingatnya, tapi bukankah aku mengalami kejadian itu? Apakah kejadian yang hanya bisa aku bayangkan itu membuatku mengalami deja vu? Ah, entahlah.
(Muncul pertanyaan lain, apa benar aku mengalami deja vu?
)
Aku juga sering membayangkan berbagai kejadian lain yang berhubungan dengan ayahku, yang sering orang-orang ceritakan padaku.
Aku tak punya ingatan sedikitpun tentang beliau, jadi aku hanya bisa membayangkan. Aku tak tahu seperti apa wajahnya selain dari foto dan cerita orang-orang, tak pernah tahu suaranya, sifatnya, makanan dan minuman kesukaannya, kebiasaannya, dan lain-lain tentangnya selain dari cerita orang-orang. Padahal selama empat tahun lebih aku hidup bersamanya, tapi kenapa aku tak bisa mengingat apapun tentangnya ya? ![]()
(kan kamu masih kecil, Ren… masih empat tahun… terus kan kamu orangnya pelupa, jadi ya gak bisa inget apa-apa… )
Banyak orang mengira aku sedih dan merana karena tak punya ayah dan tak punya kenangan tentang ayah. Mereka salah. Aku malah bingung jika dianggap begitu. Biasa saja rasanya, tak ada kesedihan. Biasa saja.
Aku tak ingat bagaimana rasanya memiliki ayah, jadi ya aku tidak ingat bagaimana rasanya kehilangan ayah, jadi ya aku tidak merasa sedih jika teringat aku tak punya ayah dan kenangan tentangnya. Pada hari kematian ayahku, aku belum tahu bagaimana rasanya sedih kehilangan ayah (kan masih kecil, masih lom tahu apa-apa). Pada hari-hari selanjutnya, hingga sekarang, aku masih terus belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah, jadi ya tidak sedih. (muter-muter ngomongnya… jadi bingung sendiri… )
Hari Kamis lalu, aku melihat perempuan itu begitu kehilangan suaminya, sedih. Tapi, ketika melihat senyumnya, aku merasa yakin, kesedihannya hanya sementara. Ibuku dulu mungkin juga sepertinya, tapi toh Ibu mampu bangkit. Dan sepanjang ingatanku, selama aku hidup bersama Ibu, tak pernah sekalipun kulihat Ibu bersedih karena hidup tanpa suami.
Hari Kamis lalu, aku melihat anak TK itu tak menampakkan kesedihan meski ayahnya baru saja meninggal. Dulu, aku sepertinya. Dan esok, mungkin dia juga akan sepertiku.
Saat ini, mungkin dia belum merasa kehilangan ayahnya, karena dia belum memahami apa yang sedang terjadi padanya: kehilangan ayah. Mungkin, hingga seterusnya, dia tetap belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah, sepertiku (entah juga, dia kan sudah TK, lebih tua dari Reni kecil yang masih empat tahun).
Delapan belas tahun lagi (jika aku masih ada umur panjang), jika aku bertemu anak TK itu, mungkin aku akan mengalami deja vu lagi. Mungkin aku akan merasa melihat diriku di masa kini, yang tetap belum tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah.
Mungkin lho… Hanya mungkin…
Masa deja vu direncanakan?
*******
Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil, milik Allah apa yang Dia berikan, segalanya sudah ditentukan di sisi Allah bersifat sementara, maka hendaklah bersabar dan mengharapkan sepenuhnya kepada Allah.


15 tanggapan so far ↓
zoel chaniago // 24 Juni, 2008 pada 3:24 pm |
hihi pertamaxxx
fairuzdarin : wah, cepet nian Anda datang… ni baru aja aku posting…
fauziah85 // 24 Juni, 2008 pada 3:36 pm |
Hiks… Alhamdulillah, aku masih lengkap.
Untunglah Reni yang kukenal begitu tegar. Kadang aku lupa tentang hal ini.
fairuzdarin : aku tegar??? wah, jadi keinget lagune Rossa…
achoey sang khilaf // 24 Juni, 2008 pada 10:18 pm |
yup
jadi kuncinya sabar
Sang Khilaf juga sedang berusaha bersabar
fairuzdarin : sabar menanti bidadari ya?
bidadarinya dijemput, mas… jangan dinanti terus…
ahsinmuslim // 25 Juni, 2008 pada 9:56 am |
Saya kok belum paham bener ya, apa arti de Javu?he..he… (malu)
sebentar biar coba ku terka, Tidak bisa merasakan kesedihan walau ditinggal oleh orang yang disayangi. benar gak ya?
fairuzdarin : ehmmm, artinya kira-kira sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa kejadian baru yang sedang kita rasakan pernah kita alami sebelumnya.
bener ga ya?
