“Fairuz”

Catatan Mimpi

7 September, 2009 · & Komentar

Tidur panjangku berakhir.

Alhamdulillah, akhirnya aku bangun dari tidur panjangku. Sebenarnya tak ada niat sama sekali untuk menjalani tidur panjang, dulu tahu-tahu aku merasa mengantuk sekali dan akhirnya tertidur. Lelaaap sekali, padahal tidak berdoa terlebih dahulu. Sangat nyenyak, sampai hampir tak ada keinginan untuk bangun dan menulis lagi.

Ada seorang sahabat yang begitu getol membangunkan aku, menyuruhku cuci muka, dan bahkan memintaku untuk menuliskan mimpi yang baru saja aku peroleh. Mungkin kalau hanya satu atau dua kali dia melakukannya, aku tak akan bangun, dia kuabaikan secara tidak sadar. Tetapi ini? Aku bahkan tidak ingat benar sudah berapa puluh kali ia meminta ini: catatan mimpiku. Catatan mimpi yang nyata.

Aku teringat dengan sebuah kalimat bijak yang sayangnya aku lupa pernah baca di mana: “catatan yang paling suram jauh lebih baik daripada ingatan yang paling kuat”. Aku sadar, ingatan manusia sangat terbatas (apalagi ingatanku), jadi ya sudah, aku memutuskan untuk menulis. Supaya aku ingat, supaya apa yang sudah terjadi tidak ditelan bumi begitu saja.

BTW, filosofi dari kalimat-kalimat di paragraf atas itu hampir sama dengan filosofi kalimat salah seorang sahabatku: mendokumentasikan hidup dengan menulis. Hanya saja, kalimatku sedikit lebih keren dari kalimatnya, kaan? :P

Baiklah.

Mungkin apa yang aku tulis merupakan salah satu bukti dari adanya hukum tarik menarik di alam semesta. Ketika kita menginginkan sesuatu, lalu kita memberi perhatian kepada keinginan itu dan terus memelihara gambaran dari apa yang kita inginkan, maka kita akan tertarik kepadanya, dan dia juga akan tertarik kepada kita. Dan akhirnya sesuatu yang kita inginkan tersebut berhasil kita dapatkan. Proses mendapatkan keinginan tersebut akan terasa ringan, nyaman dijalani, dan mengalir. Sehingga bisa jadi kita tidak menyadari bahwa kita sedang berusaha meraih keinginan tersebut.

Saat ini aku merasa sedang mendapatkan (atau sudah mendapatkan, lebih tepatnya?) apa yang aku inginkan di masa lampau. Di sebuah titik aku telah sampai. Jauh lebih dari yang aku inginkan di waktu lalu. Sekarang aku ingin menengok ke belakang sejenak, melihat bagaimana keinginan itu menjadi kenyataan. Mimpi yang sederhana itu telah terwujud, tapi memang masih terasa seperti mimpi. Kenapa, ya? Apa karena terlalu indah?

Keinginanku sederhana sekali: ingin menjadi teman seseorang. Tapi, proses untuk menjadi temannya ternyata begitu lama. Dalam hal ini, menjadi teman yang benar-benar temannya, atau mungkin lebih tepatnya menjadi sahabatnya, yang bisa mengobrol ngalor-ngidul saling bertukar pikiran, dan tak sekedar mengenal nama. Enam tahun. Nah, selama itu. Tapi sepanjang waktu itu, keinginan itu tetap terpelihara dalam benak dan pikiranku, meski hanya muncul sekali-kali saja.

Yang konyol, bahkan sangat konyol menurutku, adalah alasanku ingin menjadi temannya. Masa aku ingin menjadi temannya gara-gara dia meraih nilai tertinggi Emotional Quotient (EQ) di sekolahku?? Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA, dan bersama teman seangkatanku menjalani psikotes yang diadakan sekolah. Seorang teman di kelasku mengatakan bahwa ada temannya di kelas lain meraih nilai EQ tertinggi. Dalam bayanganku waktu itu, akan sangat menyenangkan menjadi teman si peraih EQ tertinggi itu. Pasti dia akan menjadi teman yang sangat baik, EQ-nya saja tinggi! Pasti dia akan menjadi teman yang pengertian, sabar, rela berkorban, dan sebagainya, yang serba baik deh pokoknya. Weleeeh, anggapan yang berlebihan…

Aku bahkan masih ingat saat pertama kali mengenali sosok manusia sang pemilik nama peraih EQ tertinggi itu. Iya sih, kami teman satu SMA, aku terkadang melihat dia, tapi awalnya aku tidak tahu siapa namanya. Aku melihat dari jendela, dia berjalan di depan barisan ruang kelas. Bersama temannya, berdua saja. Aku ingat pakaian putih abu-abunya, dan pandangannya yang lurus ke depan. Aku masih ingat!

