Bermula dari obrolan melalui YM pada suatu malam dengan seorang teman semasa kuliah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung pada pertengahan Maret kemarin. Sebenarnya aku ingin menyebut namanya disini, tapi aku tidak yakin dia akan menyukai itu. Jadi, biarlah kusimpan namanya, biarlah dia menjadi misteri (halah).
Perasaanku juga mengatakan, dia tidak akan peduli sama sekali dengan tulisan ini. Bahkan jika kuberitahukan padanya bahwa aku menulis sebuah postingan yang berisi tentangnya pun, belum tentu dia mau membacanya. Dia adalah orang yang cuek. Sangat cuek bahkan. Meski cuek, tapi dia juga adalah orang yang punya kendali atas dirinya. Hem, itu salah satu hal yang paling aku kagumi dari dirinya.
Kadang aku heran, mengapa dengan orang yang keras dan agak kasar seperti dia, aku justru bisa berbicara lebih bebas dan nyaman. Kejujurannyakah yang menjadikan aku betah dengannya? Bukankah kejujuran adalah pangkal dari kebaikan? Hem, begitu bukan sih?
Tidak ada yang terlalu penting dalam obrolan kami malam itu. Dia banyak bercerita tentang laptopnya yang katanya bagus. Dan sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang ia bicarakan karena aku lumayan gaptek. Lalu, aku banyak menanggapi tulisannya dengan keluhan-keluhan tidak jelas tentang hal lain. Tidak nyambung jadinya.
Kemudian kata dia, “Makanya jujur sama diri sendiri.”
Sesuatu yang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Dan aku merasa dia bukan sosok yang “jarkoni” ketika mengatakannya. Dia terlihat sangat berwibawa di depan mataku sewaktu mengeluarkan kalimat itu.
Dia juga berujar, “Do what you want to do!”
Mungkin selama ini dia tahu bahwa aku memang terlalu takut dan berhati-hati dalam melakukan apa yang ingin aku lakukan. Tapi, jika sesuatu yang ingin kita lakukan itu merupakan sesuatu yang benar, berpotensi membawa kebaikan, serta tidak merugikan orang lain, apa salahnya ya kita lakukan? Aku takut pada apa sih sebenarnya? Ah, entahlah.
Dan, terakhir, karena aku tetap mengeluh dan tidak pandai bersyukur, dia kemudian mengeluarkan nasihat maut yang menusuk hatiku, “Say that to the people who live on the street, people that starve to death… Don’t be so ungratefull.”
Aku merasa harus berterima kasih pada dia, karena sejak dia mengatakan itu, aku sudah mencoba banyak hal yang membuatku merasa lebih baik.
Mencoba jujur pada diri sendiri, melakukan apa yang ingin aku lakukan, dan berusaha lebih menghargai keberadaanku di dunia ini.
Lalu, apa hubungannya dengan pulang kampung, ya? Ya itu tadi, aku mencoba jujur pada diri sendiri, melakukan apa yang ingin aku lakukan, dan mencoba lebih menghargai keberadaanku di dunia ini.
Berlebihan, ya? Masak pulang kampung saja sampai begitu? Hehehe, semoga postingan selanjutnya bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi kalau ternyata postingan selanjutnya tidak representatif, ya sudah ya, harap dimaafkan.
Hidup itu istimewa. Hidup kita istimewa. Bagaimana jadinya hidup kita, apakah akan terasa lebih istimewa lagi, tergantung bagaimana kita memanfaatkan ruang kosong dan waktu yang tersisa.
Dan aku sedang mencoba membuat hidupku lebih istimewa, setidaknya lebih istimewa bagiku.


10 tanggapan so far ↓
hikari // 18 Maret, 2009 pada 3:28 pm |
Setiap orang istimewa, setiap orang berharga, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Hm, aku masih penasaran tt banyak hal. Apa nunggu postingan selanjutnya aja ya? ^_^
fairuzdarin: Kalo penasaran, tanya aja langsung ke aku deh, Nur. Aku ga tahu kapan bakal posting lagi. Tapi, kalo mau bersabar nunggu postingan selanjutnya ya silakan. Hihihi…
Samsul Arifin // 18 Maret, 2009 pada 8:07 pm |
aku tidak tahu apakah aku istimewa atau tidak.
fairuzdarin: Aku tahu, Pin. Ipin itu sangat istimewa.
nenyok // 18 Maret, 2009 pada 8:46 pm |
Salam
Hmm..i love myself and you are too
fairuzdarin: So do I…
fandi88 // 18 Maret, 2009 pada 10:28 pm |
Itulah enaknya punya temen yg “cuek” karena kebanyakan orang cuek sering ceplas-ceplos tanpa ada kebohongan,. Seneng juga yah punya temen yg bs ngasih motivasi pada kita,. ehm,, seandainya kita tidak mampu menopang suatu masalah pasti ada seseorang yg dengan tulus mau membantu. itulah seorang sahabat
fairuzdarin: Bener, Fandi. Ada enaknya, tapi ada ga enaknya juga sih…
Semoga para sahabatku selalu di sampingku untuk membantuku dalam mengatasi berbagai masalah ya, Fan.
achoey // 20 Maret, 2009 pada 3:06 pm |
aku yakin aku terlahir untuk melakukan hal yang istimewa
karena aku istimewa jika aku tetap dekat dengan-Nya
fairuzdarin: Mas Achoey selalu benar…
unduk // 21 Maret, 2009 pada 5:16 pm |
setuju pak, memang hidup kita istimewa dan pastas untuk diistimewakan.

fairuzdarin: Begitu kan, Pak?
Btw, setiap ada orang baru yang main ke sini kok sering mengira aku ini laki-laki, ya?
hanif // 26 Maret, 2009 pada 11:55 pm |
Maaf ren aku g bisa pulang..g jadi nyoba sayur kangkung ibumu….he he he ingatnya cuma makanan ya
fairuzdarin: Iya nih, ga ketemu Budi. Sebenarnya hari Ahad aku ke Jogja, Bud, tapi aku ga ngasih tahu Budi, hehe…
Gempurr // 27 Maret, 2009 pada 9:16 am |
Pulang kampung..?
mmhh… keknya susah banget ya pulang kampung.
fairuzdarin: Iya, pulang kampung. Ga susah kok, aku aja yang bikin susah.
mrs.children // 28 Maret, 2009 pada 1:40 pm |
dan kurasa isi postingan ini menyampaikan sesuatu yang cukup istimewa loh mba Reni
hee
fairuzdarin: Ah, Marina bisa aja ni…
Ini hanya curahan hatiku aja Marina…
Nug // 6 April, 2009 pada 10:32 pm |
“Hidup itu istimewa. Hidup kita istimewa. Bagaimana jadinya hidup kita, apakah akan terasa lebih istimewa lagi, tergantung bagaimana kita memanfaatkan ruang kosong dan waktu yang tersisa.”
Hm.. aku suka kalimat itu… dan menurutku + gimana kita membersihkan dan mengisi hati kita dan dapat menikmati segala keistimewaan itu dengan tetap rendah hati…
fairuzdarin: Wah, Mas Nug betul. Terima kasih atas tambahannya.
Sudah lama tidak melihat Mas Nug di sini…