Sampai hari ini, aku masih ingin menemukan seseorang yang seperti tokoh fiktif favoritku, di dunia nyata. Perkenalan pertamaku dengan si fiktif itu seingatku sekitar sepuluh tahun yang lalu, di perpustakaan SLTPN 1 Karanganyar, dan sangat mengesankan, sampai-sampai aku merasa dia memang benar-benar ada. Bani namanya, dan tidak benar-benar ada tentu saja, dia hanya hidup dalam novel “Segitiga Lepas Kaki”, karya Gus tf Sakai.
Ada yang pernah membaca novel itu? Novel remaja sih, tapi menurutku dia jauh berbeda dengan kebanyakan novel remaja yang cenderung ringan dan mudah ditebak. Sang penulis novel memiliki kemampuan meramu cerita yang luar biasa, mengajak pembaca untuk larut, ingin tahu, menebak-nebak, merenungi kisah, dan selanjutnya terpukau. Bahasanya puitis. Gus tf Sakai sendiri selain seorang cerpenis dan novelis, juga adalah seorang penyair.
Sangat sulit untuk bisa berjumpa dengan seseorang yang seperti Bani. Kurasa, jauh lebih mudah mencari pangeran berkuda putih yang bersiap untuk menjemput putri di atas menara daripada menemukan dia. Kepribadiannya unik. Secara fisik, dia lebih istimewa lagi: seorang pemuda dengan mata yang menarik, sangat menarik, seperti seseorang yang ada di dalam lagu Angel Eyes-nya ABBA.
Look into his angeleyes
One look and you’re hypnotized
He’ll take your heart and you must pay the price
Look into his angeleyes
You’ll think you’re in paradise
And one day you’ll find out he wears a disguise
Don’t look too deep into those angeleyes
Jangan bayangkan aku benar-benar mencari dengan serius tokoh fiktif itu. Tidak seberlebihan itu, kok. Tapi kalau berharap untuk bisa menemukannya, memang iya.
Sempat kukira aku telah melihat Bani dalam diri seorang teman, karena ada kesamaan yang aku tangkap di antara mereka berdua, yaitu sama-sama agak pendiam dan digandrungi banyak gadis. Jika Bani memiliki mata yang menarik, temanku mempunyai senyum yang indah. Begitu menurutku, pada awalnya. Tapi, setelah aku renungi lebih dalam, senyum indah itu lebih merupakan fatamorgana, karena ternyata aku juga memiliki perasaan lebih kepada temanku itu, oleh karenanya senyumnya terasa sangat indah, padahal aslinya ya biasa saja. Hehehe. (iniceritalama.com)
Beberapa karya Gus tf Sakai yang lain pernah kubaca, tapi belum ada yang seperti “Segitiga Lepas Kaki”. Tulisan-tulisan karya orang lain pun belum ada yang mengikat pikiranku seperti novel itu. Huh, belum melihat mata si Bani saja, aku sudah seperti ini, apalagi kalau sudah melihatnya, ya?
Look into his angeleyes
One look and you’re hypnotized
He’ll take your heart and you must pay the price
Jadi takut.


15 tanggapan so far ↓
kenuzi // 1 Maret, 2009 pada 9:17 am |
mbak fairuz, masih ingat aku gak yah….
fairuzdarin: Masih inget dong, Kak Uzi.. ^^
Farijs van Java // 1 Maret, 2009 pada 10:04 am |
ga ngerti blas gustf sakai tu apa dan siapa serta bagaimana. hwehe
ga ngerti juga maksud angeleyes apaan. hoho
v(^_^)
fairuzdarin: Hehe..
winky // 1 Maret, 2009 pada 1:31 pm |
ehhmm…si ipin matanya seperti angel eyes g ya???kayaknya enggak, kasihan kamu ren..hahahahaha…peace2 ren
hati2 ren, kadang kita terlalu mencintai konsep dan imajinasi..padahal mungkin setelah kita mendapatkan apa yg kita inginkan itu, ternyata tidak seindah yang dibayangkan…
fairuzdarin: Walah, jangan bawa-bawa si Ipin, Win. Lihat tuh, dia langsung bersungut-sungut, di atas kepala ada tanduknya.
Nasihatmu akan aku inget, Winky. Insya Allah belum terlalu mencintai kok, cuma terlalu mengharapkan aja. Hehehehe… Sama aja, ya? Ga kok Win, insya Allah enggak terlalu mengharapkan juga.
Terima kasih, ya.
Samsul Arifin // 1 Maret, 2009 pada 1:53 pm |
hei win!
what are you talking about??
fairuzdarin: Calm down, Pin.
