Seperti apakah bentuk molekul sabun? Aku sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung, tetapi kata buku “Einsten Aja Gak Tahu!” karya Robert L. Wolke, molekul sabun berbentuk panjang dan tipis. Aku sendiri membayangkannya berbentuk seperti komet. Benar tidak?
Di ujung molekul sabun terdapat sepasang atom yang muatan listriknya hanya senang bergaul dengan molekul-molekul air. Anggaplah dia sebagai kepala molekul. Karena ketertarikan yang kuat dari kepala molekul sabun terhadap molekul air, sabun menjadi larut dalam air. Berbeda dengan kepalanya, si badan molekul sabun yang panjang memiliki struktur yang sama dengan molekul minyak. Itulah sebabnya mengapa si badan justru suka berakrab-akrab ria dengan molekul minyak daripada dengan air.
Ketika sabun bersua dengan air, kepala molekul sabun akan segera menempel pada molekul air. Sabun pun larut dalam keakraban bersamanya. Jika kemudian saat dalam perjalanan mengarungi dunia tiba-tiba si molekul sabun berjumpa dengan molekul minyak (misal pada tangan yang baru saja kita gunakan untuk memegang pisang goreng), maka badan molekul sabun akan merangkul si minyak tersebut, mengikatnya dengan erat. Apa akibatnya? Yah, akhirnya minyak dipaksa bergabung bersama air, dan kemudian dibawa mengalir bersamanya. Dan tangan kita pun terbebas dari minyak.
Lalu, apa hubungannya cinta dengan molekul sabun?
Menurutku, cinta seperti molekul sabun, di satu sisi dia senang bergabung dengan kebahagiaan, tapi di sisi lain, cinta juga mengikat banyak penderitaan. Entah itu penderitaan karena rasa rindu, cemburu, bertepuk sebelah tangan, dilupakan, ataupun karena hal-hal lainnya yang tidak bisa kusebutkan satu per satu di sini.
Cinta larut bersama bahagia, tapi seringkali juga membawa serta penderitaan di dalamnya.
Cinta yang kumaksud di sini sebenarnya adalah cinta yang universal. Namun, kurasa lebih tepat jika kukategorikan sebagai cinta sesama manusia, entah itu antara orang tua dan anak, saudara dan saudari, ataupun antara laki-laki dan perempuan.
Mari kita cek, orang tua akan sedih jika anaknya melupakannya, adik akan berduka kalau kakaknya meninggal dunia, istri akan merindukan suaminya yang sedang pergi jauh. Itulah salah satu bukti bahwa cinta mengikat penderitaan. Meski tetap menciptakan banyak kebahagiaan, cinta tetaplah memiliki sisi lain bernama penderitaan.
Namun, tak ada yang sia-sia di dunia ini. Seperti halnya molekul sabun yang mengikat molekul minyak dan mengalirkannya bersama air, dia membuat tangan kita terbebas dari minyak. Kurasa begitupun dengan penderitaan.
Adakalanya setelah mengenal apa yang disebut dengan penderitaan, kita menjadi tahu apa sesungguhnya makna hidup. Bisa jadi dia menjadi pembersih hati kita. Dapat pula merupakan penggodok jiwa agar kita menjadi lebih matang dan dewasa dalam menghadapi hidup. Bukan begitu? Jika begitu, tentunya tak ada yang sia-sia.
Hem, semoga bahasan ini tidak terasa serius.
Yah, mungkin beginilah akibat menonton film drama yang disambung dengan membaca buku “Einsten Aja Gak Tahu!”. Sejatinya, aku tak tahu dengan jelas ada hubungan apa antara cinta dan molekul sabun. Yang aku tahu, hari Ahad kemarin aku menghabiskan setengah hari hanya untuk menonton DVD drama Korea yang menyayat hati. Kepalaku sampai pusing karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Yah, dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir…


12 tanggapan so far ↓
Samsul Arifin // 24 Februari, 2009 pada 7:10 am |
aku hari minggu kemarin malah sibuk traktir beberapa teman, makan soto, jadi ga sempat memikirkan cinta deh. hahaha.
fairuzdarin: Ga sempat memikirkan cinta? Yang bener…
Itu nraktir temen juga sedang mikirin cinta, kan? Cinta kepada teman.
winky // 24 Februari, 2009 pada 3:44 pm |
ehhmm…cinta = sabun…menarik sekali…hwehehehehehe…
jadi isi adalah kosong, kosong adalah isi…
hwehehehehehe…tong sam chong (bener g tulisannya ni) mode: ON
fairuzdarin: Terima kasih, Winky. Penggemar Sun Go Kong, ya? (bener ga tulisannya ni?
)
Hati-hati dengan cinta, Winky, dari dulu deritanya tiada akhir…
Insan // 24 Februari, 2009 pada 4:51 pm |
Hehehe… Ren… Ren…
Kalau cinta itu seperti molekul sabun. Maka tentulah cinta itu membersihkan. Membersihkan dari sifat kikir, karena pekerjaan orang yang mencintai adalah senantiasa MEMBERI tiada akhir.
