Seorang teman pernah berucap padaku, “Kulitmu akan bersentuhan langsung dengan air hujan. Keras, seperti batu-batu kecil, Ren.”
Dia mengatakannya sekitar setahun yang lalu, ketika aku meminta nasihatnya tentang pilihanku untuk berpindah dari Tije (Trans Jakarta) ke kendaraan pribadi (baca: motor). Banyak pesan yang ia sampaikan padaku. Sedikit banyak, dia telah menambah kepercayaan diriku untuk menghadapi jalanan Jakarta yang pada awalnya tampak begitu menyeramkan buatku, sekaligus memunculkan rasa bersalahku karena sudah ikut menyumbang polusi di ibukota.
Salah satu hal yang sering ia singgung adalah tentang hujan. Hujan sehari saja sudah bisa menenggelamkan Jakarta dalam genangan banjir. Aku harus hati-hati dengan itu. Dan hujan tak sendiri, dia punya teman: guntur yang menggelegar dan kilat yang menyambar-nyambar. Temanku berusaha membuat diriku yakin dengan pilihanku, sebelum aku benar-benar memutuskan.
“Kulitmu akan bersentuhan langsung dengan air hujan. Keras, seperti batu-batu kecil, Ren.”
Untuk kalimat yang satu itu, aku ingat betul. Padahal, aku bukan sekali dua kali kehujanan. Semasa masih sekolah, berangkat dan pulang, aku juga sering kehujanan. Aku tahu sejak dulu bahwa air hujan kadang bisa terasa keras seperti batu. Namun, kata-kata temanku itu seperti sesuatu yang baru pertama kali kudengar dan tak pernah kuketahui sebelumnya. Menjadi sesuatu yang hampir selalu kuingat sewaktu aku sedang berhadapan langsung dengan si batu kecil, eh dengan si air hujan maksudku.
Sudah semingguan ini aku tidak bertemu dengan hujan deras. Sebelumnya, lumayan sering. Menyebalkan memang jika harus kehujanan di jalan. Tapi, jika melihat sisi lainnya, harus kuakui bahwa titik-titik hujan deras yang menyentuh kulit tanganku menjadi hiburan tersendiri di tengah polusi, kemacetan, dan jerit klakson yang memusingkan kepala. Entah bagaimana menjelaskan soal yang satu ini. Tak hanya hujan yang menghibur, angin kencang yang sekarang sedang sering menyerbu Jakarta pun terhitung hiburan. Yah, bisa begitu mungkin karena aku sudah saking bosannya dengan rutinitas macet dkk yang harus kujumpai setiap hari.
Jakarta kini bagai negeri kincir angin, banyak anginnya (lho?). Sudah beberapa kali, perjalananku pulang bekerja dihiasi oleh terpaan angin kencang. Saking kencangnya, kadang aku merasa motorku sampai mundur (lebay, ya?).
Angin kencang yang akhir-akhir ini sering berkeliaran di berbagai penjuru kota kemungkinan disebabkan oleh awan cumulus nimbus. Setahuku sih, awan ini membawa hujan dan angin. Tapi, aku tidak tahu mengapa sekarang si angin sering muncul tanpa si hujan. Yang menyeramkan, awan ini bisa menimbulkan angin puting beliung. Orang-orang harus waspada dengan itu. Angin yang destruktif itu tak pilih-pilih mangsa. Kadang atap rumah orang, kadang papan baliho, kadang pohon pun ia embat.
Yah, semoga aku tetap waspada dan baik-baik saja. Semoga Jakarta juga baik-baik saja. Begitu pun dengan kalian, semoga baik-baik saja, dimanapun berada.


11 tanggapan so far ↓
fauziah85 // 17 Februari, 2009 pada 8:31 am |
Semangat ya Ren… ^_^
Tapi tetep, ati-ati di jalan.
fairuzdarin: Iya… Terima kasih, Nur. Insya Allah tetap hati-hati. Begitu juga dengan Nur, ya… ^^
winky // 17 Februari, 2009 pada 11:05 am |
aku baik2 aja ren..hehehehe
hiburanmu aneh….tanpa bermaksud apa2, tapi emang kadang2 kondisi yang buruk (baca:bencana) bukan hal yang buruk juga kok, yah tentu saja dengan segala simpati dan respek kepada orang-orang yang tertimpa musibah..
jadi inget waktu gempa di jogja..
fairuzdarin: Hiburanku aneh, ya? Mungkin karena aku adalah orang yang aneh. Hehehehe…
Iya Win, selalu ada hikmah di balik suatu kejadian, seperti bencana yang terjadi di Jogja dulu. Semoga Winky ga trauma.
