“Fairuz”

SARI TEBU MURNI

14 Mei, 2009 · & Komentar

Sabtu (9/5) kemarin, aku melewati jalan T.B Simatupang dari Jakarta Selatan ke arah Pasar Rebo. Di sepanjang jalan, kujumpai beberapa penjual air sari tebu yang berdagang di atas mobil pick up. Ada tulisan besar terpasang di tempat mereka berjualan: “SARI TEBU MURNI”. Semua penjual memasang tulisan yang sama.

Beberapa bulan yang lalu, aku lupa kapan tepatnya, pernah juga kulihat penjual air sari tebu dengan tulisan yang sama. Juga berjualan di atas mobil pick up. Hanya saja, bedanya, penjual itu kutemui di daerah dekat Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Sekilas, peralatan dan perlengkapan yang mereka gunakan untuk berjualan pun sama.

Iseng, aku bertanya ke Mbah Google tentang “SARI TEBU MURNI”, dan kata beliau, ada jaringan penjualan air sari tebu dengan merek dagang “SARI TEBU MURNI”. Pemegang merek tersebut adalah Doddy Sularso Bangun, pemilik CV Raja Tebu.

Ada yang berminat untuk membuka usaha seperti Pak Doddy? Hem, kalau aku sih tidak berminat. Pada dasarnya, aku bukan penyuka sesuatu yang manis-manis, meski tetap doyan. Yang asin-asin dan pedas-pedas baruuu… Emmm… Nyummy… Gurih… Yang kecut-kecut juga enak. Cep cep cep… Aku sedang membayangkan memakan jeruk kecut yang membuat mata merem-merem saking kecutnya. Enaknya…

Kembali ke air sari tebu…
Minum air tebu bukan hal baru buatku. Saat aku masih kecil, kakakku sering menebang pohon tebu yang ada di dekat rumahku. Yang aku ingat batang tebunya berwarna merah dan tidak terlalu besar, mungkin diameternya sekitar empat-lima centimeter. Tapi, itu sudah lama sekali berlalu. Itu saat aku benar-benar masih kecil, masih duduk di bangku SD kalau tidak salah. Setelah pohon tebunya menghilang entah kemana, dan kakakku semakin jarang menebang tebu, aku juga tidak pernah minum air tebu lagi. Lagipula aku kan memang bukan penyuka yang manis-manis…

Sampai kemudian aku melihat mobil pick up di dekat bandara Halim Perdanakusuma itu… Terpampang tulisan “SARI TEBU MURNI”. Ada batang tebu yang besaaar… Dan aku jadi terkenang dengan acara minum air tebu bersama kakakku. Acara mengupas kulit tebunya… Acara membelah tebunya… Menggigit-gigitnya… Menyedotnya… Srooot, sampai tebunya hancur plus tidak manis lagi, masih saja disedot-sedot.

Melihat penjual itu, aku tidak langsung ingin membeli air tebu itu. Setiap kali melewatinya, aku hanya mengintip tebunya. Terkenang sih terkenang, tapi aku kan bukan penyuka yang manis-manis (meski tetep doyan), jadi ya aku tidak terlalu tertarik untuk membelinya. Pernah kuberitahu kakakku soal air sari tebu itu. Dan kakakku geregetan padaku, kenapa sih tidak membeli kalau memang ingin???

Ada alasan lain kok selain karena tebunya manis. Tapi masih terkait dengan sesuatu yang manis-manis juga sih, yaitu martabak.
Saat SMA dulu, aku kadang membeli martabak isi ketan yang dijual di depan SMPN I Kebumen. Dulu, bagiku itu adalah martabak paling enak sedunia. Rasanya lezaaat sekali dan bikin melayang… Apalagi jika dimakan pas masih hangat, emmm… nyummmy… Pokoknya uenaaak buanget…

Lulus SMA, pindah kota, aku sudah tidak pernah membelinya lagi… tapi sampai awal tahun ini saja. Melewati penjual martabak itu sih lumayan sering, tapi… (untuk keempat kalinya kutulis..:P ) aku bukan penyuka yang manis-manis, jadi aku lewat ya lewat saja… Nah, saat membeli di awal tahun itu, itu karena aku sudah terlanjur membayangkan akan melayang lagi demi menikmati legitnya martabak itu. Jadilah kubeli, sebab aku sedang ingin melayang.

