“Fairuz”

Manusia Indonesia

1 April, 2009 · & Komentar

Pada akhir semester genapku di kelas tiga SMA, Bu Sri Riastuti -guru Antropologi-ku-, pernah membahas sebuah permasalahan menarik di kelas. Beliau mengupas pokok bahasan mengenai ciri-ciri manusia Indonesia. Ada satu tokoh yang pemaparannya tentang ciri-ciri tersebut diajukan acuan, yaitu Mochtar Lubis. Yang membuatku tertarik saat itu karena isi pemaparan Mochtar Lubis yang begitu lugas, tanpa tedeng aling-aling, bahkan pada awalnya aku anggap merendahkan manusia Indonesia itu sendiri.

Jadi, menurut Mochtar Lubis, ciri-ciri manusia Indonesia itu antara lain munafik, enggan bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya takhayul, berbakat seni, dan berwatak lemah. Nah, bagaimana menurut kalian pendapat beliau ini? Menyedihkan tidak? Pendapat itu diungkapkan melalui ceramahnya di Taman Ismail Marzuki yang mengangkat tema “Situasi Manusia Indonesia Kini”, pada tahun… tahun 1977 (CMIIW).

Melihat tema “Situasi Manusia Indonesia Kini”, sedangkan ceramah itu disampaikan pada tahun 1977, masih relevankah jika kita membicarakan hal tersebut pada masa sekarang? Masih saja sih. Buku-buku pelajaran Antropologi kelas tiga SMA saja masih menyinggung pendapat Mochtar Lubis itu. Mungkin pakar-pakar ilmu sosial juga masih banyak yang membahas ini.

Baca terus →

→ 5 CommentsKategori: catatanku

Pesona Kota Tua

26 Maret, 2009 · & Komentar

Aku adalah warga Jakarta.

Lho, memang kenapa Ren kalau kamu itu warga Jakarta?
Hemmm, ya tidak apa-apa sih.

Setelah sekian tahun menjadi warga Jakarta, akhirnya pada Sabtu kemarin, untuk pertama kalinya aku mengunjungi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat. Di kawasan itu terdapat banyak bangunan tua peninggalan Belanda yang menyimpan cerita Jakarta di masa lalu. Tidak afdhol rasanya jika aku sudah memiliki KTP Jakarta, tapi belum pernah sekalipun bertandang ke Kota Tua. :P

Setelah mengunjungi kawasan tersebut, timbul perasaan menyesal di dalam hatiku. Awalnya, kupikir Kota Tua itu menarik dan memberikan nuansa berbeda dari kota Jakarta di masa kini, tapi ternyata… Baca terus →

→ 24 CommentsKategori: jalan-jalanku
Ditandai: , , ,

Melebihistimewakan

18 Maret, 2009 · & Komentar

Bermula dari obrolan melalui YM pada suatu malam dengan seorang teman semasa kuliah, akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung pada pertengahan Maret kemarin. Sebenarnya aku ingin menyebut namanya disini, tapi aku tidak yakin dia akan menyukai itu. Jadi, biarlah kusimpan namanya, biarlah dia menjadi misteri (halah).

Perasaanku juga mengatakan, dia tidak akan peduli sama sekali dengan tulisan ini. Bahkan jika kuberitahukan padanya bahwa aku menulis sebuah postingan yang berisi tentangnya pun, belum tentu dia mau membacanya. Dia adalah orang yang cuek. Sangat cuek bahkan. Meski cuek, tapi dia juga adalah orang yang punya kendali atas dirinya. Hem, itu salah satu hal yang paling aku kagumi dari dirinya.

Kadang aku heran, mengapa dengan orang yang keras dan agak kasar seperti dia, aku justru bisa berbicara lebih bebas dan nyaman. Kejujurannyakah yang menjadikan aku betah dengannya? Bukankah kejujuran adalah pangkal dari kebaikan? Hem, begitu bukan sih?

Baca terus →

→ 10 CommentsKategori: catatanku
Ditandai: , ,

Angeleyes

1 Maret, 2009 · & Komentar

Sampai hari ini, aku masih ingin menemukan seseorang yang seperti tokoh fiktif favoritku, di dunia nyata. Perkenalan pertamaku dengan si fiktif itu seingatku sekitar sepuluh tahun yang lalu, di perpustakaan SLTPN 1 Karanganyar, dan sangat mengesankan, sampai-sampai aku merasa dia memang benar-benar ada. Bani namanya, dan tidak benar-benar ada tentu saja, dia hanya hidup dalam novel “Segitiga Lepas Kaki”, karya Gus tf Sakai.

