Selasa, 18 November 2008…
Ada apa dengan Selasa?
Ada apa dengan Selasa, ya?
Apakah ini sekuel film Ada Apa dengan Cinta? Hemmm, pastinya bukan lah…
Tapi, kuberitahu kepada kalian semua, ini adalah sebuah kisah petualangan yang seru dan mendebarkan! (bo’ong banget… )
Kalian percaya, bukan? Ini diangkat dari sebuah kisah nyata dua orang anak manusia, lho. Dan kalian tahu siapa salah satu di antara kedua anak manusia itu?
Yak, kalian benar. Salah satu dari mereka adalah AKU. (narcisnya koemat… )
Bermula dari bangun tidur yang kesiangan, aku datang ke kantor dengan muka bantal dan semangat 21 (semangat jam sembilan malam maksudku, alias masih ngantuk dan pengen tidur… ). Sesampainya di kantor, setumpuk tugas sudah menanti kusentuh dan memaksa otakku untuk berkonsentrasi penuh memikirkan mereka. Semangat 21 pun luntur, tergantikan oleh semangat bekerja. (ada yang percaya ga ya kalo aku semangat bekerja?)
Semangat!
Menginjak siang, tugasku masih menumpuk. Tak bisa kupinta bantuan teman-temanku karena mereka juga tak kalah ditumpuki pekerjaan. Bahkan, bisa dikatakan aku lebih beruntung dari mereka.
Mengapa aku bisa berkata aku lebih beruntung? Jika melihat rupa teman-temanku, mungkin semua orang akan menyetujui perkataanku. Terkadang miris juga melihat mereka. FYI, teman-temanku ini, yang satu baru saja keluar dari rumah sakit setelah satu pekan lebih dirawat di sana, dan yang satunya lagi sedang menderita sakit flu campur masuk angin campur demam campur hati (bukan sakit hati yang liver, lho… tapi sakit hati yang “itu”… tahu kan maksudku?).
Mereka tidak dalam kondisi 100% siap tempur. Bahkan, mereka mungkin sebenarnya sudah menjadi korban pertempuran.
Betapa malang teman-temanku, di tengah kondisi tubuh mereka yang kurang fit, mereka masih saja dibebani tugas kantor yang tak kalah banyak denganku. Ingin rasa hati membantu mereka, tapi bagaimana mungkin… tugasku sendiri saja belum beres-beres… (jadi ingat iklan layanan masyarakat yang ini: aku… ingin sekolah yang tinggiii sekali, agar dapat membantu Ibu… tapi, bagaimana mungkin… membaca saja aku sulit…
)
Waktu pulang kerja akhirnya tiba. Temanku si mantan pasien memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pekerjaan di rumah, sedangkan aku dan temanku si penderita sakit nano-nano masih berusaha menyelesaikannya di kantor. Sebenarnya kami ingin segera pulang, tetapi jika mengingat pesan Bos untuk segera menyelesaikan yang ini dan yang itu, waduh, bagaimana ya, tak bisa berkutik kami dibuatnya, secepat mungkin pesanan Bos harus segera dipenuhi.
Beberapa pekan ini, aku hampir selalu pulang malam. Ahhh… Sungguh aku rindu dengan matahari yang redup di sore hari. Sungguh aku rindu dengan awan merah. Sungguh aku rindu sholat maghrib di rumah. Rinduuu sekali.
Iseng kuketik tag message di gtalk: “kapan yah aku nggak pulang malam lagi?”.
*sigh*
Sampai adzan Isya berkumandang, kami masih asyik di depan komputer.
Berhubung malam semakin larut, aku memutuskan untuk pulang dan meneruskan pekerjaanku di rumah saja. Aku tak mau terlalu malam sampai di rumah. Si nano-nano pun memutuskan untuk pulang. Kami pulang bersama. Berdasarkan kebiasaan, jika kami berdua sama-sama pulang malam, aku akan mengantarnya pulang sampai ke kosnya. Dan, kebiasaan itu pun berlaku untuk malam itu.
Malam itu, aku membawa pulang laptopku yang pada hari sebelumnya aku tinggal di kantor. Selama ini, laptopku itu memang terkadang aku bawa ke kantor karena aku membutuhkannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku masukkan ia ke dalam tas khusus bersama perlengkapan lainnya. Dan juga bersama sebuah recorder milik Bos.
Kami turun ke basement tempat parkir Rio. Aku segera menghampiri Rio dan mengambil posisi duduk di depan karena akulah yang bertindak sebagai pengemudi, sedangkan si nano-nano duduk di belakang. Tas laptop beserta isinya kami apit di tengah.