Tapi, apa yang terjadi, ternyata rasa lezat yang aku bayangkan itu sudah tidak kutemukan lagi di dalam martabak itu! Ternyata rasanya biasa saja… Sungguh aku terhenyak. Apa yang terjadi dengan engkau wahai martabak isi ketan???

Kalau aku ingat-ingat, rasanya masih seperti dulu sih. Tapi, sensasi melayang saat makan itu sudah tidak ada lagi. Entah apanya yang salah pada diriku. Mungkinkah karena berbagai jenis martabak sudah masuk ke dalam mulutku sehingga rasa martabak isi ketan yang nikmat itu menjadi tenggelam?

Entahlah.

Tapi, yang jelas, kenangan makan martabak sampai berasa melayang itu masih tersimpan di benakku. Dan akan tetap kusimpan, meski sekarang aku sudah tidak bisa mengulanginya lagi… Martabak isi ketan itu tetap terasa manis dalam kenangan manisku. Mungkin dia menjadi manis karena kenanganku yang memanis-maniskannya. Mungkin memang begitu.

Yah, itulah alasan lainnya. Aku menduga-duga air “SARI TEBU MURNI” itu tidak akan semanis air sari tebu yang pernah kuhisap bersama kakakku. Jadi, daripada menghancurkan bayangan indah akan manisnya air sari tebu, mending tidak usah membelinya saja. Begitu…

Tapi, kemudian aku sadar, itu adalah langkah yang keliru. Membiarkan semuanya hanya manis dalam kenangan adalah langkah yang keliru. Hadapi kenyataan! Begitu kira-kira yang benar, kan?

Saat tiba-tiba kakakku mengajakku untuk membeli air sari tebu bermerek itu, aku menurut saja. Pedagangnya memeras tebu menggunakan alat peras sederhana. Tebunya sudah dikupas, tinggal diperas. Kulit tebu yang sudah menjadi sampah berwarna hijau, bukan merah.

Tidak ada acara mengupas kulit, atau menggigit-gigit, apalagi menyedot-nyedot. Semuanya sudah disajikan dalam segelas air sari tebu yang dingin karena ditambahi es. Tinggal glek glek glek…

Dan seperti perkiraanku, memang tidak semanis yang aku kira… Tidak seperti dalam kenanganku. Tapi, tak mengapa. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk menghadapi kenyataan itu. Toh, aku juga bukan penyuka yang manis-manis kok…

Sekarang, penjual di dekat Bandara Halim Perdanakusuma itu sudah tidak berada di situ lagi. Sempat terlintas di kepalaku, mungkin saja yang kemarin kulihat di jalan T.B. Simatupang bisa jadi penjual yang dulu itu. Ah, ternyata aku sudah mulai mengenang dirinya. Dia sekarang sudah menjadi bagian kenangan hidupku. Dan meski dulu air sari tebunya tidak semanis yang kukira, sekarang kenangan akan dirinyalah yang terasa manis.

Memang sih aku bukan penyuka yang manis-manis (meski tetep doyan), tapi untuk kenangan manis, itu bisa dikecualikan, kok.

Jadi, sudah ada yang berminat untuk membuka usaha “SARI TEBU MURNI” seperti Pak Doddy?

