Seorang teman pernah berucap padaku, “Kulitmu akan bersentuhan langsung dengan air hujan. Keras, seperti batu-batu kecil, Ren.”
Dia mengatakannya sekitar setahun yang lalu, ketika aku meminta nasihatnya tentang pilihanku untuk berpindah dari Tije (Trans Jakarta) ke kendaraan pribadi (baca: motor). Banyak pesan yang ia sampaikan padaku. Sedikit banyak, dia telah menambah kepercayaan diriku untuk menghadapi jalanan Jakarta yang pada awalnya tampak begitu menyeramkan buatku, sekaligus memunculkan rasa bersalahku karena sudah ikut menyumbang polusi di ibukota.
Salah satu hal yang sering ia singgung adalah tentang hujan. Hujan sehari saja sudah bisa menenggelamkan Jakarta dalam genangan banjir. Aku harus hati-hati dengan itu. Dan hujan tak sendiri, dia punya teman: guntur yang menggelegar dan kilat yang menyambar-nyambar. Temanku berusaha membuat diriku yakin dengan pilihanku, sebelum aku benar-benar memutuskan.

