Saat masih jadi mahasiswi di Bintaro sana, aku punya makanan kesukaan, namanya: roti reni. Tempat yang menjualnya cuma ada satu, namanya: Harmoni. Makanan serupa banyak ditemukan di tempat selain Harmoni sih, tapi kalau tidak dijual Harmoni namanya jadi bukan roti reni.
Roti reni mirip dengan bagelen, nama roti kering khas Bandung. Meskipun hampir sama, tapi sepertinya alasan pembuatan kedua makanan itu jauh berbeda. Berdasarkan penerawanganku, roti reni dibuat sebagai salah satu upaya untuk memanfaatkan roti sisa. Nah, bagelen tidak dibuat dengan alasan ini, kan?
Hari ini, aku sudah beberapa kali bertemu cermin. Herannya, saat melihat wajah sendiri, tiba-tiba muncul rasa geregetan. Rasanya gathik pada orang yang ada di cermin itu. Ya gathik pada diriku sendiri itu…
Terbit rasa penyesalan, mengapa aku tidak begini, mengapa aku tidak begitu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mungkin selama beberapa hari ke depan, aku akan gathik-gathik sendiri. Semoga perasaan ini tidak berimbas pada hal-hal lain di sekitarku.
Ada beberapa peristiwa yang sering melintas di pikiranku sedari tadi tiap menatap cermin. Satu kejadian sudah berlangsung sepuluh hari yang lalu, tapi puncak ke-gathik-anku justru baru terasa hari ini.
Kronologis kejadian…
Alkisah, pada pertengahan tahun 2006 terdapat enam anak manusia yang memutuskan untuk tinggal bersama dalam sebuah rumah di Jalan Sejahtera Nomor A16/9 (A16/9 atau A16/8 ya??) Pondok Jurang Mangu Indah, Pondok Aren.
Namanya Siti, Reni, Riris, Tomi, Midah, Lala… (nama diurut dari yang paling tua, hehe)
Kala itu mereka masih terdaftar sebagai mahasiswi sebuah sekolah tinggi yang kampusnya tak jauh dari situ.
Manis, harmonis, kompak, dan selalu penuh canda…
Semua bisa masak, semua bisa menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika…
Tapi tidak semua berani menghadapi tikus! (aah, Big Cindy El dan Li’l Chindy El, lama kali kita tak jumpa…)
Jadi begini ceritanya…
Aku jadi anak kos.
Lalu ribut-ribut sendiri: bikin status di FB lah, bikin pengumuman di blog lah (termasuk postingan ini), mengajak teman-teman untuk main lah, dan lain-lain, padahal cuma menjadi anak kos. Dan, padahal aku sudah pernah menjadi anak kos, jadi itu bukan suatu hal baru buatku.
Tapi, berhubung aku merasa ini adalah sebuah masa transisi dalam hidupku -dari anak yang agak mandiri menjadi anak yang lebih mandiri-, dan ada istilah mendokumentasikan hidup, dan ternyata menuliskan kisah sendiri lebih mudah buatku daripada menuliskan kisah orang lain, ya sudah, jadilah aku ribut-ribut sendiri.
Pagi menjelang siang, berangkat ke LTQ JI di Johar Baru IV dengan bus TransJakarta jalur PGC-Ancol, yang banyak kutemui adalah anak-anak kecil bersama orang tua mereka. Suasananya ramai, lebih ramai dari akhir pekan biasanya, mungkin karena ini adalah akhir pekan yang panjang alias long weekend. Kemana tujuan mereka mudah ditebak, hampir bisa dipastikan pergi ke Ancol.
Karena saat itu tidak mendapat tempat duduk sehingga jadi tidak bisa tidur (aktivitas yang paling sering dan paling suka kulakukan sewaktu berada di dalam bus), akhirnya yang aku lakukan adalah mengamati para penumpang lain yang bersamaku di dalam bus. Yang paling menarik adalah anak-anak kecil lucu yang terlihat senang sekali naik bus TransJakarta.