:)

Kategori: catatanku
Ditandai: , ,

37 tanggapan so far ↓

  • just 'azzam // 15 Mei, 2009 pada 3:19 am | Balas

    ouw boljug tuh usahanya…sekalian restoran aja.

    gk suka manis, berarti gk cocok ma gudeg ni.

    fairuzdarin: Bukan ga suka Mas, melainkan bukan penyuka. Aku tetep doyan gudeg, meski emang ga cocok. Selain bukan penyuka manis, aku juga bukan penyukan yang bersantan-santan, meski juga sama aja tetep doyan… :)
    Ada cita-cita pengen buka toko roti. Tapi kalo bisa bukan roti yang manis, hehehe…

  • samsul arifin // 15 Mei, 2009 pada 3:42 am | Balas

    kok aku merasa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan ya, ren?
    aku baca sekali lagi ah, mbok nemu benang merahnya…

    fairuzdarin: Ga ada sesuatu yang tersembunyi, Pin. Itu murni kasus pidana umum. Ga ada teori konspirasi atau apalah…

  • hanif // 15 Mei, 2009 pada 2:47 pm | Balas

    aku belum berminat membuka usaha “SARI TEBU MURNI” karena ku merasa diriku sudah terlalu manis…he he he (narsis Mode ON)…auw..auw..auw…digigit semut nih!

  • winky // 15 Mei, 2009 pada 2:54 pm | Balas

    kayaknya aku tahu apa yg ingin disampaikan reni.. *sok tau mode: ON*

    tapi tak kasih tahu kamu lewat YM aja pin..biar tidak memperkeruh suasana di sini..hehehehehe

    • fairuzdarin // 18 Mei, 2009 pada 1:12 pm | Balas

      Waduh, berapa kali mesti kubilang, ga ada pesan tersembunyi!
      Percaya sama aku deh Wink.
      Btw, emang apa sih yang terkesan ingin aku sampaikan? Kasih tahu aku juga, dong.

  • Nug // 15 Mei, 2009 pada 9:18 pm | Balas

    Hm.. aku pecinta air Tebu gitu. Dulu waktu disini masih jarang, kalau aku ke Sumatra (di Riau, Jambi atau beberapa wilayah lain) selalu aku sempatkan beli, sebagai obat rinduku atas minuman yang duluuu waktu aku kecilku di Riau cukup populer.. :)

    Tapi aku cukup jadi penikmat aja, gak mau jualan.. :)

  • masnoe® // 16 Mei, 2009 pada 5:28 pm | Balas

    baru pertam kali berkunjung sudah dapet tutorial gratis masksih ya

    salam kenal saya

  • shavaat // 18 Mei, 2009 pada 10:34 am | Balas

    Sekarang tebu masuk kota ya. Perasaan dulu tuh, mane ade orang kota yang suka makan/minum (sari) tebu.
    Klo di kampung: tebu di potong2, kira2 panjangnya 3-4 centi, trus ditusuk pake bambu yang menjari. Diisep2 deh. Trus sepahnya di buang. Ha3.
    Lebih praktis, tinggal di kuliti pakai mulut. Harus hati2 tapi, klo ga bibir berdarah. Belum lagi gigi ngilu2. Ha3. Teringat masa2 kecil di kampung…
    Kayaknya, pak doddy tuh terinspirasi dari pengalaman masa kecilnya. Dari pada bibir luka2, mending langsung di peras, di ambil sarinya. Hebat dah pak doddy itu..

    • fairuzdarin // 18 Mei, 2009 pada 1:41 pm | Balas

      Iyaaa… sekarang tebu dah masuk kota. Kayaknya baru beberapa tahun ini deh, perasaan dulu-dulu aku juga ga pernah lihat minuman tebu kayak gitu.
      Bener, harus hati-hati kalo mau ngupas pakai mulut. Tajem soalnya… Dan emang bikin gigi ngilu. Hehehe…

  • Balisugar // 19 Mei, 2009 pada 3:35 pm | Balas

    Ah aku gak punya modal buat buka usaha

    SARI TEBU MURNI :smile:

  • fauziah85 // 20 Mei, 2009 pada 7:28 am | Balas

    Seperti yang kubilang di sms, aku ga akan membeli sari tebu di pinggir jalan itu. Dulu, sari tebu dijual di sekitar pabrik gula Kebon Agung. Entah, mungkin dari tebu2 yang ga kegiling menjadi gula. Rasanya enak sekali (aku lupa pake es apa ga). Tapi yang paling terkenang adalah sari tebu yang dibeli waktu aku dan keluargaku melakukan wisata ke KBS. Naek sepeda motor (honda astrea yang item tahun 90an itu) berempat, jalan jauh malang-surabaya. Karena kehausan, beli sari tebu di tengah jalan. Benar2 nikmat. Dan yang paling manis adalah kenangannya…