Fikar // 25 Juni, 2008 pada 10:02 am |
@ahsinmuslim : bener mas
fairuzdarin : oh, mas ahsin bener ya?
ahsinmuslim // 25 Juni, 2008 pada 10:05 am |
bolehlah kita merasa sedih dan kehilangan, yang tidak boleh khan klo rasa sedih dan kehilangan itu di buat berlarut-larut sehingga malah mengancam kesehatan diri sendiri dan tentunya membuat diri lupa akan hakikat hidup ini, lupa pada sang Pemberi Hidup.
bersabarlah dan tetap semangat jalani hidup ini ya!!
fairuzdarin : yup, betul sekali itu, mas…
)
sebenarnya maksud saya ya gitu, jangan sedih dan kehilangan yang berlarut-larut… (lagi ngeles, cari alasan, ga mau disalahin…
ahsinmuslim // 25 Juni, 2008 pada 10:24 am |
@Fikar: Alhamdulillah tebakan saya benar.he..he..
fairuzdarin : bener to, mas?
tukangobatbersahaja // 25 Juni, 2008 pada 10:30 am |
pernah kepikiran ga kolo ibu/ mama kita pergi menghadap Ilahi?
Sedih boleh tapi jangan berlama-lama.move on life..
*semoga bisa rela, sabar, ihklas*
fairuzdarin : itu akan sangat berat buat aku hadapi…
Farijs van Java // 25 Juni, 2008 pada 11:39 am |
deja vu: pernah melihat. maksudnya adalah perasaan aneh yang muncul ketika mengalami atau melihat suatu kejadian, kita merasa bahwa kejadian tersebut pernah dialami atau dilihat, padahal tidak.
(^_^)v
ingat, santunilah anak yatim. hoho. jadi pengen ngasih sesuatu…
(^_^)v
fairuzdarin : ingat-ingat itu, abang…
yang royalti itu jangan lupa kasih ke aku…
coretanpinggir // 25 Juni, 2008 pada 9:58 pm |
Aku kok merasa deja vu membaca posing ini ya…. ooo… iya, tadi siang udah bac sebagian… he…he…he….
Btw aku pernah mengalami kejadian soal deja vu ini, suatu pagi di hari Sabtu beberapa tahun yg lalu aku beli koran di tukang koran langganan yg nongkrong di pinggir jalan, trus ketika baca korannya, aku kaget… lho bukanya semua kejadian ini pernah terjadi sebelumnya????…. tau gak.. ternyata si abang tukang koran ngasih aku koran yg hari Kamis ha…ha…ha…ha…
fairuzdarin: hehe… makanya kalo beli koran tuh liat-liat dulu tanggalnya Mas Popop…
BTW, tuh tukang korannya jangan-jangan juga ngalamin de javu pas jualan koran… hehe…
edratna // 26 Juni, 2008 pada 9:49 am |
Saya sering mengalami dejavu….pada suatu saat tertentu, saat beneran kejadian, saya merasa bahwa saya akan mengalami kejadian tsb.
Memang tak semua orang memiliki kemampuan ini. Saya tiba-tiba ingin pulang ditengah kepadatan kuliah, padahal jarak Bogor-Jatim sangat jauh kalau naik bis…ternyata sehari di rumah, esoknya ayah mengalami kecelakaan, sehingga saat teman-teman ayah dan ibu menengok, mereka bingung kok aku udah di rumah.
fairuzdarin : wah, saya jarang mengalami deja vu, bu… ga enak rasa di hati ketika mengalaminya… ibu begitu ga?
mrs.children // 26 Juni, 2008 pada 3:12 pm |
innalillahi wa innailaihi roji’uuun
….
btw, saya sering merasa deja vu, itu karena kehidupan saya selalu berputar2 *loh?*
fairuzdarin : berputar-putar? pusing dong, mba… ^_^
nenyok // 4 Juli, 2008 pada 8:15 am |
Salam
Entah de javu atau bukan kayaknya aku juga sering ngalamin begitu, duh Ren.. begitu kali ya klo tidak pernah memilki berarti tak pernah kehilangan..well life must go on..
fairuzdarin : yah, mungkin gitu, mba… ga pernah merasa memiliki, ga bisa merasa kehilangan…
akupetta // 3 Agustus, 2008 pada 12:08 pm |
Sama mbak,
Gimana rasanya yah..?
fairuzdarin : wah, ga bisa mbayangin gimana rasanya…
gus1968 // 2 Desember, 2008 pada 1:21 am |
buat apa susah, buat apa susah …
susah itu …. nggak ada gunanya …
aku juga pernah kehilangan, …
meski aku nggak nyanyi lagu itu … he3x!
kuncinya khan menerima ketetapan Sang Penetap,
nggak usah suntuk dengan apa yang tidak mampu kita benahi, toh …
kemanakah seratus tahun lagi kita pergi?
jawabnya :
ke kubur, di dalam tanah, sendiri ….
salam,
allaboutpda
fairuzdarin: betul sekali, Pak.
semoga saja saya bisa ikhlas menerima ketetapanNya, ga cuma terkait dengan kehilangan orang ya kita sayangi, tapi juga hal lainnya.