Tuh lihat, di atas kepalamu ada dua tanduk berwarna merah menyala. Ngaca coba kalo ga percaya. Serem, kan?
mahasiswa pemula // 2 Maret, 2009 pada 10:20 am |
wow… makin seru nich kayaknya!
fairuzdarin: Heh, maksudmu opo, Must?
fandi88 // 2 Maret, 2009 pada 2:18 pm |
owh bani toh mb’.. kirain beni,, kalo beni mah temen saya,,
fairuzdarin: Dia cuma ada di novel, kok… ^^
hikari // 3 Maret, 2009 pada 7:02 am |
Maka carilah orang yang mencintaimu, karena pandangan penuh cinta itulah angeleyes yang sebenarnya. Coba deh, dijamin merinding dan terhipnotis! (kaya udah pernah ajah…
)
Kupikir better kaya gitu siy. Misal kamu suka seseorang karena senyumnya, tapi bisa aja setelah nikah senyum itu memudar karena berbagai masalah. Lagipula, berarti dia tersenyum “dengan cara yang sama” kepada semua orang kan? Beda kalo senyumnya itu senyum penuh kasih, hanya kepada kita. Mwehehehe…. (mulai nggladrah…)
fairuzdarin: Hehehe… Waduh waduh, terlihat berpengalaman sekali si Nur ini. Mungkin untuk mencari angeleyes yang sebenernya juga ga kalah susah sama mencari angeleyes yang bo’ong-bo’ongan, Nur.
Dan yang sebenernya ga perlu dicari, tapi dia akan datang sendiri. Betul ga, betul ga, betul ga?
hikari // 3 Maret, 2009 pada 7:09 am |
Eh, lupa, petualanganku dg gus tf sakai baru nyampe “Sampah Bulan Desember”. Punya yg lain ren? Maklum, meski orang jatim, aku jarang memegang falsafah jer basuki mawa bea. Kqkqkq…
fairuzdarin: Waduh, aku malah belum nyampe sono. Itu punyamu bukan, Nur? Aku boleh pinjem? Lha Nur aja yang orang Jatim jarang memegang falsafah itu, apalagi aku yang orang Kebumen? Hihihi…
Ada rencana mau hunting buku-buku beliau sih, Nur. Kalo bisa, si Segitiga Lepas Kaki itu juga jadi koleksi pribadi.
ahsinmuslim // 3 Maret, 2009 pada 3:42 pm |
hmm, I hope u will find a man with the angeleyes like a man in your favorite novel.
fairuzdarin: Emmm, makasih Mas. Mungkin seperti kata Nur, mending ketemu seseorang yang angeleyesnya muncul di depan kita aja.
4ndika // 5 Maret, 2009 pada 12:59 pm |
salam kenal aja
fairuzdarin: Salam kenal juga.
4ndika // 5 Maret, 2009 pada 1:00 pm |
kunjungin rumah ane ya, ada post baru
fairuzdarin: Wah, post baru tapi dah rame tuh.
hikari // 11 Maret, 2009 pada 2:47 pm |
Ren..aku mau ralat. Aku jadi ragu, “Sampah Bulan Desember” itu punya Gus tf Sakai atau punya Hamsad Rangkuti. Beneran lupa… aduh, kalau ternyata punya, malu banget deh aku…
fairuzdarin: Hehehe… Aku ga pernah denger Nur, Gus tf Sakai itu pernah melahirkan buku itu ato ga. Tapi aku ga tahu juga, itu punya Hamsad Rangkuti apa bukan. Hehehe… Gapapa…
beth // 14 Maret, 2009 pada 1:26 pm |
sebelumnya, ehm! ehm!
he2…
lama ga menyambangimu mbak…
sesudahnya ehm! ehm! juga
he2…lagi…
(apa sih? mbuh lah!)
fairuzdarin: Ada apa Bet, ber-ehm ehm? Waduh, ga mudheng, ki…
Selamat datang ke blogku lagi, Bet. Hehehe…
nenyok // 18 Maret, 2009 pada 8:48 pm |
Salam
klo gw punyanya eagle eyes
fairuzdarin: Iya Mba… I knew…
Aku mah angeleyes aja deh.
mrs.children // 28 Maret, 2009 pada 11:46 am |
hwoww.. angle eyes agak menakutkan…
yang aku punya kayaknya blurry eyes… (pakekacamata.com)
fairuzdarin: Hohoho… menakutkan yah? Duh, maaf ya Marina. Mungkin aku agak berlebihan kali ya…
Blurrry eyes? Wew, kayaknya seru juga.