    Aku yakin, tak akan ada yang bisa semanis sari tebu waktu itu. Jadi aku ga akan menghapus memori itu dengan membeli sari tebu lain yang bisa merusak kenanganku. :)

    • fairuzdarin // 20 Mei, 2009 pada 8:32 am | Balas

      Hal senada pernah ada dalam pikiranku: aku ga mau merusak kenangan. Tapi, aku ga pengen terkungkung dalam kenangan masa lalu, makanya aku berani mencoba. Baik kenangan tentang martabak maupun tebu, semuanya masih terasa manis, meski sekarang aku udah merasakan rasa lain (atau rasa sebenarnya?) dari mereka. Malah aku jadi tahu betapa berharganya mereka, karena mereka yang ternyata rasanya biasa saja, bisa menjadi terasa sangat nikmat. :)

  • bayu200687 // 26 Mei, 2009 pada 7:37 am | Balas

    pengen c bisnis semacam itu, tapi bingung mo mulai dari mana. ada saran mba?

    filosofis bangets ya frase demi frase yang mba rangkai tentang kenangan. bahkan tentang hal2 yang menurutku begitu remeh. ah, ternyata memang setiap jengkal langkah bisa meninggalkan benih2 bintang yang bisa kapan saja bersinar…

    • fairuzdarin // 27 Mei, 2009 pada 12:42 pm | Balas

      Aku juga ga banyak tau masalah bisnis semacam itu. Tapi, kalo masalah mau mulai dari mana, menurutku mulainya dari niat yang ikhlas dan bersungguh-sungguh. Hehehe…
      Udah siap modal ya? Emmm, lakukan analisis SWOT dulu kali ya, kira2 sebenere gimana sih bisnis ini.

      Ini cerita tentang kenangan Bay, dan isinya emang hal2 yang remeh. Eh, aku suka banget dengan kata-katamu: “setiap jengkal langkah bisa meninggalkan benih2 bintang yang bisa kapan saja bersinar…”
      That’s right!

      Hal2 yang remeh itu, pas aku lakonin dulu terasa remeh banget, ga nyangka kalo sekarang aku merindukannya.

  • jojo toto wowo // 29 Mei, 2009 pada 2:10 am | Balas

    Hallo REN….pa kabar….
    met jumpa di dunia maya…….

    • fairuzdarin // 29 Mei, 2009 pada 8:05 am | Balas

      Halo Juli… Met jumpa di dunia maya.
      Wah, senengnya temen SMAku yang main kesini nambah lagi. Hehehe…

  • jojo toto wowo // 29 Mei, 2009 pada 3:48 am | Balas

    Hm..enak dounk punya usaha tebu…tiap pagi bisa menyeduh teh hangat tanpa takut kehabisan stok gula…..mau bangetzzzzzz

    • fairuzdarin // 29 Mei, 2009 pada 8:09 am | Balas

      Kalo gitu, jadinya air tebu campur teh hangat ya?
      Kayaknya enak juga tuh minuman. Bisa juga tuh jualan minuman bertitel TEH TEBU.
      :P

  • Gandi Wibowo // 6 Juni, 2009 pada 10:28 am | Balas

    Assalamu’alikum..
    Sebelomnya.. salam kenal mba..
    Numpang mampir sekalian ninggalin komen..

    Kayaknya bener nih ada “sesuatu” dibalik postingan manis2 ini, jangan takut mba, lebih enak yg pahit di kenyataan dari pada manis dikenangan kok..

