“Fairuz”

Pandangi Langit

25 Januari, 2009 · & Komentar

Once you start it, then you can’t stop it.

Begitu hebatnya kacang sampai-sampai ada orang yang menggambarkannya dengan kalimat itu. Hiperbolis, tentu saja. Berle, kalau Ipin dan Budi bilang. Masak benar-benar tidak bisa berhenti makan? Tapi, kalau susah berhenti, aku akui itu. Dan itu terjadi padaku. Beberapa malam yang lalu.

Ah, mengapa juga harus ngemil di malam hari? Ngemil kacang pulak. Jadi susah berhenti aku dibuatnya. Huh.

Aku sampai di rumah sekitar jam setengah sepuluh. Perutku bernyanyi, padahal empat jam sebelumnya telah aku jamu dengan ayam goreng. Lalu mataku menemukan kacang kulit itu. Kucoba, emmm… enak. Kuambil lagi… emmm masih enak. Kumakan lagi… eh masih enak juga. Niat hati ingin mencicip sedikit, tapi tapi tapi oh tapi, once you start it, then you can’t stop it

Akhirnya aku bisa berhenti mengunyah kacang setelah seorang teman mengirim sms.

“Ren, berhenti makan kacang!”

Eh, itu bukan isi smsnya, melainkan kata-kata yang kudengungkan sendiri di kepalaku.

“Malam ini ga kayak malam-malam sebelumnya. Bintang-bintang bertaburan, langit bersinar terang. Suasananya tenang, hawanya juga sejuk. Enak sekali. Keluar, deh! Semoga pertanda bagus. Untuk semuanya.”

Begitulah bunyi sederet kalimat yang temanku tulis. Aku penasaran meski sedikit ragu dengan kebenaran kata-kata temanku. Langit Jakarta jarang bertabur bintang. Namun rasa penasaran yang tak segera diobati takkan membuatku nyenyak tidur.

Aku ingin keluar rumah untuk melihat bintang-bintang itu, tapi baru keluar dari kamar, tiba-tiba hatiku surut. Sepi senyap. Hanya suara jarum jam dinding dan kipas angin di kamar keponakanku yang masih setia menemani keheningan malam. Samar, suara kendaraan yang lalu lalang di kejauhan ikut hinggap ke telingaku. Aku baru menyadari betapa berisiknya aku yang sedari tadi mengupas kulit kacang dan mengunyahnya.

Kulirik sebaris angka di layar ponsel: 22.32. Oh, sudah larut rupanya. Keluar rumah pada jam selarut itu tampaknya bukan ide baik.

Tak jadi keluar, jendela kamar kubuka lebar-lebar, kepalaku melongok, mengintip langit. Tak kujumpai satu pun bintang berkelip. Satu pun, tidak. Aku kecewa.

Badanku menjulur keluar, mataku menerawang jauh ke berbagai sudut angkasa. Memang tak semua sisi langit bisa kujangkau, tapi sebagian langit sudah kujenguk. Tetap tak kutemukan bintang barang satu pun.

FYI, pengirim sms tadi tinggal di daerah perbatasan Bekasi-Jakarta Timur, sedangkan aku sendiri tinggal di Jakarta Timur. Begitu bedakah langit kami sehingga di sana bermandi bintang, sedangkan di sini polos gelap?

Sudah kepalang basah menengok langit. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada bintang, bulan pun jadi. Kucari bulan, tapi ternyata dia pun enggan muncul ke hadapanku. Entah dia sedang duduk manis di balik awan, entah sedang bertengger di sudut langit yang tak tersapu mataku.

Sekali lagi, tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada bintang dan bulan, awan pun jadi. Yah, akhirnya aku memandangi awan kelabu saja. Membayangkan bintang-bintang dan bulan yang sedang bersembunyi di baliknya. Mereka sedang ingin bermain petak umpet denganku, mungkin. Dan aku kalah bermain, tak bisa menemukan satu pun dari mereka. Aku maklum. Semenjak kecil, aku memang sering kalah jika bermain petak umpet.

Memandang langit malam itu, di tengah kelengangan, sendirian, memberikan nuansa lain bagiku. Tiba-tiba aku terkenang banyak hal. Aku serasa sedang menonton film yang memutar potongan masa laluku.