Samsul Arifin // 17 Februari, 2009 pada 12:16 pm |
aku juga baik-baik saja, ren.
kamu juga jaga kesehatan ya. :p
fairuzdarin: Syukurlah kalau Ipin baik-baik aja. Insya Allah aku jaga kesehatan. Ipin juga begitu ya.
yodama // 17 Februari, 2009 pada 1:08 pm |
wah, misi bang Yos dg transjakartanya t’nyata blm b’hasil. Malah m’buat para pelanggan tije (TJ) pindah laen hati ke kuda besi. Lha piye tho?
secara… harga kuda besi sangat..sangat t’jangkau saat ni.
fairuzdarin: Dibilang belum berhasil ya ga belum-belum banget kok, Mas. ^^
Sebenernya aku udah jatuh hati ma Tije. Aku pindah ke lain hati karena belum berhasilnya misi memberantas copet dan “orang iseng” di dalam Tije. Mohon dimaklumi dan dimaafkan, ya…
mrs.children // 17 Februari, 2009 pada 1:14 pm |
cuaca yang tak menentu akhir-akhir ini.. berangin, panas dan ujan, hati-hati untuk orang yang sering bepergian
hati-hati ya mba Ren, hati-hati motor nya terbang.. jangan lupa baca doa mba Ren, hehe
fairuzdarin: Iya, Marina. Kalau sekarang lagi sering panas, entah besok, entah lusa. Hati-hati juga untukmu, ya.
Motorku terbang? Wah, kok terdengar menyenangkan, ya? (husss, Ren)
Farijs van Java // 17 Februari, 2009 pada 5:41 pm |
hujan terkadang menyesatkan…
v(^_^)
fairuzdarin: Masih takut sama hujan ya, Bro? Ndang diobati no…
ahsinmuslim // 18 Februari, 2009 pada 1:30 pm |
saya juga sering merasakan sesuatu yang menarik dan menentramkan setiap kali tetes-tetes hujan menerpa kulit ini.
“selalu mensyukuri setiap yang Allah berikan adalah cara paling jitu peroleh ketenangan jiwa.”
fairuzdarin: Ah, benar sekali Mas Ahsin. Aku juga harus melihat dengan sudut pandang itu.
oRiDoâ„¢ // 19 Februari, 2009 pada 2:44 pm |
wah..wah…
bagaimana dengan nasib istriku di jakarta sana??
*tertiup angin rindu*
fairuzdarin: Insya Allah baik-baik aja, Mas.
Sekarang udah jarang angin malah.
Insan // 20 Februari, 2009 pada 10:39 am |
^_^ Kapan-kapan mau nyobain hujan-hujanan ah…
fairuzdarin: Silakan Mas Insan. Ati-ati, jangan sampe sakit, ya…
gempur // 26 Februari, 2009 pada 9:16 pm |
wiiih pake selimut baru yah…
hujan tuh selalu mengingatkan ogut dgn masa kelas 4 SD… biasanya dianter popy pake jas ujan..dulu malu kalo pake jas ujan, lebih jantan ga pake pelindung..gitu pikiran waktu kecil..

Tapi, justru kenangan yang muncul selalu ttg kehangatan…
ahh syukur kita ada di daerah tropis… bisa dua musim..liburan bisa kapan aja
fairuzdarin: Hehe… lebih jantan kalau pake pelindung? Iya juga sih Mas, aku kecil dulu juga mikir gitu, pas ngeliat temen-temenku yang cowo yang pada pake payung ato jas hujan, di mataku tuh terkesan anak mami banget.
Dulu pas SD, aku juga malas pake payung. Karena payungku gede, ribet bawanya, dan warnanya item pula, jadi kayak payung buat nganter jenazah. Hehehe…
nenyok // 18 Maret, 2009 pada 8:53 pm |
Salam
heh kena puting beliungnya aja sudah menakutkan gimana klo sama s**u beliungnya ya wakakakakaka upsss..
*kabur ah
fairuzdarin: Waduh, opo iki maksude? Jangan kabur mba’e… Sini aja..