“Fairuz”

Masukan dari Januari 2009

Pandangi Langit

25 Januari, 2009 · & Komentar

Once you start it, then you can’t stop it.

Begitu hebatnya kacang sampai-sampai ada orang yang menggambarkannya dengan kalimat itu. Hiperbolis, tentu saja. Berle, kalau Ipin dan Budi bilang. Masak benar-benar tidak bisa berhenti makan? Tapi, kalau susah berhenti, aku akui itu. Dan itu terjadi padaku. Beberapa malam yang lalu.

Ah, mengapa juga harus ngemil di malam hari? Ngemil kacang pulak. Jadi susah berhenti aku dibuatnya. Huh.

Aku sampai di rumah sekitar jam setengah sepuluh. Perutku bernyanyi, padahal empat jam sebelumnya telah aku jamu dengan ayam goreng. Lalu mataku menemukan kacang kulit itu. Kucoba, emmm… enak. Kuambil lagi… emmm masih enak. Kumakan lagi… eh masih enak juga. Niat hati ingin mencicip sedikit, tapi tapi tapi oh tapi, once you start it, then you can’t stop it

Akhirnya aku bisa berhenti mengunyah kacang setelah seorang teman mengirim sms.

“Ren, berhenti makan kacang!”

(lagi…)

Kategori: catatanku
Ditandai: , , , , , , ,

Makna dan Kata

15 Januari, 2009 · & Komentar

Teringat pelajaran bahasa Jawa di SD, kata “guru” berasal dari gabungan dua kata: digugu dan ditiru. Dulu aku bertanya-tanya, apakah memang guru itu berasal dari dua kata itu. Jika memang demikian, berarti makna yang membentuk kata, karena “digugu dan ditiru” adalah makna, dan mereka membentuk “guru”.

Tapi, semakin lama kupikir, semakin aku yakin bahwa kata “guru”lah yang mencipta makna “digugu dan ditiru”. Karena guru biasanya dijadikan teladan, alias harus “digugu” (diperhatikan) dan ditiru, meski tidak semua guru dapat menjadi teladan, dan ini berarti bahwa ada semacam pemaksaan dalam pemaknaan kata “guru” dalam pelajaran bahasa Jawaku itu.

Sebuah kata dapat menciptakan maknanya sendiri, dan seringkali maknanya berbeda untuk tiap-tiap orang. Kata melahirkan makna. Makna satu kata bisa terlahir berbeda-beda, tergantung apa-apa yang terkait dengan proses kelahirannya. Dan makna kata tak bisa dipaksakan. Sebagai contoh, jika kusebut kata tomat, bagiku ia bermakna sebagai makanan menggiurkan, lezat, sehat, bervitamin, menyenangkan, penuh kenangan. Tapi, sepertinya lain bagi kakakku, di dalam kepalanya, tomat bermakna: makanan biasa saja, tidak lezat, tapi memang sehat dan bervitamin. (betul begitu kan, Mas?)

Dan aku tidak bisa memaksa kakakku berpikir sepertiku.

Tegar. Nah, kata yang satu ini bermakna sangat istimewa bagi seorang Reni. Tapi, belum tentu bagi yang lain. Dan aku tidak bisa memaksa orang lain untuk mengistimewakan “tegar”.

Sebenarnya, “tegar” itu kata favorit Ibu. Gara-gara sejak beberapa tahun yang lalu Ibu sering menyampaikan pesan atau nasihat yang mengandung kata “tegar”, akhirnya lama-lama “tegar” mengubah maknanya dari yang tadinya derajat keistimewaannya setara dengan tabah, sabar, dan sebagainya, menjadi lebih istimewa dari mereka. Makna kata itu terlahir menjadi spesial karena dia bersentuhan dengan cinta Ibu.

(lagi…)

Kategori: catatanku
Ditandai: , ,

Liburanku

8 Januari, 2009 · & Komentar

Liburan panjangku telah usai. Horeee… Eh, hiks hiks hiks, ding. :P
Kamis dini hari tadi, kakiku kembali menginjak tanah Jakarta. Dan hari ini adalah hari pertamaku bekerja di tahun 2009.

Antara senang dan sedih. Senang antara lain karena bisa bertemu kembali dengan teman-temanku di sini. Sedih antara lain karena harus rela kembali meninggalkan Ibunda tercinta sendiri di kampung halaman.

Tak banyak perubahan yang tampak dari kota kecilku dibanding terakhir kali aku pulang kampung. Yang tampak membuatnya beda mungkin banyaknya poster dan banner caleg di berbagai sudut kota dan pinggir jalan raya.

Eh, tapi sudut kampung dan jalan desaku juga ramai dengan wajah-wajah asing para caleg, ding. Padahal, seingatku sewaktu jaman-jaman dahulu kala ketika aku masih kecil, jarang ada poster caleg sampai menyasarkan diri di sekitar kampungku. Hanya di daerah perkotaan saja. Eh, sekarang di kampungku kok jadi banyak begitu, ya? Eh, atau kampungku sekarang sudah menjadi kota, ya? :roll:

(lagi…)

Kategori: catatanku
Ditandai: