“Fairuz”

Practice Makes Perfect

11 Juli, 2008 · & Komentar

Gadis kecil menatap soal matematika di papan tulis. Oh, betapa susahnya soal ulangan itu. Bagaimana cara menjawabnya? Diliriknya sebaris kalimat di bagian bawah kertas lembar jawabnya. Practice makes perfect, begitu bunyi kalimat itu.
“Ya ya ya… Aku emang kurang latihan soal. Soal yang mudah kayak gitu aja, aku ga bisa njawab. Ya udah, besok aku bakal nyoba latihan soal… Ya ya ya…”

Hari-hari selanjutnya, Gadis kecil mulai berlatih soal matematika. Terkadang rasa malas menyergapnya begitu rupa. Lalu, ia melirik lagi sebaris kalimat di bagian bawah kertas tulisnya. Practice makes perfect.
“Ya ya ya… Aku ga malas belajar. Ya ya ya…”

Gadis agak besar mulai memasuki bangku SMA. Banyak mata pelajaran yang tidak ia pahami. Fisika ia tak mengerti, kimia ia tak mudeng, begitu pun bilologi, PPKn, ekonomi, sejarah, sosiologi, geografi, dan masih banyak lagi.

Setiap kali ulangan fisika datang ke hadapan, ia terbengong-bengong membaca pertanyaan. Ia baca tulisan-tulisan penuh teka-teki pada lembar kertas soal yang dibagikan Bapak Guru. Ia coba menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, karena ia tak pandai bermain teka-teki, maka banyak sekali jawabannya yang salah.
“Ya ya ya… prektis meks perfek…” hanya begitu ucapnya.

Suatu kali Ibu Guru meminta Gadis agak besar untuk mengerjakan soal kimia di depan kelas. Bagi Gadis agak besar, kimia bukanlah ilmu pasti, kimia adalah ilmu penuh tanda tanya. Di depan kelas, gadis itu memasang tanda tanya di kepalanya besar-besar, banyak teman yang melihat tanda tanya itu, tapi tak ada yang mau bermurah hati untuk mengambil si tanda tanya dari kepala mungilnya, padahal ia sudah begitu kerepotan dan hampir putus asa. Akhirnya, Gadis agak besar memutuskan untuk bermain-main tebak-tebakan saja. Namun, berhubung dia tak suka bermain tebak-tebakan, jawabannya pun asal dan tak memuaskan Ibu Guru dan teman-teman.
“Aku udah ga punya buku tulis yang ada tulisan prektis meks perfek itu…” hanya itu pembelaansoktakbersalahnya.

Gadis agak besar akhirnya terdampar di kelas IPS. Pelajaran akuntansi menjadi makanannya sehari-hari. Meski sudah mempelajari akuntansi sejak kelas satu SMA, dia tak pernah benar-benar memahami pelajaran penuh angka dan ayat-ayat cinta itu, eh, ayat-ayat jurnal maksudnya.
“Kali ini mencoba untuk menerapkan ilmu prektis meks perfek itu lagi, ah,” ia berucap kepada dirinya sendiri.
Gadis agak besar sedikit demi sedikit belajar akuntansi, berlatih mengerjakan soal dengan sepenuh hati. Akhirnya, matanya sedikit terbuka. Ia mulai mengerti apa itu akuntansi. Hanya sedikit yang ia pahami sih, tapi cukup membantunya untuk bisa lulus SMA dan mendaftar kuliah di sebuah sekolah tinggi kedinasan.

Gadis besar akhirnya duduk di bangku kuliah. Ia mau tak mau kembali belajar akuntansi karena tempat belajarnya yang baru mengangkat tema akuntansi sebagai topik utama kegiatan belajar-mengajar di kampus. Selain akuntansi, Gadis besar juga mempelajari ilmu perbendaharaan negara. Banyak hal harus ia pelajari dan sedikit hal menjadi alasannya untuk malas mempelajari, tapi yang sedikit itu berhasil menang melawan yang banyak.
“Udah teringat ma prektis meks perfek itu, tapi tetep ga mudeng ma materi-materi kuliah itu…” kembali ia berdalih.

