Masukan dari Maret 2009
Aku adalah warga Jakarta.
Lho, memang kenapa Ren kalau kamu itu warga Jakarta?
Hemmm, ya tidak apa-apa sih.
Setelah sekian tahun menjadi warga Jakarta, akhirnya pada Sabtu kemarin, untuk pertama kalinya aku mengunjungi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat. Di kawasan itu terdapat banyak bangunan tua peninggalan Belanda yang menyimpan cerita Jakarta di masa lalu. Tidak afdhol rasanya jika aku sudah memiliki KTP Jakarta, tapi belum pernah sekalipun bertandang ke Kota Tua.
Setelah mengunjungi kawasan tersebut, timbul perasaan menyesal di dalam hatiku. Awalnya, kupikir Kota Tua itu menarik dan memberikan nuansa berbeda dari kota Jakarta di masa kini, tapi ternyata… (lagi…)
Kategori: jalan-jalanku
Ditandai: Kota Tua, Museum Bank Mandiri, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang
Bermula dari obrolan melalui YM pada suatu malam dengan seorang teman semasa kuliah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung pada pertengahan Maret kemarin. Sebenarnya aku ingin menyebut namanya disini, tapi aku tidak yakin dia akan menyukai itu. Jadi, biarlah kusimpan namanya, biarlah dia menjadi misteri (halah).
Perasaanku juga mengatakan, dia tidak akan peduli sama sekali dengan tulisan ini. Bahkan jika kuberitahukan padanya bahwa aku menulis sebuah postingan yang berisi tentangnya pun, belum tentu dia mau membacanya. Dia adalah orang yang cuek. Sangat cuek bahkan. Meski cuek, tapi dia juga adalah orang yang punya kendali atas dirinya. Hem, itu salah satu hal yang paling aku kagumi dari dirinya.
Kadang aku heran, mengapa dengan orang yang keras dan agak kasar seperti dia, aku justru bisa berbicara lebih bebas dan nyaman. Kejujurannyakah yang menjadikan aku betah dengannya? Bukankah kejujuran adalah pangkal dari kebaikan? Hem, begitu bukan sih?
(lagi…)
Kategori: catatanku
Ditandai: hidup, istimewa, sahabat
Sampai hari ini, aku masih ingin menemukan seseorang yang seperti tokoh fiktif favoritku, di dunia nyata. Perkenalan pertamaku dengan si fiktif itu seingatku sekitar sepuluh tahun yang lalu, di perpustakaan SLTPN 1 Karanganyar, dan sangat mengesankan, sampai-sampai aku merasa dia memang benar-benar ada. Bani namanya, dan tidak benar-benar ada tentu saja, dia hanya hidup dalam novel “Segitiga Lepas Kaki”, karya Gus tf Sakai.
Ada yang pernah membaca novel itu? Novel remaja sih, tapi menurutku dia jauh berbeda dengan kebanyakan novel remaja yang cenderung ringan dan mudah ditebak. Sang penulis novel memiliki kemampuan meramu cerita yang luar biasa, mengajak pembaca untuk larut, ingin tahu, menebak-nebak, merenungi kisah, dan selanjutnya terpukau. Bahasanya puitis. Gus tf Sakai sendiri selain seorang cerpenis dan novelis, juga adalah seorang penyair.
Sangat sulit untuk bisa berjumpa dengan seseorang yang seperti Bani. Kurasa, jauh lebih mudah mencari pangeran berkuda putih yang bersiap untuk menjemput putri di atas menara daripada menemukan dia. Kepribadiannya unik. Secara fisik, dia lebih istimewa lagi: seorang pemuda dengan mata yang menarik, sangat menarik, seperti seseorang yang ada di dalam lagu Angel Eyes-nya ABBA.
(lagi…)
Kategori: Tak Berkategori
Ditandai: gus tf sakai, kisah, mata, novel, segitiga lepas kaki