Cinta pula mampu membersihkan seseorang dari rasa takut. Karena cinta itu menggelorakan semangat untuk berjuang. Semata-mata agar orang yang dicinta itu bahagia.
Dan cinta itu sungguh ajaib….
Terima kasih Cinta…..
(berarti Terima kasih Sabun…) hehehehe…
fairuzdarin: Setahuku sabun itu memang ajaib, Mas. Berarti kalau sabun ajaib, cinta juga ajaib, dong. Hehe.
Kok Mas menceritakan cinta itu dengan begitu indahnya, ya…? Tapi tetap Mas, cinta itu deritanya tiada akhir…
Kata Patkai si gitu…
tukangobatbersahaja // 25 Februari, 2009 pada 11:38 am |
cinta itu seperti dua buah kutub yang sulit bertemu
Perlu belajar bilangan penyabunan * kalo ga saah namanya saponifikasi*
fairuzdarin: Kalau kutub utara sama kutub selatannya magnet batang, mungkin bisa aku bantu temuin, Mba. Tapi kalau kutub yang lain, aku nyerah deh.
Saponifikasi? Wah, belajar apa aja ya di situ? Kira-kira aku bakal mudeng apa enggak, ya?
hikari // 25 Februari, 2009 pada 1:52 pm |
Hm, tiba2 ngomongin cinta…
Ada apakah? Jadi pengin curiga nih ren…
Aku baru tahu sakitnya cinta saat adikku “hampir hilang” di Bali kemaren. Denger kalo dia belom kumpul aja dah bikin aku nangis2 ga karuan. Ternyata, mencintai bisa begitu sakit begini. Besok paginya, aku langsung memarahinya habis2an. Setelah praktik sendiri, baru mengerti bahwa ada kecerewetan&kemarahan yang disebabkan oleh cinta. Lain kali kalo dimarahi/dicereweti orang, akan berpikir dulu deh, ini marah/cerewet beneran atau malah bukti kasih sayang
fairuzdarin: Waduh, curiga kenapa, nih? Emang kenapa kalo aku ngomongin cinta, to? Jadi terkesan kayak orang jatuh cinta, po?
Cinta itu bikin sakit, ya? Yah, dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Bersabarlah engkau dengan cinta. Hehe…
Kok aku dari tadi niruin Patkai mulu yah?
Padahal sebenarnya aku suka Sun Go Kong.
gempur // 26 Februari, 2009 pada 9:38 pm |
Dari dulu orang berusaha mendefinisikan apa yg namanya CINTA… ribuan puisi dibuat, ribuan generalisasi ditorehkan..
Tetep aja selalu mentok…
tau kenapa??
coz CINTA itu bukan untuk didefinisikan..
tapi untuk dialami…. hehe dan ini problemnya..
problem yg membuat manusia menjadi berbeda dengan manusia lainnya..
fairuzdarin: Wah, pinter banget ni ngomongin cinta. Sering patah hati, ya? Hee…
mahasiswa pemula // 2 Maret, 2009 pada 11:10 am |
Terima kasih cinta ….
fairuzdarin: Yo Must, kembali kasih…
shavaat // 10 Maret, 2009 pada 4:32 pm |
tulisan tentang cinta memang ga ada habisnya. benarlah, nikmatNya memang tak akan habis ditulis, walau habis air di tujuh samudera sebagai tinta *aduh ngomong apa ini…*
benarlah, cinta memang pembersih hati…
fairuzdarin: Wah, anak STAN bisa romantis juga, ya…
Temennya Risna, ya?
Nug // 12 Maret, 2009 pada 6:46 pm |
Reni,
Hm.. analogi yang sangat logis dan mengena..
fairuzdarin: Wah, benarkah? Itu hanya pikiran iseng aja, Mas Nug.
nenyok // 18 Maret, 2009 pada 8:50 pm |
Salam
Cinta itu siksaan yang menyenangkan Ren
fairuzdarin: Duh, yang udah berpengalaman dalam cinta. Oh, cinta gitu to Mba?
iszur // 28 Maret, 2009 pada 9:43 am |
hmm.. untung aja titik beratnya pada molekul sabun, bukan pada sabunnya.
soalnya pada buku yang sama disebutkan kalo sabun: kotoran yang menghilangkan kotoran (kalimat aslinya tidak sama persis).
kalo dibilang cinta layaknya sabun…, berarti dapat diartikan cina berasal dari kotoran…he he..
fairuzdarin: Hohoho… iya, aku juga baca tentang itu, makanya aku mbahas molekul sabunnya, bukan sabunnya.
Baca buku itu juga yah? Bukunya bagus ya…
Ircham // 9 September, 2009 pada 10:50 am |
Menurut saya cinta itu sederhana, itu saja…
fairuzdarin: Iya, Ron. Cinta itu sederhana, tapi Ron, cinta juga seperti molekul sabun.