Dan, petualangan dimulai…
Keluar dari basement, situasi dan kondisi masih normal dan baik-baik saja. Memasuki jalan Wahidin Raya, kendaraan masih ramai meski jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam lewat.
Berbelok ke jalan Gunung Sahari, keanehan mulai terjadi. Sebuah motor dengan dua orang pria di atasnya tiba-tiba melaju persis di sisi kiri kami. Aku mulai merasa ada yang tidak beres. Aku berusaha menjauh. Tapi, dua pria itu terus berusaha berada di sisi kiri Rio, bahkan mengambil posisi sedekat mungkin.
“Ngapain, sih?!”
Aku mendengar si nano-nano berucap dengan nada setengah kesal. Aku mengira dia sedang diusili oleh pria di atas motor itu. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Tapi, ternyata perkiraanku salah… Bukan dia yang diincar… Lalu, siapa yang diincar?
Apakah ternyata aku yang mereka incar? Coba tebak…
Hemmm, bukan juga.
Bukan aku yang diincar. Kalau bukan si nano-nano dan bukan pula aku, lalu siapa? Ayo, coba tebak…
Menyerah? Atau sudah tahu?
Sebuah pemandangan menarik terlihat di sisi kiriku. Masih berada di atas motor yang melaju dengan kecepatan sedang, pria si pembonceng memegang selempang tas laptopku. Aku ulangi, ya: selempang tas laptopku. Apakah mereka mengincar selempang tas laptopku?
Hampir benar.
Baiklah, kalian sudah tinggal selangkah lagi untuk memenangkan kuis tebak kata ini.
Iya, kalian benar. Yang mereka incar adalah tas laptopku. Lebih tepatnya lagi: isi tas laptopku.
Sebelum aku sepenuhnya menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba si pria pengemudi langsung menarik gas. Mbhrehmmmgh… suara motornya kasar meraung-raung.
(ga kayak suaranya Rio yang lembut: mbremmm… )
Lalu, kulihat tas laptopku berada di sebelah kiri tubuhku. Dua pasang tangan menguasainya. Tangan besar milik pria itu, dan tangan kecil milik si nano-nano. Insiden tarik menarik sempat berlangsung sesaat. Sesaat… Lalu, akhirnya tas laptopku bersama isinya berhasil dikuasai oleh hanya sepasang tangan saja…
Tangan siapakah? Tangan si nano-nano?
Coba tebak…
Tangan si nano-nano bukan?
Ayo tebak…
Tangan si… si… si nano-nano, kata kalian?
Yak, jawaban kalian adalah… benar…
Benar-benar salah…
Tentu saja tangan si pria itu.
Tangan si pria pembonceng berhasil meraih tas laptopku dan si pria pengemudi segera menarik gas lebar-lebar. Mereka pergi dengan membawa selempang tas laptopku, tas laptopku, laptopku, charger laptopku, kabel data untuk ponselku, dan… dan… dan… recorder milik Bos! Ahhh… ada barang milik orang lain di situ! Dan berita buruknya lagi, recorder itu berisi rekaman wawancara penting dengan tokoh terkenal.
Menyadari apa yang sudah terjadi, hal pertama yang aku lakukan adalah beristighfar (kenapa bukan mbaca tarji’, ya?). Aku segera menancap gas untuk mengejar mereka, dan memperhatikan plat nomor polisi motor mereka. Tapi, karena malam yang gelap, plat nomor polisi motor itu tak mampu kubaca.
Aku terus mengejar mereka. Si pembonceng berulang kali menengok ke belakang, aku dapat merasakan betapa ia takut jika aku sampai berhasil membaca nomor polisi motornya. Aku berhasil mendekati mereka, aku berhasil! Hampir saja, hampir saja aku bisa membaca nomor polisi motor itu, tapi tiba-tiba mereka menyalip mobil dan mikrolet. Wusss… Mereka menyalip… dan terbuanglah kesempatan untuk mendapatkan nomor polisi motor mereka.
Terbuang…
Eit, aku masih belum menyerah, lho.
Aku ikut menyalip. Tapi, mereka menyalip lagi, menyalip lagi, menyalip lagi, sedangkan aku tidak bisa. Aku terus memasang mataku pada para pria itu yang kepalanya dari kejauhan bisa kulihat. Mataku terus memperhatikan mereka. Terus dan terus…
Namun, sayang seribu sayang, jalanan Jakarta yang macet begitu menyulitkanku. Aku begitu sulit menerobos kemacetan. Kemampuan si pengemudi motor itu jauh lebih baik dari aku. Dia semakin jauh dan jauh… Jauh di depan…
Aku tak bisa bergerak secepat mereka. Dan aku pun tertinggal jauh dari mereka.
