Sudah lama tidak kutengok blog ini.
Apa kabarmu, “Fairuz”?
Aku merindukanmu. Sedikit, sih.
“Reni, Reni, Reni…”
Kamu memanggilku untuk kembali.
Kamu ibarat rumahku.
Benar-benar rumah yang rumahku.
Ya, karena sebuah tempat yang benar-benar kamu anggap rumah, akan selalu memanggilmu untuk kembali. Karena sebuah tempat yang benar-benar kamu anggap rumah, tidak akan dengan mudah kamu tinggalkan begitu saja, tidak akan dengan mudah kamu lupakan begitu saja.
Dan aku kembali, “Fairuz”. Karena kamu rumahku.
Rumah.
Bicara tentang rumah, beberapa hari ini aku juga sedang sering membahas topik “rumah” dengan teman-temanku. Dimulai dari bahasan ringan di kala sarapan, semakin siang, semakin memberat saja ulasannya. Dan kian hari kian ramai saja.
Sebenarnya, hanya dimulai dari dua pernyataan ini.
1. Mustphar, “Omah-omah sit, tembe omah.”
2. Fifi, “Omah sit, tembe omah-omah.”
Terjemah:
1. Mustphar, “Rumah tangga dulu, baru rumah.”
2. Fifi, “Rumah dulu, baru rumah tangga.”
Lalu, aku ikut-ikutan membahas, dan Siko juga.
Pembahasan tentang topik bahasan “rumah” belum selesai hingga saat ini. Meski terlihat sepele, tapi kupikir bagus juga teman-temanku sudah memikirkan itu dari sekarang. Mereka terkadang suka lupa umur. Kalau aku kan masih muda, ya tidak apa-apa belum memikirkannya. *ditimpuk pake sendal*
Sampai sekarang belum ada di antara kami yang omah-omah ataupun yang punya omah. Kami masih sekedar berwacana. Mungkin terkesan no action talk only. Tapi, sebenarnya, kami bicara karena ingin sharing saja. Dengan membuka isi kepala kami satu sama lain, kami berharap menemukan sesuatu yang lebih baik dibanding isi kepala kami sendiri, atau sebaliknya, membuat teman kami menemukan sesuatu yang lebih baik dibanding isi kepala mereka.
Jadi, bagaimana kesimpulan sementaraku dan teman-temanku tentang “rumah”?
Hemmm, biar mereka saja yang menuliskannya melalui komentar di sini jika mereka menghendakinya.
Lalu, bagaimana dengan pendapatku?
Hemmm…
Satu kalimat saja.
Aku suka mempersiapkan segala sesuatunya dari jauh-jauh hari.
Tapi, untuk sementara, rumah yang ini saja.
Tak ada rotan, akar pun jadi.
Tak ada omah (ataupun omah-omah), “Fairuz” pun jadi.


15 tanggapan so far ↓
fifi // 12 Mei, 2009 pada 11:52 am |
Stuju Ren…
aku tuh juga orang yang lebih suka mempersiapkan sgala sesuatu jauh2 hari..
terlebih untuk hal yang satu ini…
makanya,,,aku lebih memilih ‘omah’ dulu sebelum ‘omah-omah’…
^^v
fairuzdarin: Iyo, Fi… Tapi inget masalah jangka waktu untuk punya omah itu. Si Mustphar juga kayaknya pengen memperingatkan kita melalui postingannya tentang busss… Tapi, mempersiapkan dari jauh hari adalah hal yang baik juga, kan?
winky // 12 Mei, 2009 pada 1:14 pm |
dibarengin aja ren..omah ma omah-omah..
fairuzdarin: Itu yang paling ideal, Wink. Tapi, untuk punya omah ataupun mau omah-omah kan persiapannya harus dari jauh-jauh hari, to? Ga bisa langsung jreng ada omah dan udah omah-omah.
mustphar // 12 Mei, 2009 pada 1:17 pm |
fifi bilang gitu karena cita-citanya “omah-omah” kandas di tengah jalan…
hehe…
piss mb.
fairuzdarin: Oh ya, Must?
fifi // 12 Mei, 2009 pada 1:25 pm |
iya…dulu pernah kandas…
makanya sekarang bener2 mo mempersiapkan sebaik mungkin…
biar lebih kuat…biar tahan terkena badai…
halah…halah…ngomongke opo to iki???
hehehe…
fairuzdarin: Huehehe… curcool apa bukan?
Yang sudah berlalu biarlah berlalu, kita sambut hari esok yang lebih baik. Life must go on. Lanjutkan! Halah, kok jadi kayak kampanye?