Tak ada dua bulan dari hari wisudanya, Gadis sudah bisa mulai bekerja di sebuah kantor di Jakarta. Awalnya, dia berangkat dan pulang bekerja menggunakan sarana angkutan umum bernama Tije. Namun, beberapa hal buruk menimpa Gadis sehingga Gadis memutuskan untuk menggunakan sepeda+motor=Rio. Banyak sekali orang meragukan kemampuannya mengendarai motor di tengah keramaian dan kemacetan jalanan Jakarta. Alasan mereka meragukan Gadis pun tidak beralasan. Tak hanya tidak beralasan, tetapi alasan mereka pun Jaka Sembung main gitar, alias ga nyambung, jreng jreng jreng…
“Cewe naik motor di Jakarta?” ada seorang berkata begitu.
“Pake jilbab gitu? Bisa naik motor tiap hari buat bekerja?” ada juga yang berkata begitu.
“Kamu? Emang bisa pake rok naik motor?” yang seperti ini juga ada.
Bingung Gadis dibuatnya. Apa hubungannya cewepakejilbabpakerok dengan kemampuan mengendarai motor ya?

Mendengar banyak orang meragukannya, Gadis tak jadi patah arang. Hanya saja, ada sedikit ketakutan dalam dirinya untuk menghadapi keganasan dan kesemrawutan jalanan Jakarta seorang diri. Lalu, dia teringat sebaris kalimat di halaman buku tulisnya semasa sekolah. Practice makes perfect.

Gadis berpikir dan berpikir. Ia memutuskan akan berusaha menganggap jalanan Jakarta sebagai ajang ia berlatih untuk meningkatkan keterampilannya mengendarai motor. Begitulah jadinya. Tiap hari ia menganggap dirinya sedang berlatih, berlatih, berlatih, dan berlatih. Berlatih sebaik-baiknya. Hal itu ternyata lumayan efektif untuk mengurangi rasa takutnya. Namun, meski bisa mengurangi rasa takutnya, Gadis tetap sulit meningkatkan keterampilannya mengendarai motor. Spiona (spion kanan) dan Spioni (spion kiri) sering sekali menyenggol kaca spion mobil orang ketika Gadis menyelempit-nyelempit di antara mobil-mobil di tengah kemacetan. Setiap kali Gadis menyenggol spion orang, dia berhenti sejenak, lalu tersenyum bak kuda menyengir kepada Oom atau Tante sopir, matanya mengerling meminta maaf. Sebuah usaha yang sia-sia sebenarnya, berhubung Gadis selalu memakai masker penutup mulut dan hidung setiap kali mengendarai motor. Gadis pun selalu memakai helm dengan kaca pelindung di depannya. Yah, jadi bagaimana bisa Oom dan Tante sopir bisa melihat senyum manis dan kerlingan matanya ya?

Di kantor, Ibu Bos dan Bapak Bos terkadang memberi Gadis tugas yang bagi Gadis sulit diselesaikan. Terkadang, Gadis takut tidak bisa atau salah mengerjakan, padahal belum jua ia mencoba. Belum apa-apa, pikirannya menjadi semrawut. Lalu, ia pun berdoa, memohon petunjuk kepada-Nya, meminta diberi ketenangan dan kejernihan berpikir. Dan ia pun mengingat kalimat itu lagi. Practice makes perfect. Tak tahu mengapa, semangatnya muncul lagi. Pesimismenya pun berkurang. Padahal, ia hanya mengingat kalimat itu. Yah, meskipun begitu, itu cukup membuat Gadis bisa menyelesaikan pekerjaannya meski dengan hasil yang semrawutan.

Beberapa hari ini, Gadis memasang kalimat practice makes perfect di gtalk. Gadis merasa senang ketika membaca, mendengar, ataupun hanya mengingat kalimat itu. Tak tahunya, Ibu Bos di kantor memperhatikannya. Ibu Bos yang sering memberi Gadis tugas (yang bagi Gadis sulit diselesaikan, tapi alhamdulillah akhirnya bisa diselesaikan, meski dengan hasil yang semrawutan) berkesimpulan itu adalah upaya Gadis untuk menyemangati diri sendiri. Beliau pun ikut menyemangati Gadis. Beliau mengirimi Gadis sebuah pesan gtalk.

“Good job, girl… Up grade yourself by try & error & being problem solver…”

Gadis terkaget-kaget karenanya. “Gud job untuk job yang mana ya, Bu? Bukannya hampir semua job hasilnya semrawutan? Wah, Ibu Bos berusaha menyemangati Gadis ya? Gadis jadi terharu…” hati Gadis berkata.

Gadis terharu sekali karena Ibu Bos menghargai hasil kerjanya. Gadis pun mengingat-ingat pesan gtalk dari Ibu Bos. Tak hanya Gadis yang menyemangati dirinya sendiri, kini Ibu Bos pun ikut menyemangatinya. Wah, senangnya ada yang ikut menyemangati…

:D

:D

Tak semua yang Anda baca tadi benar-benar benar.

Kategori: catatanku
Ditandai:

19 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar