Pada akhir semester genapku di kelas tiga SMA, Bu Sri Riastuti -guru Antropologi-ku-, pernah membahas sebuah permasalahan menarik di kelas. Beliau mengupas pokok bahasan mengenai ciri-ciri manusia Indonesia. Ada satu tokoh yang pemaparannya tentang ciri-ciri tersebut diajukan acuan, yaitu Mochtar Lubis. Yang membuatku tertarik saat itu karena isi pemaparan Mochtar Lubis yang begitu lugas, tanpa tedeng aling-aling, bahkan pada awalnya aku anggap merendahkan manusia Indonesia itu sendiri.
Jadi, menurut Mochtar Lubis, ciri-ciri manusia Indonesia itu antara lain munafik, enggan bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya takhayul, berbakat seni, dan berwatak lemah. Nah, bagaimana menurut kalian pendapat beliau ini? Menyedihkan tidak? Pendapat itu diungkapkan melalui ceramahnya di Taman Ismail Marzuki yang mengangkat tema “Situasi Manusia Indonesia Kini”, pada tahun… tahun 1977 (CMIIW).
Melihat tema “Situasi Manusia Indonesia Kini”, sedangkan ceramah itu disampaikan pada tahun 1977, masih relevankah jika kita membicarakan hal tersebut pada masa sekarang? Masih saja sih. Buku-buku pelajaran Antropologi kelas tiga SMA saja masih menyinggung pendapat Mochtar Lubis itu. Mungkin pakar-pakar ilmu sosial juga masih banyak yang membahas ini.
Hingga sekarang, menurutku masih banyak pro kontra yang mengelilingi isi ceramah Mochtar Lubis tersebut. Manusia Indonesia kan berasal dari banyak suku dan budaya. Karakter suku yang satu dengan karakter suku yang lainnya bisa saja sangat berlawanan. Mungkin ada suku yang feodalismenya terasa kental, ada juga yang tidak. Mungkin memang ada suku-suku tertentu yang berbakat seni, tapi ada juga yang tidak. Dan sebagainya. Jika manusia Indonesia distereotipkan menjadi yang kusebutkan tadi, ya mungkin sekali jauh dari kenyataan.
Tapi, terlepas dari berbagai pro kontra dan anggapan benar tidak, bagiku isi ceramah Mochtar Lubis tersebut dapat menjadi bahan pemikiran untuk mendukung upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia ke depannya. Kebanyakan ciri yang disebutkan kan bukan hal yang baik. Kalau yang kurang baik-kurang baik itu dikikis habis dan diubah menjadi yang baik-baik, kan jadi bagus.
Kenapa aku tiba-tiba berbicara tentang ini? Tumben, ya?
Sampai saat ini, aku masih saja sering teringat dengan apa yang ibu guruku sampaikan. Misal, ketika menonton berita tentang Ponari, aku jadi teringat ciri percaya takhayul. Atau, sewaktu mengamati sistem birokrasi (ceile) dan perilaku para birokrat di kantor-kantor pemerintahan, aku jadi teringat ciri berperilaku feodal. Nah, menengok ke diri sendiri pun, aku jadi teringat salah satu ciri, yaitu ciri berwatak lemah. Hufh, semoga yang ini hanya perasaanku saja.
Terakhir, karena melihat berita tentang Situ Gintung, aku jadi teringat ciri yang lainnya, ciri enggan bertanggung jawab. Ceritanya, beberapa hari yang lalu aku pernah melihat di siaran berita televisi, ada pejabat si anu berkata bahwa bukan dia yang bertanggung jawab atas musibah yang terjadi di kawasan Situ Gintung. Lalu, ada pejabat si yang ani juga bilang bahwa bukan dia yang bertanggung jawab. Ada si ano sih yang bilang itu tanggung jawabnya, tapi kata dia, masyarakat juga salah karena mendirikan bangunan di sekitar Situ. Pokoknya begitu-begitu, lah. Main lempar tanggung jawab begitu, deh.
Hemmm, ingatanku jadi kembali ke laptop, deh. Kembali ke Mochtar Lubis, maksudku. Ke ciri-ciri manusia Indonesia.
Kenapa ya mereka suka lempar tanggung jawab? Kenapa ya mereka enggan bertanggung jawab? Dan kenapa ya sering aku melihat hal seperti ini terjadi di Indonesia?
Sebenarnya, menanyakan hal seperti itu, aku juga jadi malu sendiri. Kalau kutengok lagi diriku, sepertinya sih sudah seringkali juga melakukan “lempar” tanggung jawab. Malah mungkin aku sering melakukannya tanpa merasa bersalah. Hua, menyedihkan. Tapi, aku yakin, di luar sana, masih banyak manusia-manusia Indonesia yang bersikap ksatria, berani bertanggung jawab.
Baiklah. Berhubung aku merasa belum pantas untuk menghimbau kamu-kamu sekalian, aku ingin menghimbau diriku sendiri saja. Aku menuliskan slogan 3M-nya Aa Gym saja lah. Ini boleh tertuju untuk semua orang sih, tapi khususnya diriku sendiri. Inga inga, 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, mulai dari sekarang.
If you want to change the world, look at yourself and make a change, begitu kata tag message gtalkku. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang. Mari ubah ciri-ciri yang agak jelek itu. Yuk mari… Yuk…
Ohya, aku turut berduka cita atas musibah yang menimpa Saudara-saudara kita di daerah sekitar Situ Gintung. Sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, dan semua pasti akan kembali kepada-Nya. Semoga ada hikmah yang dapat kita ambil dari kejadian ini.


5 tanggapan so far ↓
nenyok // 1 April, 2009 pada 1:14 am |
Salam
Pertamax dulu ah..
fairuzdarin: Wah, baru aja diposting padahal…
nenyok // 1 April, 2009 pada 1:18 am |
Salam
hmm… sudahlah memang kenyataanya begitu, berusaha saja meski hidup di Indonesia tp kita tak mempunyai ciri-ciri yang jelek seperti di atas. Yang jelas rakyat itu ibarat gembalaan dan tentu yang bertanggung jawab atas gembalaan ya penggembalanya, ya ga siy. hayoo siapa *tanda tanya*
fairuzdarin: Oke deh, Mba, berusaha aja. Siapa ya penggembalanya? Ada yang bisa menjawab?
Samsul Arifin // 1 April, 2009 pada 2:45 am |
Ternyata pembahasan mengenai jebolnya waduk situ gintung menginspirasi banyak orang utk menulis ya?
fairuzdarin: Aku terinspirasi dari tulisanmu kok, Pin. Haiyah, sok ngerayu lagi. Maap, Pin, becanda.
Iya, jebolnya Situ Gintung emang bikin banyak orang pengen menulis sesuatu.
hikari // 1 April, 2009 pada 8:08 am |
Eh, apa aku salah baca ya? kayae kemaren ada news ticker yang nulis kalo PU menyatakan bertanggungjawab atas jebolnya tanggul…
Yah, tapi aku emang jarang nonton berita sih.
fairuzdarin: Ga salah baca, Nur. Di tulisanku aku juga nulis ada yang menyatakan bertanggung jawab, tapi instansi tersebut tetap menyalahkan masyarakat karena melakukan pembangunan di area Situ.
Ahad malam kemarin aku menonton salah satu acara di stasiun TV swasta yang menghadirkan para korban dan perwakilan salah satu instansi. Ada staf instansi tersebut yang mengaku menjadi penanggung jawab seluruh situ di Jabodetabek. Tapi, secara eksplisit, dia menyalahkan warga yang membangun rumah-rumah di sekitar Situ. Duh, aparat pemerintah itu bikin aku serem sama diriku sendiri, Nur.
hanif // 4 April, 2009 pada 9:56 pm |
Mungkin si Anu, si Ani sama si Ano saudara…jadi kalo dituduh sendirian g mau, maunya barengan he he he biar ringan masa hukumannya kali..
Banyak orang Indonesia yang buruk, tetapi banyak juga orang yang baik, berhati malaikat….hanya saja kita belum kenalan sama mereka, kita belum pernah bertemu dengan mereka…mereka tak terekspos televisi dan media soalnya
fairuzdarin: Mungkin orang-orang yang seperti itu emang ga mau terekspos.. Mungkin takut jadi riya.
Kayaknya sia Anu, Ani, dan Ano bersaudara, namanya aja mirip…