Kesan pertama tentang dia? Syair awal lagu Nuansa Bening terasa pas untuk menggambarkannya: oh, tiada yang hebat dan mempesona, ketika kau lewat di hadapanku. Biasa saja. :P
Namun, keinginan itu terasa kuat. Pada masa itu, aku hanya bisa membayangkan nyamannya menjadi temannya, tapi tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan itu. Bahkan sampai lulus sekolah pun, aku tidak pernah barang sekali pun mengobrol dengan dia. Entahlah, rasanya aneh tiba-tiba mendekat hanya gara-gara… dia peraih EQ tertinggi di sekolah…???

Tiga tahun sejak kejadian itu, perasaan untuk mengenal dia lebih dekat kembali muncul. Aku duduk di tingkat dua kuliah, dan memiliki adik tingkat baru yang adalah teman sekelasnya di SMA dulu. Saat adik tingkatku ini mulai menyebut nama teman idamanku itu dalam ceritanya, beribu pertanyaan tiba-tiba muncul di benakku. Aku tahu, rasa penasaranku masih besar kepada dia. Tapi, menjadi temannya masih tetap sebatas wacana. Hanya ingin, dan belum menemukan cara yang terkesan wajar.

Tapi tapi tapi… Keinginan itu mendekati nyata, tiga tahun kemudian, setelah aku menemukan blognya secara tidak sengaja saat mengklik ikon next di blogku ini. Itu lho, ikon yang ada di kanan atas layar. Saat asyik mengklik-klik, aku didamparkan di sebuah blog menarik (menarik bagiku), yang sangat mengundang perhatianku karena nama blognya sama dengan nama teman idamanku itu, tapi dengan susunan terbalik.
Aku baca tulisan-tulisannya, dan ternyata itu adalah blognyaaa!!! Saat itu rasanya seperti mendapat anugerah luar biasa. Kurasa Allah telah menakdirkan aku bertemu dengannya melalui cara yang unik dan indah.

Sejak saat itulah aku mulai berani berusaha mewujudkan keinginanku: menjadi temannya, benar-benar temannya, sehingga bisa tahu seperti apa nyamannya menjadi temannya. Aku bahkan lupa dengan alasan awalku. Dengan membaca tulisan-tulisannya, aku menangkap kesan bahwa dia orang yang bersahabat dan sangat menerima pertemanan baru, dan itu membuatku lupa.

Sekarang, hampir setahun pertemanan kami. Dimulai dari saling memberi komentar di blog masing-masing, chatting, kemudian bertemu langsung, dan semakin mengenal setelah itu, lalu menjadi sahabat baik.

Kini, aku sudah menjadi temannya, bahkan teman dekat alias sahabatnya.
Apakah dia sesuai dengan bayangan awalku? Hemmm, ada sebuah kalimat bijak yang lucu: “di mata ada kotoran mata, di gigi kuning banyak kumannya”. Kurasa itu cara untuk menggambarkan seperti apa dia.

Meski demikian, untukku, dia adalah yang sahabat terbaik. Seseorang yang sangat mengerti diriku, sangat sabar menghadapiku, mampu membuatku merasa nyaman dalam segala kondisi, mampu menerima, memaafkan, dan memotivasiku untuk menjadi lebih baik. Menemukan dia seperti menemukan rumah yang sangat nyaman. Mengenali sosoknya bagai mengenali saudara kembar. Rasanya seperti sudah mengenalnya dari lama, bagai telah menjadi bagian dari hidupnya sejak dulu.

Sahabat, sebuah tulisan sudah kubuat, seperti yang selalu kau pinta selama ini. Kali ini istimewa, karena hanya tentang dirimu. Dimulai dari kelas dua SMA. Melompat ke tiga tahun kemudian. Dan kembali melompat ke tiga tahun kemudian, untuk bisa bertemu dengan mimpi sederhanaku yang menjadi nyata. Iya, aku senang melompat setiap tiga tahun untuk mengetahui perubahan yang cukup signifikan terkait mimpiku.