Aku melihat Reni kecil yang sedang memandang langit dengan mata berbinar-binar. Ia tersenyum-senyum sendiri, terkagum-kagum dengan bintang kejora, terpesona dengan gugusan bintang penunjuk arah mata angin, terpukau dengan bintang jatuh…

Aku dulu pernah bermimpi menjadi astronot. Cita-citaku banyak, salah satunya menjadi astronot. Aku ingin terbang ke angkasa luar, mendekati Venus yang cantik tapi panas, menginjakkan kaki ke bulan, ke Mars, ke Ceres, ke Jupiter kalau bisa, Saturnus kalau bisa juga, cincin Saturnus, Neptunus, cincinnya juga… Ah, pokoknya kalau bisa menjelajahi sebanyak-banyaknya tempat, deh. Ke Crypton kalau bisa, bertemu teman-teman Superman… :P

Ah, impian Reni kecil yang indah. Aku dibuatnya senyum-senyum sendiri malam itu.

Lalu muncul Reni kecil dalam versi lain yang sedang bermain dengan teman-temannya. Di bawah bintang dan bulan, mereka bermain lithongan, dos-dosan, cublak-cublak suweng… Reni kecil sering menjadi bawang konthong, alias anak yang sering kalah jika ikut bermain. Reni versi ini meski sering terlihat tertawa, tapi sering juga tampak sedih dan cemberut.

Ah, Reni kecil malang juga ternyata, ya…

Melintas Reni remaja. Yang suka menonton serial Dark Skies di salah satu stasiun televisi swasta setiap Jumat malam. Yang pernah pada suatu malam, bersama teman-teman sebayanya berkumpul di tengah sawah, duduk di atas tanah yang kering merekah karena kemarau, selama berjam-jam. Mereka menengadahkan kepala menghadap langit, mencari planet Mars yang saat itu bisa dilihat warna merahnya dengan mata telanjang karena sedang berada dalam posisi terdekat dengan bumi. Mereka berebut menunjuk kerlipan merah di langit dan menuduh tiap kerlipan merah masing-masing sebagai planet Mars. Sekian jam di sana, akhirnya mereka pulang dengan membawa planet Mars mereka masing-masing. Tak ada yang akur.

Aku juga melihat Reni besar yang sedang pulang kuliah bersama sahabatnya, Nora. Sambil berjalan dari kampus menuju kos, mereka suka mencari awan berbentuk unik di langit biru. Kadang mereka menemukan awan berbentuk domba, kadang kuda, seringnya kuda berbaris, pernah juga menjumpai awan lurus tegak yang kata orang pertanda akan muncul gempa. Mereka melihat awan-awan itu dengan tersenyum, kecuali awan yang lurus tegak itu. Aku tidak tahu apa hubungan awan tegak lurus memanjang itu dengan gempa, tapi rasanya was-was saja melihat itu.

Ahhh… Potongan masa lalu yang indah. Bagiku indah, sangat indah. Dan langit yang menceritakannya kepadaku dengan detail, sangat detail.

Maha Suci Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan segala keindahannya. Aku yang berpijak di atas bumi bisa menikmati langit dengan berbagai versi. Versi bertabur bintang, versi kelabu, versi biru terang, dan versi-versi lainnya.

Dan langit yang tak bertiang juga bisa mengetahui gerak lakuku di sini. Aku juga dengan berbagai versi. Versi bertabur bintang, versi kelabu, versi biru terang, dan versi-versi lainnya.

Langit yang indah menjadi saksi perjalanan hidupku. Dan setiap aku merindukan potongan masa laluku, aku bisa melihatnya dengan jelas di sana. Setiap kali kupandang ia, ia juga selalu memandangku, lalu ia menceritakan banyak kisah. Dengan detail. Sangat detail malah.

Wah, tak kusangka kacang bisa membuatku begitu bahagia malam itu. Lho, apa hubungannya kacang dengan ini semua? Anggaplah dia yang membuatku belum tidur malam itu, sehingga masih bisa membaca sms temanku, sehingga masih bisa memandang langit, sehingga berbahagia dengan semua yang kukenang malam itu.

Jadi, apa pelajaran moral hari ini?
Jika kau tak bisa berhenti makan kacang kulit, maka pandanglah langit. :P
Siapa tahu kemudian kau bisa melupakan kacang kulitmu, asal jangan seperti kacang yang lupa dengan kulitnya saja, ya. Siapa tahu melalui kacang itu kau bisa menemukan kebahagiaan, dengan memandang langit atau dengan apa pun.

