“Fairuz”

Masukan dari Februari 2009

Cinta Seperti Molekul Sabun

23 Februari, 2009 · & Komentar

Seperti apakah bentuk molekul sabun? Aku sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung, tetapi kata buku “Einsten Aja Gak Tahu!” karya Robert L. Wolke, molekul sabun berbentuk panjang dan tipis. Aku sendiri membayangkannya berbentuk seperti komet. Benar tidak?

Di ujung molekul sabun terdapat sepasang atom yang muatan listriknya hanya senang bergaul dengan molekul-molekul air. Anggaplah dia sebagai kepala molekul. Karena ketertarikan yang kuat dari kepala molekul sabun terhadap molekul air, sabun menjadi larut dalam air. Berbeda dengan kepalanya, si badan molekul sabun yang panjang memiliki struktur yang sama dengan molekul minyak. Itulah sebabnya mengapa si badan justru suka berakrab-akrab ria dengan molekul minyak daripada dengan air.

Ketika sabun bersua dengan air, kepala molekul sabun akan segera menempel pada molekul air. Sabun pun larut dalam keakraban bersamanya. Jika kemudian saat dalam perjalanan mengarungi dunia tiba-tiba si molekul sabun berjumpa dengan molekul minyak (misal pada tangan yang baru saja kita gunakan untuk memegang pisang goreng), maka badan molekul sabun akan merangkul si minyak tersebut, mengikatnya dengan erat. Apa akibatnya? Yah, akhirnya minyak dipaksa bergabung bersama air, dan kemudian dibawa mengalir bersamanya. Dan tangan kita pun terbebas dari minyak.

Lalu, apa hubungannya cinta dengan molekul sabun?

(lagi…)

Kategori: Tak Berkategori

Hiburan Istimewa

17 Februari, 2009 · & Komentar

Seorang teman pernah berucap padaku, “Kulitmu akan bersentuhan langsung dengan air hujan. Keras, seperti batu-batu kecil, Ren.”

Dia mengatakannya sekitar setahun yang lalu, ketika aku meminta nasihatnya tentang pilihanku untuk berpindah dari Tije (Trans Jakarta) ke kendaraan pribadi (baca: motor). Banyak pesan yang ia sampaikan padaku. Sedikit banyak, dia telah menambah kepercayaan diriku untuk menghadapi jalanan Jakarta yang pada awalnya tampak begitu menyeramkan buatku, sekaligus memunculkan rasa bersalahku karena sudah ikut menyumbang polusi di ibukota.

Salah satu hal yang sering ia singgung adalah tentang hujan. Hujan sehari saja sudah bisa menenggelamkan Jakarta dalam genangan banjir. Aku harus hati-hati dengan itu. Dan hujan tak sendiri, dia punya teman: guntur yang menggelegar dan kilat yang menyambar-nyambar. Temanku berusaha membuat diriku yakin dengan pilihanku, sebelum aku benar-benar memutuskan.

(lagi…)

Kategori: catatanku
Ditandai: , , , ,