Lalu, menurutmu, lompatan selanjutnya, yaitu tiga tahun setelah lompatan terakhirku, aku akan sampai di titik manakah? :)

Kategori: catatanku
Ditandai: , ,

12 tanggapan so far ↓

  • hanif // 9 September, 2009 pada 12:05 am | Balas

    Aku bingung mau berkata apa…hanya saja semoga akan ada akhir yang bahagia. Kuharap segera saja dan jangan lama-lama ya :D

    fairuzdarin: Maaf ya Bud kalo berle, ini hanya coretan sekedar penjaga ingatan. Semoga doamu terkabul ya, Bud. Makasih. :)

  • Ircham // 9 September, 2009 pada 10:47 am | Balas

    Value at Risk, or VAR, is probabilistic method of measuring the potential loss in portfolio value over a given time period and for a given distribution of historical return. VAR is the Dollar percentage loss in portfolio (asset) value that will be equaled or exceeded only X percent of the time.

    Bingung mo komen apa, ya tek tulis aja Definition of VAR yang aku dapat dari modul training.

    fairuzdarin: Kok pada bingung mau komen apa to jan..
    Tolong komenmu diterangin pake bahasa yang jelas dan lugas dong, Ron. Aku ra mudheng blas…

  • samsul arifin // 9 September, 2009 pada 9:59 pm | Balas

    sebenarnya aku juga bingung mau comment apa, ren.
    ehmm, jangan tidur panjang lagi ya, ren.
    dokumentasikanlah selalu hidupmu, sahabat.

  • Batavusqu // 10 September, 2009 pada 4:54 am | Balas

    Salam Takjim
    Menulis adalah sebuah hasil karya dari tanaman mimpi, bukan mimpi sebagai buah tidur. Jadikan mimpi sebagai goresan hidup dari mimpi ada hikmah yang bisa engkau tayangkan keseluruh negeri agar paham semua rekan.
    Salam Takjim Batavusqu

    • zipoer7 // 16 September, 2009 pada 2:02 pm | Balas

      Salam Takzim
      Menulis kadang salah
      Singgah kadang tak teratur
      Inginnya melepas salah
      dengan Jarak coba ku Atur

      Minal A’idin Wal Faidzin, mohon maap lahir dan batin

      fairuzdarin: Mohon maaf lahir dan batin juga. Taqabbalallahu minna wa minkum. :)

  • zipoer7 // 10 September, 2009 pada 4:45 pm | Balas

    Salam Takzim
    Kembali kutoreh tulisanmu agar berbekas dan kau datang ntuk menoreh jua, agar menjadi sahabat.
    Salam Takzim Batavusqu

  • Nug // 24 September, 2009 pada 7:21 am | Balas

    Lama tak berkunjung..

    Selamat Idul Fitri 1430H Reni, mohon maaf lahir batin atas segala kesalahanku yaa.. :)

    fairuzdarin: Selamat Idul Fitri juga Mas Nug.. Mohon maaf lahir dan batin.
    Taqabbalallahu minna wa minkum. :)

  • Gempurr // 26 September, 2009 pada 12:45 am | Balas

    Maapin ogut yang biasa bikin seneng dan sedih ini wkkwkwk
    Ni Perkenankan Dunia Mengenal Blog Ogut yang Baru… http://www.badacinta.wordpress.com (17tahun ke atas dan bawah!)

    fairuzdarin: Maafin aku juga ya, Mas. Insya Allah nanti main ke sana. :)

  • syelviapoe3 // 27 Oktober, 2009 pada 11:29 am | Balas

    Loh…teman idaman, ya….
    hem…

  • fauziah85 // 30 Oktober, 2009 pada 5:06 pm | Balas

    Sudah pernah mendengar ini via lisan :D

  • batavusqu // 4 November, 2009 pada 4:27 pm | Balas

    Salam Takzim
    Mengujungi sahabat di sore hari dengan tetap tiada bosan berdo’a semoga engkau tetap berada dalam keranda kebahagiaan bersama keluarga tercinta
    Salam Takzim Batavusqu

    fairuzdarin: terima kasih sudah berkunjung. Semoga Anda dan keluarga juga selalu bahagia. :D

  • zipoer7 // 27 November, 2009 pada 8:51 am | Balas

    Salam Takzim
    Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta untuk Nabi Allah Ismail.
    Salam Takzim Batavusqu

Tinggalkan sebuah Komentar