Selamat berbahagia. :)

Kategori: catatanku
Ditandai: , , , , , , ,

17 tanggapan so far ↓

  • Farijs van Java // 25 Januari, 2009 pada 8:24 pm | Balas

    woi, tanggal berapa nih, dek? dah akhir bulan ini… kalo mo liat rembulan entar aja, pas tengah bulan. kalo tak mendung, bisa jadi para bidadari muncul. hwehe.

    v(^_^)

    mau kukabari tak, kalo langit malam pas bertabur byk bintang?

    fairuzdarin: Beberapa hari yang lalu seharusnya masih bulan sabit. :)
    Boleh sekali kasih kabar, terima kasih sebelum dan sesudahnya…

  • Samsul Arifin (ipin) // 25 Januari, 2009 pada 11:38 pm | Balas

    Analogi yang cerdas. Aku ga mau makan kacang lagi ah, takut ga bisa tidur lagi.

    fairuzdarin: Bukan aku kok yang bikin analogi itu. ^^
    Beneran Pin ga mau makan kacang lagi? Ntar nyesel, lho… Kalo ga bisa berhenti, coba deh pandangi langit. :)

  • ahsinmuslim // 26 Januari, 2009 pada 10:29 am | Balas

    langit malam begitu gelap
    bulan dan bintang tak mampu menembus pekatnya awan hitam yang menebal.
    seolah ikut merasakan sedih atas tragedi Gaza di negeri palestine disana.

    fairuzdarin: Semoga langit kembali terang bertabur bintang. Dan bulan bisa tersenyum karena saudara-saudara kita di sana juga bisa tersenyum kembali…

  • demoffy // 26 Januari, 2009 pada 1:52 pm | Balas

    memang begitu indah…
    tatkaLa meLihat Langit dari bawah….
    Namun Lebih indah Lagi kaLau kita mengayunkan..
    Langkah untuk…
    Menggapainya… :-)

    fairuzdarin: Indah sekali kan, Mas? :)
    Yuk, kita gapai langit yang indah itu…
    Wusss… *terbang ke langit biru*

  • hanif // 26 Januari, 2009 pada 4:48 pm | Balas

    Kacang…arrrghhhhh jadi kamu yang ngabisin kacangku ya? Kukira tikus yang makan…cepat ganti!!!
    lithongan, dos-dosan permainan itu asing bagi telingaku…meski kita sama-sama orang kebumen

    di Jogja masih kelihatan bintangnya, kesini Ren kalo malam…pinjam pintu kemana sajanya Doraemon. Sekalian bawa kacangnya ya

    fairuzdarin: Hei hei hei, bukan aku yang makan, Budi. Baca komen Ipin baik-baik, di situ dia bilang dia ga mau makan kacang lagi, karena takut ga bisa tidur lagi.
    Nah, dia yang makan, Hanif… Bukan aku… :(

    Lithongan itu petak umpet, kalo dos-dosan itu gobak sodor… Ga ada di tempatmu, po?

    Oh, di situ masih banyak bintang, ya? Kayak di Kebumen? Pantes Budi hobi lihat bintang. :)

  • achoey // 27 Januari, 2009 pada 10:45 am | Balas

    sahabat
    bacalah dengan nama Tuhanmu

    apa pun yang tersurat dan tersirat
    yang ada di langit dan di bumi

    bukankah semuanya kan indah karena mengandung hikmah
    bukan begitu? :)

    fairuzdarin: Betul sekali, Mas.
    Allah menciptakan banyak keindahan di sekeliling kita. Mas bisa melihatnya juga, kan? :)

  • fandi88 // 28 Januari, 2009 pada 1:57 am | Balas

    yup’s banyak keindahan iiang diciptakan bwd xt.. :)

    fairuzdarin: Iya, kamu benar sekali, Fandi. :)

  • Gempurr // 28 Januari, 2009 pada 6:21 pm | Balas

    Hmm.. Ogut berusaha analisa ya (kan psikolog..)

    Ada kesedihan disini..
    Ada kesenangan juga..
    Ada kerinduan juga…

    Hmmm… ogut tau obatnya..