Samsul Arifin // 12 Mei, 2009 pada 2:49 pm |
kayaknya ada yang udah kepengin omah-omah nih.
siip, kita sama ren : mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari.
tapi ya itu, seringnya hanya sekedar wacana saja.
fairuzdarin: Bukan, Pin. Ipin keliru. Justru belum ada yang kepengin omah-omah dalam jangka waktu dekat. Yang bener malah kepengin punya omah.
winky // 12 Mei, 2009 pada 4:11 pm |
kayaknya ada yg sama ni..hehehe..
*kabuurrr*
fairuzdarin: *Ngeliatin Winky lari-lari sendiri*
Ga ada yang ngejar kok Wink… Ga usah kabur gitu. Duduk manis aja bareng sama yang lain.
mustphar // 12 Mei, 2009 pada 4:15 pm |
maksudmu opo wink? sopo sing pengen omah2 sama2?
fairuzdarin: Must, bukan pengen omah2 sama2 Must. Jangan salah paham, ya. Kalimatmu akan membuat orang salah paham.
pichan // 12 Mei, 2009 pada 4:34 pm |
em, apa yang sudah siap dilakukan sekarang, maka dilakukan ajah terlebih dahulu. “omah
-omah” kan butuh persiapan masalahnya lebih ke finansial dan lokasinya. klo “omah-omah” itu kan menyangkut kesiapan fisik dan mental juga diri kita dan pasangan kita, kelaurga besar… ora biso dibarengke, yo ora biso pisan didhisikke salah sijine. keduanya terpisah, meskipun kata dasare podo “omah” e….. hihihifairuzdarin: Iya pit, emang susah dibarengke. Aku sekarang lagi mikir-mikir pengen punya omah ya karena terkait masalah omah-omah. Tapi, ada pertimbangan buat investasi juga. Ga ada salahe to mikiri punya omah dari jauh-jauh hari, meski belum siap omah-omah?
hanif // 12 Mei, 2009 pada 6:05 pm |
Aku wis digawe’ke omah je…
tinggal lulus, kerja…omah-omah
Bukankah itu fase yang akan kita alami semuanya…(kalau diberi umur panjang tentunya)
Wah Reni ada banyak persamaan dengan….(seperti yang dikatakan Winky)…
hm…kutunggu saja deh…wa ka kak
fairuzdarin: Wah, wis digawe’ke omah? Yo wis to Bud, ndang dirampungke skripsimu, terus omah-omah deh…
Banyak persamaan apanya?? Ga. Waduh Bud, jangan ikut-ikutan mereka memojokkanku.
fauziah85 // 13 Mei, 2009 pada 5:28 pm |
Budi ma Winky (plus Mustphar) meriah sekali mendorong2nya… ya sudah, aku ga ikutan kok ren… kqkqkq ^-^v
Hm, dua2nya malah belum terpikir olehku. Gimana ya? kan boleh to, invest di hal yang lain aja?!
fairuzdarin: Investasi di hal lain boleh dong, Nur. Aku juga berlebihan tuh, investasi kok di rumah. Hehehe…
Aku juga baru sekedar mikirin kok, belum tahap merealisasi…
uwie // 13 Mei, 2009 pada 7:27 pm |
Ada pembahasan tentang “omah-omah”, jadi tertarik Ren..
Hmm
Hai pemuda, barang siapa diantara kalian sudah “sanggup”, maka menikahlah.
Dan…
Jadilah di dunia layaknya orang asing atau seorang penyeberang jalan. Jika sore, jangan menunggu pagi, dan jika pagi jangan menunggu sore…
Kata-kata di atas juga buat yang komen ini.
Sebenarnya takut jadi anggota NATO(not action talk only) juga c… jadi komenku cukup sekian.
Kalau merasa terpojokan, sabar ya Ren..
fairuzdarin: Makasih atas komennya, Tom. Sebuah tausiyah yang bagus. Aku sedikit banyak mengerti pesan yang ingin disampaikan. Tapi… belum bisa kujalankan…
Sering-sering mampir dong, biar semakin banyak nasihat untukku…
tukangobatbersahaja // 5 Juni, 2009 pada 4:39 pm |
kapan update lagi blognya?
fairuzdarin // 9 Agustus, 2009 pada 10:54 pm |
Emmm, kapan ya Mba? Bentar lagi, insya Allah.
Gandhi Anwar // 9 Agustus, 2009 pada 10:42 pm |
sini aku ikut timpukin pake sandal juga ren. ha ha ha… ^^
link dong blog ku disini:
http://GandhiAnwar.blogspot.com
http://Just2live.blogspot.com
fairuzdarin // 9 Agustus, 2009 pada 10:59 pm |
Ada yang lagi maen timpuk-timpukan to Gan? Mana mana? Yeee, itu di postingan lain kali ya?
Iya, ntar insya Allah aku kasih link. Punyaku di-link juga dong di tempat Gandhi.