Ada yang pernah membaca novel itu? Novel remaja sih, tapi menurutku dia jauh berbeda dengan kebanyakan novel remaja yang cenderung ringan dan mudah ditebak. Sang penulis novel memiliki kemampuan meramu cerita yang luar biasa, mengajak pembaca untuk larut, ingin tahu, menebak-nebak, merenungi kisah, dan selanjutnya terpukau. Bahasanya puitis. Gus tf Sakai sendiri selain seorang cerpenis dan novelis, juga adalah seorang penyair.

Sangat sulit untuk bisa berjumpa dengan seseorang yang seperti Bani. Kurasa, jauh lebih mudah mencari pangeran berkuda putih yang bersiap untuk menjemput putri di atas menara daripada menemukan dia. Kepribadiannya unik. Secara fisik, dia lebih istimewa lagi: seorang pemuda dengan mata yang menarik, sangat menarik, seperti seseorang yang ada di dalam lagu Angel Eyes-nya ABBA.

Baca terus →

→ 15 CommentsKategori: Tak Berkategori
Ditandai: , , , ,

Cinta Seperti Molekul Sabun

23 Februari, 2009 · & Komentar

Seperti apakah bentuk molekul sabun? Aku sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung, tetapi kata buku “Einsten Aja Gak Tahu!” karya Robert L. Wolke, molekul sabun berbentuk panjang dan tipis. Aku sendiri membayangkannya berbentuk seperti komet. Benar tidak?

Di ujung molekul sabun terdapat sepasang atom yang muatan listriknya hanya senang bergaul dengan molekul-molekul air. Anggaplah dia sebagai kepala molekul. Karena ketertarikan yang kuat dari kepala molekul sabun terhadap molekul air, sabun menjadi larut dalam air. Berbeda dengan kepalanya, si badan molekul sabun yang panjang memiliki struktur yang sama dengan molekul minyak. Itulah sebabnya mengapa si badan justru suka berakrab-akrab ria dengan molekul minyak daripada dengan air.

Ketika sabun bersua dengan air, kepala molekul sabun akan segera menempel pada molekul air. Sabun pun larut dalam keakraban bersamanya. Jika kemudian saat dalam perjalanan mengarungi dunia tiba-tiba si molekul sabun berjumpa dengan molekul minyak (misal pada tangan yang baru saja kita gunakan untuk memegang pisang goreng), maka badan molekul sabun akan merangkul si minyak tersebut, mengikatnya dengan erat. Apa akibatnya? Yah, akhirnya minyak dipaksa bergabung bersama air, dan kemudian dibawa mengalir bersamanya. Dan tangan kita pun terbebas dari minyak.

Lalu, apa hubungannya cinta dengan molekul sabun?

Baca terus →

→ 12 CommentsKategori: Tak Berkategori

Hiburan Istimewa

17 Februari, 2009 · & Komentar

Seorang teman pernah berucap padaku, “Kulitmu akan bersentuhan langsung dengan air hujan. Keras, seperti batu-batu kecil, Ren.”

Dia mengatakannya sekitar setahun yang lalu, ketika aku meminta nasihatnya tentang pilihanku untuk berpindah dari Tije (Trans Jakarta) ke kendaraan pribadi (baca: motor). Banyak pesan yang ia sampaikan padaku. Sedikit banyak, dia telah menambah kepercayaan diriku untuk menghadapi jalanan Jakarta yang pada awalnya tampak begitu menyeramkan buatku, sekaligus memunculkan rasa bersalahku karena sudah ikut menyumbang polusi di ibukota.

Salah satu hal yang sering ia singgung adalah tentang hujan. Hujan sehari saja sudah bisa menenggelamkan Jakarta dalam genangan banjir. Aku harus hati-hati dengan itu. Dan hujan tak sendiri, dia punya teman: guntur yang menggelegar dan kilat yang menyambar-nyambar. Temanku berusaha membuat diriku yakin dengan pilihanku, sebelum aku benar-benar memutuskan.

Baca terus →

→ 11 CommentsKategori: catatanku
Ditandai: , , , ,