    Segera cari pendamping yaaaaaaaa…..
    wkwkwkwkwkwkwkkw….

    fairuzdarin: Psikolog? Sejak kapan Mas berubah profesi? Udah bosen ngajar po, Mas?
    Wah, analisis Mas lumayan juga lah. Tapi solusinya itu kok ga solutif, ya? Hem…

  • Samsul Arifin (ipin) // 28 Januari, 2009 pada 10:54 pm | Balas

    Aku setuju denganmu, mas gempur. Bagaimana kalau kita buat tim sukses aja mas, buat mencarikan pendamping?

    fairuzdarin: Waduh. Glubrak!
    *nimpukin Ipin pake sendal*
    Berasa jadi caleg ni, Pin. Ada tim sukses segala. Terima kasih banyak, Pin. Aku tahu Ipin itu baik (pinter ma lucu juga), tapi ga usah sampe mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga hanya untuk mencarikan pendamping untukku. Urusin dulu pendamping untuk dirimu sendiri. :P

  • Gempurr // 29 Januari, 2009 pada 8:25 am | Balas

    Kalo mo solusi.. fee nya ada lagi duoooong…
    Ini triggernya konsultan Rennn… wkwkkk

    @Mas Ipin
    OK mas, ogut siap aja buat tim.. btw, ogut ada ide brilian niiiiiiy…
    gmn.. kalo…
    MAS IPIN MA RENI AJA……wkwkwk eghem..eghmm…

    Whaaa ogut hrs dapet fee ni ntuk comblangin kalian heheheh…..

    fairuzdarin: Hehe… Kalau sama dia kayaknya ga bisa, Mas.
    Ga usah cape-cape nyomblangin aku ma dia, ga mempan… :P
    Tul ga, Pin?

  • vie // 30 Januari, 2009 pada 12:57 pm | Balas

    stujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

    :P

    fairuzdarin: Ye, ni anak ikut-ikutan…

  • angga erlangga // 30 Januari, 2009 pada 9:17 pm | Balas

    Seakan kita selalu bertafakur akan kebesaran Tuhan..

    Nice Post and blog…

    Salam kenal… ;)

    fairuzdarin: Salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung. :)

  • Blog Cantik // 31 Januari, 2009 pada 3:45 pm | Balas

    Kunjungan pertama…!
    Salam kenal ya…!

    fairuzdarin: Terima kasih sudah berkunjung. Salam kenal juga… :)
    wusss… *menuju blog cantik*

  • plonk // 31 Januari, 2009 pada 3:48 pm | Balas

    iki JKT oj d padakno karo ndeso ne sampeyan…
    polusi tok,,, g on bintang

    nek aq dadi sampeyan,, plg2 aq ngentekno kacang sek ben g onok sing njauk, truz ndelok on bintang op g.. nek g on, y paling aq search image bintang nang google… nah ketok bintang e saiki.. truz bobok.. (-_-) Zzz..Zz..z..

    Superman saiki wiz g nang crypton,, dy udah tinggal d bumi,, di smallville…. cari aj di situ.. jd g ush nunggu open recruitment nya NASA… ^_^

    fairuzdarin: Ekooo… Darimana kamu bisa tahu blogku?
    Waduh, moco tulisanmu kok aku dadi mumet ngene to, Ko? Hehe… Iya, Ko. Di Jakarta emang ga bisa lihat Bintang. Tapi, mosok ngasek gugling nyari bintang kayak gitu, to? Tapi, gooood idea lah.
    Btw, aku ga pengen ketemu Superman, kok. Pengen ketemu temen-temennya ajah… :P

  • fauziah85 // 13 Februari, 2009 pada 8:23 am | Balas

    => Setuju ma Fi, setuju ma Mas Gempur :D (yang ini sudah kukatakan langsung kan Ren?!)

    Diem-diem, aku ngikut lho Ren, ikutan baca mantra “tegar… tegar…”

    Boleh kan, ikut-ikutan? :lol:

    fairuzdarin: Jangan ikut-ikutan Nur, ntar Mas Gempur kesenengan tuh karena tambah pengikut. :P

    Silakan Nur membaca mantra itu, hehe… Semoga benar-benar membuatmu merasa lebih baik. :)

  • Pak AR // 14 Februari, 2009 pada 3:30 pm | Balas

    subhanallah…

    fairuzdarin: Terima kasih sudah berkunjung, Pak AR… :)

  • nenyok // 18 Maret, 2009 pada 8:57 pm | Balas

    Salam
    Hmm its really nice posting, tp yang ga bisa bikin aku berhenti saat makan kwaci siy :D

    fairuzdarin: Terima kasih, Mba Nenyok. Aku juga susah berhenti kalo makan kwaci. Hehehe… Aku kan suka makan kwaci. :D

Tinggalkan sebuah Komentar