    • fairuzdarin // 9 Juni, 2009 pada 11:18 am | Balas

      Wa’alaykumsalam warrahmatullah wabarakatuh…
      Salam kenal juga Mas Gandi. :)
      Ga ada “sesuatu” kok, Mas. Emang kesannya ada apa sih di tulisanku? Tolong diterangin dong, Mas. Aku nulis ini ya karena murni tentang sari tebu murni dan kenangan ttg tebu…

  • samsul arifin // 6 Juni, 2009 pada 6:46 pm | Balas

    reniiii… :D
    akhirnya berhasil!!
    akhirnya keluar avatarnya, keluar fotonya, keluar “icon” identitas diriku.
    kau tidak tahu betapa senangnya diriku saat ini, setelah aku menanti ini untuk sekian lama.

    *) maaf OOT ya ren

  • ina // 9 Juni, 2009 pada 11:15 pm | Balas

    assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokaatuh

    baca postingan mba yg ini kok air liurku mau keluar ya??? (glek~)

    hmm.. kalau mba reni berani melangkah agar tidak terkungkung dgn kenangan ‘manis’ nya tebu yang dulu.. apa aku bisa melangkah agar tidak selamanya terkungkung dgn kenangan ‘ pahit’ nya duren yang dulu..

    • fairuzdarin // 9 Agustus, 2009 pada 10:48 pm | Balas

      Wa’alaykumsalam warrahmatullah wabarakatuh.
      Wehehe, sampe bikin kepengen beneran ya?
      Ayo, Ina, keluaarlah dari kungkungan kenangan pahit itu! Ina pasti bisaaa! Entah gimana caranya, tapi pasti bisaaa!
      :P

  • achoey // 12 Juni, 2009 pada 8:45 am | Balas

    Lama tak ke sini
    Sahabat, sat kecil dulu aku seringkali menyepah tebu
    Manis :)

    main ke http://miejanda.com ya!

  • syelviapoe3 // 13 Juni, 2009 pada 11:54 am | Balas

    martabak ketan ?
    Wah..di tempat saya sepertinya gak ada, deh…

    Sari tebu murni…ada kelebihannya, gak, ya ? hm..dari segi khasiat ?
    Hm..yakin, nih, gak suka yang manis-manis? he..he..

  • reez // 3 Agustus, 2009 pada 8:29 am | Balas

    taarrraaa…..
    yang termanis ada disini……
    ga suka yang manis ya mbak, wah berarti ga suka aku dong… :P
    btw, kudengar kerjaanmu tambah hebat aja
    mbak
    hm…kusinari dengan cahaya kemalasan
    ha….ha….ha….hek…

    • fairuzdarin // 9 Agustus, 2009 pada 10:01 pm | Balas

      Hai Ris… Kalo buat Riris ada pengecualian lah. Biar manis (manis dikit, hehe), aku tetep suka ma dirimu. I love you full…
      He, kerjaan apaan itu maksudnya Ris? Dari dulu masih gini2 aja, kok. Ya, mohon doanya semoga bisa semakin baik, ya..

  • mrs.children // 24 Agustus, 2009 pada 7:05 pm | Balas

    wahh..lama gak main kesini..tiba2 disuguhin air sari tebu :D hehe..

    btw.. kayaknya aku belom pernah minum sari tebu nih.. kapan2 menuju TKP ahh :p

  • balisugar.com // 19 September, 2009 pada 9:29 pm | Balas

    Bersilaturahmi kepada semua teman-teman
    Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir bathin.

    fairuzdarin: Terima kasih sudah menyempatkan berkunjung. Mohon maaf lahir dan batin juga.
    Taqabbalallahu minna wa minkum. :)

  • masduki // 27 September, 2009 pada 12:09 am | Balas

    Maaf mau numpan iklan boleh kan ? Kebetulan saya di Jambi sebagi wilayah yang banyak penghasil tebu buah yang dapat digunakan bahan pembuat sari tebu. Bila Anda berminat buka usaha ini saya siap suplay tebu Jambi yangberair banyak dan sangat manis rasanya. HP 081373212009

    fairuzdarin: Silakan, Bapak. :)
    Mohon maaf, saya sampe sekarang belum berminat buka usaha, tapi kalo minum air tebunya sih berminat. Hehehe…
    Semoga tebu Bapak laris, ya..

Tinggalkan sebuah Komentar