Bapak tua berambut perak.
Tujuh tahun lebih yang lalu hingga hampir tujuh tahun kemudian kulewati tanpa seharipun tak melihatnya melintasi jalan di depan rumahku.
Meski hanya sedetik, atau setengah detik, atau bahkan sepersembilan detik, aku tak pernah tak sempat memergokinya.
Dia berjalan ringan, menatap lurus ke depan, tak sekalipun pernah menengok ke rumahku sehingga tak sekalipun pernah melihatku.
Kadang aku berharap, dia pernah melihatku ketika aku sedang tak melihatnya. Tapi, karena aku tahu itu hanya harapan semu, aku selalu berusaha membuangnya jauh-jauh dari pikiranku.
Kadang aku berharap, ada hari dimana aku tak melihatnya melintasi jalan di depan rumahku. Tapi, karena aku tahu dia pasti melintas, aku tak kuasa tak menyempatkan diri untuk mengarahkan mata ke jalan itu.
Dan selama tujuh tahun lebih yang lalu hingga hampir tujuh tahun kemudian, dia memang selalu melintas dan aku selalu memergokinya.
Sebenarnya, aku bosan dan lelah. Ingin rasa hati menghentikan itu semua. Tapi, otak tak mau dan mata menolak.
Hingga pada suatu Senin di selisih antara tujuh tahun lebih yang lalu dan hampir tujuh tahun kemudian, aku melihat ada seorang anak kecil bermain kelereng di pinggir jalan itu. Seharian ia disana. Dia bermain sendiri, tertawa dan mengumpat sendiri. Aku heran melihatnya. Kuintip dia dari balik tirai jendelaku. Lalu, aku sibuk memperhatikannya.
Keesokan harinya, aku baru menyadari bahwa pada Senin itu aku tak melihat bapak tua berambut perak melintasi jalan di depan rumahku.
Hari-hari setelah itu, aku sering melihat anak kecil itu bermain kelereng di sana. Kadang dia membawa teman bermain, kadang dia bermain sendiri.
Dan hari-hari setelah itu, aku jarang melihat bapak tua berambut perak…
Aku heran mengapa bisa begitu. Mengapa sering ada anak kecil dan jarang ada bapak tua berambut perak…
Apakah bapak tua berambut perak itu sudah tak pernah melintasi jalan di depan rumahku lagi? Ataukah aku yang tak sempat memergokinya?
Kemanakah dirimu wahai bapak tua berambut perak? Apakah karena kubilang aku bosan dan lelah melihatmu, kau akhirnya menjadi begini?
Dan anak kecil itu…
Dia selalu asyik bermain kelereng.
Tak pernah ia melihat rumahku, tak pernah ia melihat diriku. Sama seperti bapak tua berambut perak itu…
Bapak tua berambut perak, kemanakah dirimu? Apakah kelereng-kelereng itu membuatmu takut sehingga tak mau muncul lagi di hadapanku? Ataukah kelereng-kelereng itu membuatku lupa padamu?
(Ini adalah kisah fiktif belaka. Jika ada yang tidak wajar atau tidak bisa dipahami, harap dimaklumi ya…
)