Dan, kepala mereka pun mulai menghilang di kejauhan…
Dan, akhirnya aku menyerah.
*sigh*
Aku meneruskan perjalananku. Kuantar si nano-nano ke kosnya. Dalam perjalanan itu, kedua tangan si nano-nano berulang kali memegang pundakku. Mungkin dia berusaha menenangkanku, tapi yang aku rasakan justru dia yang tidak tenang. Tangannya lemas dan tak bertenaga. Bahkan, mungkin sebenarnya dia sedang gemetaran.
“Ren…” suaranya lemas.
“Nggak apa-apa.”
“Maaf ya Ren… bla bla bla…” dia mulai bercerita apa yang tadi telah terjadi padanya dengan suara yang lemas dan terdengar hampir menangis.
“Nggak apa-apa…”
Mungkin kalian pikir, aku sedang berbasa-basi dengan mengatakan aku tidak apa-apa. Tapi, aku memang tidak apa-apa. Biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Aku sendiri sebenarnya heran, betapa datarnya aku menghadapi semua itu. Padahal, peristiwa yang baru saja terjadi bukanlah peristiwa biasa-biasa saja menurut ukuranku. Aku baru saja kehilangan barang, salah satu barang kesayanganku malah. Tapi, ya begitulah. Hampir selalu begitu.
FYI, sebelumnya aku juga pernah kehilangan barang dengan cara yang tidak wajar. Ini adalah keempat kalinya ada orang yang mengambil barangku dengan cara yang sangat tidak sopan. Tapi, herannya, reaksiku selalu berbeda dengan ekspektasi kebanyakan orang. Datar sekali… Aku memang tidak seru, ya? Masak tidak terlalu deg-degan? Masak dingin, datar? Mana ekspresinya, kalau iklan rokok bilang…
Untungnya, pada kehilanganku kali ini, ada si nano-nano yang menemaniku. Jadi, ada cerita setengah menangis, lemas-lemas dan gemetar-gemetarnya segala. Coba kalau tidak ada dia. Masak kisah-kisah kehilanganku tidak ada seru-serunya sama sekali…?
Loh, kok jadi membahas hal ini, yak?
Terkadang ada hal yang aku sayangkan dari setiap kehilanganku. Yang aku sayangkan kali ini adalah karena ada barang penting milik orang lain di situ. Itu yang berat untuk aku pertanggungjawabkan. Tapi ya sudah. Itu urusan nanti. Urusan saat itu adalah menenangkan si nano-nano dan mencegahnya mengalami trauma dan perasaan bersalah.
Sesampainya di kos si nano-nano, dia memaksaku untuk masuk dan bahkan menginap di kosnya. Dia sangat ketakutan dan mengkhawatirkanku. Mukanya pucat, setengah menangis. Dia tidak mau melepas kepulanganku. Perjalanan pulangku memang masih jauh, sekitar 15 km dari tempatnya. Dan dia tidak mau ambil risiko dengan membiarkanku pulang setelah insiden yang baru saja kami alami.
Beberapa lama, aku mencoba menenangkannya. Meyakinkannya kalau aku akan baik-baik saja di jalan. Berhasilkah aku meyakinkannya? Tentu saja aku berhasil. 
(Reni gitu, loh… )
Akhir cerita…
Aku pulang ke Cililitan, ke rumah, sendiri, dengan rasa lega di hati. Mengapa aku merasa lega? Itu akan menjadi kisah lain lagi.
Aku tak melapor kepada polisi mengenai kejadian ini. Mengapa aku tak melapor? Itu juga akan menjadi kisah lain lagi.
Lalu, bagaimana dengan recorder Bosku? Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya? Tentu saja, itu juga akan menjadi kisah lain lagi.
Lalu, bagaimana dengan laptopku? Sebenarnya, aku bisa melacak keberadaannya. Jika dia sedang on, aku seharusnya bisa melacak keberadaannya. Tapi, sekali lagi, itu juga akan menjadi kisah lain.
Namun, aku tak akan menjanjikan kisah-kisah lain itu.
Jadi, sudah dulu ya…
Jika ada pelajaran yang bisa kalian ambil dari kisahku ini, aku akan sangat senang. Maka, ambillah sebanyak mungkin.
Ingat-ingat kata Bang Napi juga, yak!
Waspadalah! Waspadalah!
(Ya Allah, syukur dan terima kasihku atas ketenangan yang Engkau berikan kepadaku dalam menghadapi semua ini)
TAMAT
(Kutambahkan sedikit. Sekarang, aku sudah jarang pulang malam, lho. Jadi, Allah sudah memberi jawaban atas pertanyaan yang aku ajukan di gtalk pada Selasa malam kemarin. Terima kasih ya Allah…
)